Untung Tanpa Pamrih
14.47 | Author: Urip SR
Tak banyak orang yang mampu tetap teguh bersusah payah membaktikan diri dan berkorban untuk orang lain secara konsisten tanpa pamrih.  Bergulat dengan lumpur sawah, menenteng alat semprot, mengamankan hamparan sawah kelompok tani agar sawahnya terbebas dari serangan OPT.  Yah,  tanpa pamrih demi melihat kelompok taninya berhasil panen.  Itulah sosok Untung Suharjo (45) seorang petani yang tergabung dalam Regu Perlindungan Tanaman (RPT) dari Giripeni, Wates, Kulon Progo.
Bersama 10 orang temannya ia mendirikan RPT “Martani” yang wilayah tugasnya meliputi Kulon Progo Selatan (Kec. Panjatan, Wates, dan sekitarnya).
Melalui RPT “Martani” ia ikut membantu petani lainnya dalam menghadapi daerah sumber serangan dan eksplosi hama-penyakit.  Ia juga ikut mengkoordinasikan pengendalian OPT antara Brigade Proteksi Tanaman, POPT dan instansi terkait.
Dibawah bimbingan dari LPHP Bantul, RPT “Martani” melakukan kegiatan pengendalian khususnya pada daerah-daerah endemis OPT.  Selain itu ia juga memotivasi dan menggerakkan petani dalam melaksanakan perlindungan tanaman secara cepat, tepat dan serempak.
    Menurut Untung yang terpenting adalah menerapkan prinsip-prinsip pengendalian OPT dengan baik sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
    Memakai baju seragam RPT, ia bersemangat tatkala diajak berbicara mengenai ekosistem sawah, maklum saja ia juga sebagai petani pemandu di kelompoknya.  Untung bertekad untuk tidak pernah berhenti belajar dan berbagi, setidaknya berbagi untuk  kelompoknya dan kelompok tani lainnya disekitar Kulon Progo.
“Saat ini ada tiga RPT di Kab. Kulon Progo, masing-masing RPT berkekuatan 10 personil, jadi ada 30 personil yang terbagi di Kulon Progo Selatan, Utara dan Tengah,” jelas      Untung.
    Tak berhenti hanya disitu Untung Suharjo juga aktif sebagai pengurus umum RPT Provinsi DI. Yogyakarta.
Kreatifitas Untung tak hanya sebagai Regu Perlindungan Tanaman di Kulon Progo saja.  Pria bertubuh tegap ini aktif sebagai petani pengamat dan petani pemandu bagi kelompok tani di daerahnya.  Saat ditemui ia bersama teman-temannya berseragam lengkap ikut menyemarakkan acara lomba BP3K se Provinsi DIY di Kec. Nanggulan, Kulon Progo.  Baginya menularkan ilmu serta pengalaman hidupnya sebagai petani pemandu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dari apapun.  Memang tak banyak orang seperti Untung yang mampu tetap teguh bersusah payah membaktikan diri dan berkorban untuk orang lain secara konsisten dan tanpa pamrih. (USR)***

