 |
| Foto: Google |
Kepercayaan itu bagaikan pisau, ada sisi yang benar-benar tajam ada pula
sisi yang tidak tajam sama sekali. Kita tinggal menunggu saja akan
mendapat yang mana, sisi yang tajam atau sisi yang tidak tajam.
Percaya pada orang tidak lah mudah begitu pula menjadikan orang lain
percaya pada kita. Kepercayaan yang telah diusahakan oleh seseorang bisa
seketika hilang begitu saja, bagaikan sisi tajam pisau yang memotong
sesuatu begitu cepat.
Padahal butuh lama untuk membuat orang lain percaya pada kita, sama juga
seperti pisau yang butuh proses lama untuk menciptakan sebuah pisau
yang benar-benar baik. Jika pisau itu sudah jadi pun kita tinggal
memilih saja ingin menggunakan sisi yang tajam yang bisa menyakiti atau
sisi yang tumpul.
Begitu pula kepercayaan, jika kita sudah bisa membuat seseorang percaya
pada kita, kita bisa memilih ingin menghilangkan kepercayaan itu dengan
cepat dengan berbohong atau ingin mempertahankan kepercayaan itu.
Kepercayaan yang sudah kita dapat jika kita ingin menghilangkan
kepercayaan itu dengan cepat tentu sangat mudah sekali, berbohong saja
lah maka kepercayaan itu akan hilang. Untuk mengembalikan kepercayaan
itu pun bukan perkara mudah, sangat sulit untuk mengembalikan
kepercayaan yang sudah ternoda oleh kebohongan.
Sama seperti pisau, jika kita menggunakan sisi tajam untuk melukai
seseorang maka luka itu akan membekas dan sulit hilang bahkan selamanya
tidak akan hilang.
Dalam urusan percintaan, kepercayaan merupakan suatu hal yang sangat
penting bila ingin menjaga suatu hubungan. jika sudah tidak ada
kepercayaan satu sama lain maka yang ada hanya rasa curiga dan itu akan
menyiksa kita sendiri bagaikan hati kita terus tersayat-sayat pisau yang
tidak ada habisnya.
Kita juga jangan mudah begitu saja percaya pada orang, jangan sampai
kita terluka karena kita terlalu mudah percaya pada orang. Jangan sampai
pisau kepercayaan itu melukai kita karena itu akan sangat menyakitkan.
Jangan juga kita mudah percaya pada orang yang lebih tua maupun orang
yang lebih berpengalaman. Tetap berhati-hati dalam menaruh kepercayaan
pada seseorang walaupun itu orang yang dihormati sekalipun.
Orang yang terhormat, orang yang berkuasa, serta orang yang
berpengalaman tidak harus selalu kita percaya. Lihat saja para
orang-orang berkuasa dan terhormat di negeri ini yang ternyata tidak
bisa dipercaya, mereka korupsi dengan cara-cara "cerdas" dan licik
mereka.
Satu-satu nya yang harus kita percayai dan wajib kita percayai adalah
Tuhan. Selebihnya kita harus berhati-hati jika ingin percaya pada
seseorang.
Orang yang sudah kita percaya lama pun seperti misalnya seorang sahabat
yang sudah bertahun-tahun kita kenal bisa mengkhianati kita. Kita bisa
terluka seperti saat kita terkena pisau jika kita terlalu nyaman dalam
percaya kepada seseorang.
Jangan pernah kita main-main dengan sebuah pisau yang sangat tajam
karena itu akan bisa melukai kita dan begitu pula dengan kepercayaan ,
jangan kita bermain-main dengan yang namanya kepercayaan jika tidak
ingin terluka. ***
.
Judulnya terlalu menyesatkan ya? Tapi sebenarnya bukan seperti itu, suer ! :-D
Kalau diharap2 justru lewat begitu saja (seperti angin lalu) begitulah setiap mengikuti RAT (baca: rapat anggota tahunan) hati kecil selalu mengharap hadiah2 doorprize yg disediakan panitia, hasilnya justru kekecewaan, "Sialan, lewat,!" begitulah gerutuan disetiap waktu, (maaf keyboard titiknya mati jadi pakai koma aja ya), Semenjak RAT digelar di Jakarta (doeloe nginduk ke Ditlin, Pasar Minggu) sampai memisahkan diri ke Jatisari, yg namanya "gratisan" ga pernah dapet, mungkin aq dilahirkan memang untuk membeli bukan untuk mendapatkan yg "gretongan", (sombong kalee, :-P),
Ya, begitulah, sampai pada titik yang paling nadir (mencoba mendramatisir), ternyata rezeki itu tdk usah dikejar-kejar, kata ortu bilang : "Kalau dah rezeki, tidak akan lari kemana,"
"Berdo'alah, mau dapet syukur, ga dapet ya belum saatnya", begitulah, ternyata menjadi terasa ringan di hati tdk menjadikan suatu beban, tidak membuat kecewa diri sendiri,
Siap2 pasang jurus cuek pada saat menghadiri RAT, denger seperlunya, duduk manis sembari "ngantuk", menikmati hidangan ala kadarnya dan musik yang ala kadarnya pula (maklum ga ada DJnya jadi asal bunyi), Dangdut koplo "Oplosan" menghentak-hentak meningkahi acara doorprize, mirip pasar malam, Suer !
Ternyata, oh ternyata, singkat cerita biar ga bertele-tele, malaikat rupanya mendengar dan lewat "tangan tuhan" namaku muncul sebagai pemenang dan berhak mendapatkan hadiah "ala kadarnya" sebuah ponsel buatan cina (Asiafone 7997), Lumayan,,,,,! Disaat cuek Tuhan memberiku Rezeki?
Kesimpulannya bahwa Rezeki itu ibarat burung merpati (Jinak2 Burung Merpati) semakin didekati semakin menjauh tapi kalau dicuekin malah mendekat? Betulkah?
Mungkin Tuhan telah memberikan ujian kepada umatnya yg labil ekonomi, seperti saya, bahwa do'a disertai pasrah diri pasti akan di dengar, tinggal masalah waktu (cepat or lambat),
Hal serupa dialami temanku, dia selalu berdoa agar hadiah2 kecil berlalu, giliran hadiah2 "kakap" dia khusyuk berdoa agar salah satunya (TV, Kulkas, Motor (cuma businya) dapet nyangkut, lucu ya minta rezeki kok pilih2, hasilnya adalah lewat semuaaa,,,,,
Apa yg terjadi? Kekecewaan yg terjadi, muncul gerutuan, bukankah gerutuan awal suatu penyakit? (penyakit hati) bukan lever lho? :-D
Kata kuncinya adalah "Rezeki di tangan Allah"
Inilah buktinya :
Allah SWT. berfirman :
“Dan di langit ada (sebab-sebab) rizki kamu, juga apa saja yang telah dijanjikan kepada kalian. Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s. Adh-Dhâriyât; 22-23).
(Copaz dari : http://ayat1000dinar.blogspot.com)
Renungkanlah!!!
,