Ibu Kholipah Perintis Lingkungan (Foto: Urip SR)
Perjuangan seseorang terkadang mengalami perjuangan yang cukup berat bahkan terkadang banyak sekali cibiran masyarakat tentang upaya yang sedang di gelutinya, bagi orang awam mungkin mustahil tetapi bagi yang sedang berjuang tidak ada kata mustahil sebelum apa yang diperjuangkannya membuahkan hasil.
Seperti perjuangan Ibu Cholifah pada saat pertama kali berkiprah sebagai petani alumnus SLPHT tahun 1997, ibu dari dua orang anak ini mencoba mempraktekan ilmunya seperti memberbanyak parasitoid Trichogramma sp, sebagai parasit telur hama padi penggerek batang padi (Scirpophaga sp), dengan tekad ingin memenuhi kebutuhan sendiri bagi sawahnya agar tidak tergantung oleh pestisida dan pupuk pabrikan.  Cholifah dengan mendapat dukungan dari suaminya berhasil mengembangkan parasitoid Trichogramma sp dan membuat pupuk organik padat untuk memenuhi kebutuhan sendiri bagi lahan sawahnya yang hanya seluas 0,5 hektar. (Bersambung)...
.
Kegiatan PPAH Tani Makmur (Foto: Urip SR)
Pusat Pelayanan Agens Hayati (PPAH) Tani Makmur yang diketuai Cholifah, warga Desa Kedungringin, Beji cukup menarik perhatian untuk diliput sebagai bahan motivasi bagi kelompok tani maupun PPAH lainnya. Untuk itu Majalah Peramalan OPT Jatisari tertarik pada profil PPAH Tani Makmur yang memproduksi dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya maupun untuk disebarkan melalui kelompok tani yang lainnya seputar Jawa Timur, produksinya antara lain pupuk organik cair bermerek BOCA, Agens Hayati Verticillium sp, Pias Trichogramma sp, dan PGPR. BBPOPT Jatisari melakukan peliputan dalam rangka pencarian bahan publikasi untuk konsultasi ke instansi terkait dalam rangka penerbitan Majalah Peramalan OPT edisi II tahun 2013 untuk rubrik “Kolom Petani”.
Rencana mengunjungi PPAH Tani Makmur di Desa Kedungringin, Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini ketika melihat tayangan yang disiarkan oleh TV Swasta Nasional Trans7 pada tanggal 3 Mei 2013 pada acara bertajuk “Merajut Asa”, bermula dari sinilah tim liputan Majalah Peramalan meluncur ke Pasuruan.  Merajut Asa adalah sebuah program acara reality show yang mengangkat kisah-kisah masyarakat kecil dan mereka-mereka yang kerap mengalami berbagai permasalahan dalam hidupnya. Permasalahan yang ada tidak lantas membuat mereka menyerah untuk mengatasinya, bahkan mereka menjadi penggerak bagi lingkungan disekitarnya.  Seperti sosok Cholifah peraih Kalpataru 2010 sebagai perintis lingkungan hidup melalui karyanya berupa Perbanyakan parasitoid Trichogramma sp untuk mengendalikan hama penggerek batang padi, penyuplai agens hayati Beauveria sp, Metarizhium, Coynebacterium, dan pupuk organic padat maupun cair.  Ibu merupakan sosok problem solving dalam budidaya pertanian ramah lingkungan.
    Sejak program nasional SL-PHT pada tahun 1989 banyak sekali mencetak professor-profesor andal di lapangan, salah satunya adalah seorang ibu dari desa Kedungringin, alumnus SLPHT tahun 1997 ini merupakan sosok ibu rumah tangga yang gigih dalam menerapkan ilmu bercocok tanam yang ramah lingkungan.
Konsep PHT yang ia terapkan di lahan sawahnya sejak 1997 telah menghantarkan sosok Cholifah menuju Istana Negara untuk menerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan Hidup pada tahun 2010.  Ibu rumah tangga kelahiran 10 Agustus 1968 ini sarat dengan berbagai prestasi, beberapa penghargaan berjejer rapi didinding rumahnya yang sekaligus sebagai tempat pelatihan bagi para petani.
Sederet penghargaan itu antara lain :
1.    Perintis Lingkungan Hidup 2002 oleh Gubernur Jawa Timur.
2.    Petani SLPHT Terbaik tk nasional 2006 oleh Presiden SBY.
3.    Petani Teladan Tingkat Nasional 2007 oleh Presiden SBY.
4.    Penyelaman Lingkungan 2008 oleh Gubernur Jawa Timur.
5.    Kalpataru kategori Perintis Lingkungan Hidup 2012 oleh Presiden SBY.
6.    Kartini Award 2011 oleh Ibu Ani Yudhoyono.
Dan seringkali menjadi narasumber pada berbagai seminar yang diselenggarakan oleh lembaga Pemerintah maupun swasta.  Keberhasilan PPAH Tani Makmur dalam mengembangkan agens hayati akhirnya mengantarkan kelompok tani ini menjadi Pusat Pelatihan Pertanian dan Peternakan Swadaya (P4S) Kab. Pasuruan.(USR)***
Liputan 21-23 Mei 2013.
Berkelok-kelok jalan menuju kawasan dataran tinggi Dieng, dinginnya hawa Dieng Plateau serta hijaunya hamparan bertingkat lahan tanaman kentang menjadi saksi abadi kiprah yang dijalankan petani di wilayah ini. Dari sinilah, profil kelompok tani yang profesional bermula. Kelompok Tani "Perkasa" demikian nama kelompok usaha tani yang didirikan sejak tahun 2005 di desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.
Keberhasilan KT "Perkasa" sangat didukung oleh SDM yang terpelajar dan muda-muda, banyak petani yang berpredikat sarjana sehingga sangat mudah dalam "Tranfer Teknologi".
Namun semuanya itu tidak terlepas dari sosok "Sang Motivator" yang selalu memberikan spirit bagi KT Perkasa.

Siapakah Sang Motivator tersebut..???

Tidak bermaksud mengecilkan peran serta anggota yang lain. Ialah Bambang Riyadi (44) bapak 3 putra yang bertekad merubah paradigma yang melekat pada petani kita yang selama ini dicitrakan sebagai petani yang miskin, bodoh dan kotor. Maka ia bertekad untuk merubah image yang selama ini melekat. Petani harus kaya, pinter dan bersih. Jadi petani itu, baik petani tanaman pangan maupun hortikultura harus kaya, pinter dan bersih. Harapan itu tidak muluk-muluk karena sekarang, ia dan anggota KT Perkasa tengah bangkit merintis ke arah yang dicita-citakan itu.
Seperti yang diungkapkan kepada penulis, bahwa hal utama dalam melakukan agribisnis adalah "keberanian berbuat atau melakukan sesuatu". Demikian pula halnya Mas Bambang begitu sapaan akrab lelaki asal Dieng Kulon, tanpa berpikir terlalu rumit, berbagai pelatihan ia serap demi kemajuan KT Perkasa, tentu yang berhubungan dengan tanaman kentang.
Berbagai nama agens hayati ia paham dan dikuasai seperti Mycoriza, Verticillium, Trichoderma dan PGPR.
Jalan hidup dipilihnya sebagai petani kentang sejati, ia terjun langsung dalam kegiatan usaha tani kentang di kampung halamannya. Beberapa petani muda di kawasan dieng pun diajaknya bergabung dalam KT Perkasa. Kalimat Perkasa bukan tanpa makna tetapi mempunyai arti Pertanian Kami Selaras Alam hal ini sesuai dengan visi dan misi KT yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dalam pengendalian OPT lebih mengutamakan pengendalian dengan agens hayati sesuai prinsip pengendalian hama terpadu (PHT).
Menurut Bambang, suka tidak suka petani dieng sudah hidup berdampingan dengan hama cacing emas/Nematoda Sista Kuning (NSK) Globodera rostochiensis, sehingga kita harus berpikir cerdas bagaimana caranya agar bisa meminimalisir serangan cacing emas terhadap tanaman kentang. Ancaman serangan cacing emas sudah sangat serius apabila tidak ditangani dengan baik maka tidak mustahil produksi kentang di wilayah dieng akan selalu menurun setiap kali panen.
Saat ini produksi kentang di wilayah dieng rata-rata hanya 16 ton per hektar itupun sudah dilakukan dengan aplikasi pengendalian, kalau tidak dilakukan aplikasi hanya menghasilkan 5- 10 ton per hektar. Coba bandingkan dengan waktu dulu sebelum NSK masuk ke wilayah ini, petani dieng mampu menghasilkan kentang rata-rata 25-30 ton per hektar.
Betapa sangat serius ancaman hama NSK ini...!!!
Maka upaya antisipasi pengendalian NSK terus dilakukan dengan berbagai metode, seperti upaya mem-bera-kan lahan, rotasi tanaman, melakukan survey lebih detail untuk memastikan daerah sebar dan pemetaan NSK. Selain itu juga dilakukan pemberdayaan petani yang antara lain melalui penyuluhan, penyebaran informasi, kursus SLPHT, dan penelitian/kajian pengendalian NSK bekerjasama dengan perguruan tinggi maupun istansi pemerintah.
Diakhir obrolan, Bambang atas nama kelompok tani Perkasa berharap melalui kajian yang tengah dilakukan pihak perguruan tinggi maupun instansi pemerintah tidak hanya sesaat tetapi berkelanjutan sampai ditemukan teknologi pengendalian yang tepat untuk Cacing Emas atau NSK sehingga petani betul-betul terbantu dalam memecahkan masalah hama utama pada tanaman kentang ini.
Semoga.!!! (USR)***

Ucapan terima kasih kepada semua anggota Kelompok Tani Perkasa
Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Banjarnegara.
Terutama Mas Bambang Riyadi dan Keluarga.
.
SEKILAS PROFIL MPTHI
06.11 | Author: Urip SR
Lebih dekat Mengenal Organisasi Profesi Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia (MPTHI)
Tanggung jawab perlindungan tumbuhan dan hewan semakin berat seiring dengan perubahan lingkungan strategis di era perdagangan global dan otonomi daerah yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap keberhasilan pembangunan pertanian. Dalam memasuki era perdagangan global dengan persaingan yang sangat kekat perlu terus dilakukan berbagai upaya untuk menunjang pembangunan sektor pertanian terutama dalam bidang perlindungan tumbuhan dan hewan.

MPTHI yang dideklarasikan pada tanggal 8 September 2003 merupakan suatu wadah organisasi profesi yang dapat mengaktualisasikan peran masyarakat perlindungan tumbuhan dan hewan. Dalam arti luas MPTHI tidak hanya mewadahi masyarakat perlindungan tumbuhan dan hewan tetapi diharapkan juga dapat mewadahi perlindungan hutan dan perikanan.

MPTHI merupakan partner pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan tumbuhan dan hewan, sehingga pembangunan pertanian dapat bersinergi di semua subsektor. Peran MPTHI harus diaktualisasikan melalui implementasi pemikiran dan kegiatan sebagai salah satu alternatif dalam mensosialisasikan pembangunan pertanian melalui bidang perlindungan tumbuhan dan hewan.

Koordinasi dan sinkronisasi pembangunan di bidang perlindungan tumbuhan dan hewan dilakukan baik secara vertikal maupun horizontal. Kerjasama semua stake holder terkait dalam mewujudkan sinergi yang optimal sangat diharapkan bagi keberhasilan pembangunan pertanian.
Dalam Pertemuan Nasional Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia diharapkan dapat mempertemukan seluruh stake holder/pemangku kepentingan terkait untuk saling bertukar informasi tentang arah kebijakan, perkembangan teknologi, antisipasi dan pemecahan permasalahan, dan berbagai isu strategis terkini di bidang perlindungan tumbuhan dan hewan.

Tujuan dan sasaran

Membangun wadah bagi seluruh stake holder/pemangku kepentingan di bidang perlindungan tumbuhan dan hewan untuk saling bertukar pikiran dan bertukar informasi tentang arah kebijakan, perkembangan teknologi, pasar dan peraturan, antisipasi dan pemecahan masalah, dan berbagai isu strategis terkini di bidang perlindungan tumbuhan dan hewan. Dan sasarannya adalah:
- Tersosialisasinya kebijakan dan peraturan tentang perlindungan tumbuhan dan hewan.
- Terwujudnya persamaan persepsi diantara pemangku kepentingan perlindungan tumbuhan dan
hewan dalam menghadapi era pasar global
- Terdiseminasinya teknologi perlindungan tumbuhan dan hewan.
- Terbangunnya jejaring kerja diantara pemangku kepentingan yang efektif dan efisien.

Dalam melaksanakan Munas MPTHI sudah memasuki tahun keenam, tempat dan tahun penyelenggaraan sbb:

Munas I 2003 di Solo
Munas II 2004 di Yogyakarta
Munas III 2005 di Malang
Munas IV 2006 di Bandung
Munas V 2007 di Maros, Sulawesi Selatan
Munas VI 2008 di Bantul, Yogyakarta
Munas VII 2009 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Munas VIII 2010 Nusa Te
nggara Barat
Munas IX 2011 Palembang.

Munas X 2012 Palu Sulawesi Tengah
Munas XI 2013 Samarinda, Kalimantan Timur
Munas XII 2014 Solo, Jawa Tengah

Itulah sekilas profil organisasi profesi MPTHI yang ikut berkiprah dalam mendukung pembangunan pertanian di Indonesia.
KELOMPOK TANI "WARGI MUKTI"
07.40 | Author: Urip SR
Profil Kelompok Tani Wargi Mukti Desa Sukamerta Kec. Rawamerta

Karawang (10/12/2008) Penguatan petani melalui penumbuhan kelembagaan, merupakan hal yang tepat dan layak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Muaranya adalah penguatan posisi tawar dan peningkatan pendapatan petani.
Kelompok Tani “Wargi Mukti” memang bukan hanya sebatas nama. Tetapi merupakan wadah tempat berpadunya kesadaran yang tumbuh dari bawah (petani) untuk bersatu dan bekerja keras meraih sejahtera. Kita telah berada di era globalisasi.
Dan “pemberdayaan” memang sebuah kata yang manis, meski keberhasilan upaya tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Setumpuk harapan untuk memperkuat posisi tawar dan peningkatan kesejahteraan, harus terus kita kembangkan secara mandiri. Bersatu, bekerjasama dan saling membantu, akan membuat kita kuat.
Mampukah KT Wargi Mukti menjadi salah satu aset pembangunan SDM pertanian di Karawang atau bahkan nasional? Inilah tantangan sang ketua dan anggota KT wargi mukti, ditangan H. Umar Syahid (42), harapan ini akan diraih meskipun jalan itu masih terlalu panjang, sebagai ketua kelompok tani WARGI MUKTI yang baru berdiri pada bulan Agustus 2008, ia menyadari betul bahwa masih membutuhkan bimbingan teknis dari para aparat di lapangan (PPL dan POPT) kelompok tani ini memproklamirkan diri sebagai kelompok tani semi organik (secara bertahap menuju organik) karena untuk 100% organik belum siap prasarananya. Sebagai kelompok tani rintisan tentu banyak kendala yang dihadapi, baik dari perseorangan maupun dari kelompok. Secara administrasi kelompok tani ini berdiri dilingkungan pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal yang dikelola oleh Yayasan Annihiyah, pengelolaan lahan yang menjadi tanggung jawab kelompok tani wargi mukti meliputi luas: 40 Ha lahan sawah milik keluarga pesantren, 50 Ha lahan sawah milik masyarakat, dan 25 Ha lahan sawah milik orang tua wali murid.
Kelompok tani wargi mukti mempunyai laboratorium lapang seluas 6x6 m sebagai tempat percobaan perbanyakan agens hayati dan bahan pengendali OPT alami serta pembuatan kompos jerami untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Beberapa agens hayati yang sudah diperbanyak disini antara lain Corynebacterium, Pseudomonas fluorescens (PF), Beauveria bassiana, Metarrhizium sp, dan pestisida nabati.
Pak Haji Umar Syahid sendiri mengelola lahan seluas 2,8 ha yang ditanami padi secara semi organik dengan tanam bibit sebatang. Pemupukan organik menggunakan kompos jerami sebanyak 3 ton hasil dari rumah kompos yang dikelola bersama kelompok taninya.
Untuk sementara kebutuhan kompos hanya untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya namun tidak mustahil suatu saat bersama binaannya akan mampu menghasilkan kompos untuk seluruh anggotanya. Menurut pak haji sudah saatnya kita mengurangi ketergantungan akan pupuk anorganik (pupuk pabrikan). Ini akan dilakukan pada kelompoknya terlebih dahulu. Awal mula ketertarikan pak haji terhadap pertanian organik dimulai dari hobinya membaca literatur mengenai padi organik, keyakinan itu bertambah tebal manakala pak haji mendapat kesempatan menimba ilmu organik menjadi peserta magang di Ciamis yang diselenggarakan oleh IPPHTI.
Tekad pak haji ingin merubah image kota Karawang sebagai kota yang terkenal akan “Goyang Karawang” yang berkonotasi negatif menjadi kota lumbung padi organik.
Harapan itu tidaklah berlebihan apabila mulai dari kelompoknya berusaha keras mewujudkan keinginannya yang luhur. Selama ini hasil padinya per hektar 6 ton dengan modal 10 juta, dan hasilnya 12,5 juta, jadi ia hanya mendapatkan keuntungan cuma 2,5 juta selama satu musim tanam. Keuntungan yang sangat minim yang tidak sesuai dengan jerih payahnya. Dalam perenungannya pak haji tidak menyerah begitu saja, ia memutar otak bagaimana caranya memenuhi kebutuhan pupuk sendiri tanpa 100% tergantung pada pupuk pabrikan dan kalau bisa mengurangi biaya produksi tetapi hasilnya tidak berkurang. Ia menyadari betul bahwa apabila bertani padi organik tidak serta merta hasilnya akan naik tetapi selama tahun ketiga hasilnya akan menurun tetapi lambat laun akan naik produksinya karena kondisi tanah yang kembali subur secara alami, kondisi tanahnya sehat produksinya ramah lingkungan, begitu ia berharap.
Ngobrol bersama pak Haji sungguh mengasyikan dan termasuk orang yang jeli, menurut pak haji di sawah sebenarnya sehabis panen sudah tersedia pupuk dalam bentuk jerami. Dalam satu hektar panen sawah akan meninggalkan kurang lebih 15 ton jerami. Menurut penelitian dalam setiap ton jerami jika diolah akan memberikan pupuk setara dengan 23,5 kg urea, artinya setiap panen sawah sudah menyediakan 15 tonX23,5 kg urea = 362,5 kg urea. Pengolahan tidak susah, cukup menggunakan Trichoderma agens hayati multiguna karena selain mempercepat proses pelapukan sehingga efektif untuk pembuatan pupuk bokhasi selain itu juga berfungsi sebagai musuh alami cendawan-cendawan penyakit tanaman. Untuk itu pak Haji berterima kasih kepada Bu Lilik dan kawan-kawan yang mengajarkan cara memperbanyak Trichoderma sp. (Maksudnya Ir. Lilik Retnowati, Cahyadi Irwan, Wahyudin).
Diakhir obrolannya pak haji memberikan slogan ”Padinya Organik, Petaninya Enerjik, Obatnya Generik” entah apa maksudnya tetapi kalau diterjemahkan barangkali seperti ini, bahwa padi yang dihasilkan organik bebas pestisida menjadi makanan sehat sehingga tubuh petaninya menjadi enerjik, kuat, dan pengobatannya generik artinya biaya pengendalian OPTnya murah karena membuat ramuan pestisida nabati sendiri.
Begitulah kira-kira...!

Ucapan terima kasih kepada Tim Surveilans: Lilik Retnowati, Cahyadi Irwan, H. Wahyudin dan Tim Supervisi Pina. Tak lupa POPT Bpk Ahmad Nurdin dan Pak Endoh yang punya wilayah, serta untuk Pak Haji Umar selamat berjuang dan berkarya....
AWAL MULA AKU MENGENAL WEB
06.36 | Author: Urip SR
Sebuah wujud keinginan untuk pencitraan diri dalam pencarian identitas.

”Pentingnya menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, spesifik, dan sedikit bombastis, akan menjadikan eksistensi keahlian kita bisa terlihat dengan jelas di dunia maya. Perlunya menunjukkan diri pada dunia bahwa secara individu kita bisa memberi, dan secara jejaring kita bisa berbagi. Menuliskan banyak hal dalam blog adalah proses memberi dan berbagi, dan saat itulah kita membangun citra diri.”

Penggalan kalimat tersebut diatas adalah cuplikan dari tulisan PERLUNYA PENCITRAAN DIRI di hartanto.wordpress.com, sangat menarik tulisan dari Pak Hartanto ini bahkan secara individu saya merasa dekat sekali dengan Pak Har (panggilan akrab saya terhadap beliau) padahal proses perkenalannya adalah seumur jagung, tetapi rasa dekat dan empati saya terhadap beliau (untuk orang yang saya hormati) seakan sudah kenal begitu lama.
Proses kenalnya berawal dari pra workshop, yaitu institusi tempat kerja Pak Har (BPPT) mengadakan kerja sama dalam rangka pengenalan Radar Harimau (Hydrometeorological ARay for Intraseasonal variation Monsoon Automonitoring) yang berlokasi di Serpong, Jawa Barat.
Seringnya bolak-balik Pak Har ke Jatisari, dan beliau adalah salah satu pemateri dan pemandu pada acara Workshop ”Radar Cuaca untuk Peramalan OPT” , sehingga saya sering berjumpa dengan beliau. Perjumpaan di ruang seminar kemudian berlanjut dengan seringnya saya berkunjung ke web hartanto.wordpress.com menyebabkan saya merasa dekat apalagi Pak Har membantu mengajari bagaimana menulis ilmiah yang populer sehingga enak dibaca, dan tidak menggurui. Menulis apa adanya dengan bahasa keseharian (bahasa gaul), mengalir seperti air, tidak menggurui bisa mendekatkan kita kepada audiens, dengan kata lain bahasa yang renyah (kaya keripik singkong he..he..he) demikian kata Pak Har dalam salah satu tipsnya di web saya (saungurip.blogspot.com).
Sepenggal kisah awal perkenalannya saya dengan dunia maya melalui web adalah sewaktu mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Setditjen TP) tentang ”Pembuatan Web, dan Pemeliharaan Jaringan di Internet” yang berlangsung 3 hari di jakarta (maaf tanggalnya saya lupa). Pelatihan ini sangat membekas dibenak saya, dan timbul semangat saya untuk segera mengusai materi ini dan mencobanya dirumah (waktu itu dirumah belum ada fasilitas internet). Bagaimana mewujudkan impian itu, apalagi dukungan anak saya yang sulung yang hobinya nge-blogging. Saya harus menyediakan dana, beruntung tetangga saya ada yang punya warnet, akhirnya saya utarakan niat saya bagaimana caranya dengan dana yang minim tapi bisa menikmati layanan internet tanpa harus pergi ke ”Warnet”.
Akhirnya saya disuruh membeli alat TP-LINK 54M Wireless USB Adapter model TL-WN321G yang dipasang sebagai pemancar untuk menangkap signal dari koneksi jaringan yang ada di Caca Link (tetangga saya). Beres lah akhirnya saya sekeluarga bisa berselancar di dunia maya dengan dana yang murah meriah. Begitulah ceritanya.
So, hobiku pun bisa tersalurkan, kebetulan (serba kebetulan ya, jangan-jangan hidup ini juga kebetulan he...he...he) PERLUNYA PENCITRAAN DIRI.
Memang repot apabila di jaman yang digital ini kita belum mempunyai e-mail, beberapa teman diluar sana asyik ngobrolin pekerjaan via e-mail, sementara kita masih asing dengan hal semacam itu...wah benar-benar gaptek...ibarat kata seperti katak dalam tempurung....(Ini ada cerita: temanku punya teman ditempatnya dia bekerja sang Bos dan bos2 kecil lainnya ahli ngomongin perjalanan dinas, dari seminar ini sampai seminar itu, dari ratek anu sampai ratek ini, hari-harinya penuh dengan perjalanan dinas apalagi kalau berhubungan dengan SPPD wah..jago banget dia, Tapi begitu ditanya soal e-mail maupun web...Jawabnya diluar dugaan, ”......wah ga ada waktu tuh, mana sempat...?”)
Cerita temanku yang punya teman itu mudah-mudahan tidak terjadi di kantor anda? Terkadang keinginan untuk maju itu belum tentu didukung oleh sang Big Bos, terlalu naif memang pemikirannya. Entah apa isi tempurung kepala sang bos...keinginan maju anak buahnya tidak diakomodir, walah...”jangan2 isi kepalanya hanya kertas-kertas kosong yang tiada berguna,..he..he..he...”.
Sepenggal kisah awal perkenalannya saya dengan dunia maya ditutup dengan cerita satire temanku punya teman dan temannya punya cerita, dengan sedikit harapan semoga cerita tersebut diatas hanyalah bohong belaka (maaf barangkali ada yang tersinggung) karena sesungguhnya kita sebagai anak manusia seharusnya mempunyai ”Makna dan Tujuan” hidup. Ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dicermati dalam hidup ini yakni: Apakah benar manusia di dunia ini terjadi secara kebetulan belaka, tanpa makna apapun dan tanpa tujuan sama sekali?