 |
| Gejala serangan virus Tungro (Foto: Urip) |
Tungro merupakan penyakit virus yang penting pada padi. Serangan penyakit virus tungro dapat merusak pertanaman padi dalam suatu areal yang luas dalam waktu singkat (Eksplosi). Virus tungro ditularkan oleh Wereng Daun Hijau (
Nephotettix virescens). Virus tungro dalam tubuh serangga dapat bertahan selama 5 hari, namun tidak dapat ditularkan melalui telur. Serangga vektor dapat menularkan virus dalam waktu 2 jam setelah mengisap tanaman sakit. Pada varietas padi yang rentan, Wereng Daun Hijau (WDH) mengisap cairan pada jaringan phloem tanaman dan lebih efektif memperoleh dan menularkan virus. Pada varietas padi yang tahan, WDH lebih banyak mengisap cairan pada jaringan xylem, sehingga kurang efisienmemperoleh dan menularkan virus. Infeksi tungro pertama terjadi di persemaian, karena pada stadia ini tanaman sangat sensitif terhadap inokulasi virus. Gejala serangan tungro akan tampak pada tanaman umur 2-3 minggu setelah tanam, yaitu pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan jumlah anakan berkurang. Helaian daun dan pelepah memendek. Warna daun berubah dari hijau menjadi kuning sampai kuning oranye, kemudian menjadi kuning coklat dimulai dari pucuk daun kearah pangkal daun-daun tua. Daun muda yang terserang tungro sering tampak bercak-bercak atau warna hijau pucat hingga bergaris-garis putih sejajar dengan tulang daun, yang panjangnya berbeda. Pada daun tua terlihat bintik-bintik coklat bekas tusukan serangga penular. Akibat yang ditimbulkan oleh serangan virus tungro adalah masa pembungaan tertunda, malai yang dihasilkan kecil-kecil keluar tidak sempurna, dan pada bulir terdapat bintik-bintik coklat kehitam-hitaman. (Bersambung)***
.
 |
| Kumbang Landak (Dactylispa baliyi Gest.) |
Beberapa orang atau petani mungkin belum terlalu familiar dengan salah satu hama pada tanaman jagung ini. Saya termasuk salah satu orang yang beruntung dapat melihat serangan hama ini di Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, karena menurut POPT setempat yang sudah selama puluhan tahun bertugas baru kali ini melihat serangan hama ini.
Kumbang mini ini memiliki nama
kumbang landak (
Dactylispa baliyi Gest.) yang termasuk ke dalam famili Hispidae, Ordo Coleoptera. Kumbang landak memiliki daerah sebaran di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Selain tanaman jagung, hama ini memiliki tanaman inang yaitu Sorgum, padi dan ilalang. Kumbang landak banyak ditemui di daerah dataran rendah sampai pada ketinggian 800 m. Hama ini sering ditemukan bila curah hujan cukup yaitu lebih dari 50 mm/bulan. Bila hujan kurang dari jumlah tersebut, larva akan mengalami hambatan pertumbuhan dan akhirnya mati.
BioekologiTelur : diletakkan di jaringan daun muda sebelah atas di antara epidermis daun (6 – 13 hari)
Larva : Larva yang baru ditetaskan akan langsung menggerek dan makan pada jaringan daun. Larva hidup dan makan di dalam jaringan daun. Pada serangan berat, dalam sehelai daun dapat ditemukan lebih dari 150 ekor larva. Stadia larva I-IV sekitar 18 – 24 hari.
Pupa : berada pada daun yang mengering (8 – 14 hari)
Imago : Sayap depan tebal dan sayap belakang tipis berwarna hitam, Seekor betina bertelur sampai 75 butir.
Gejala SeranganSerangan kumbang landak terjadi pada umur 43 – 70 hst. Hama ini merusak daun, menggerek jaringan daun sejajar dengan tulang daun dan meninggalkan bekas gigitan yang memanjang atau membentuk gorong-gorong di dalam daun. Hama ini menyerang tanaman berumur lebih dari satu bulan. Serangan yang berat dapat menyebabkan daun mengering.
Cara Pengendalian :a. Pengendalian dengan musuh alami :
- Parasit telur dan larva dari famili Eulophidae dan Braconidae
- Predator dari kumbang famili Pentatomidae
- Parasit/predator, yaitu spesies Tuchinidae, Sarcophagidae, Icheunomidae, katak.
b. Kultur Teknis/pola tanam
- Penanaman lebih awal
- Waktu tanam serempak
- Pergiliran tanaman
c. Pengendalian Fisik dan Mekanis
- Sanitasi iang air
- Pembakaran sisa tanaman
d. Pengendalian kimiawi dengan insektisida berbahan aktif isoksation, khlorpirifos, sianofenfos, diazinon, karbofuran.
(Dewi Nirwati, POPT Ahli Pertama/Urip SR)***
.
 |
| Kepik Hijau (Nezara viridula) (Foto : Cabi) |
Tanaman kedelai saya terserang serangga menyerupai kepik berwarna kehijau-hijauan. Setelah saya perhatikan, ternyata kepik itu merusak polong kedelai. Jika hal itu didiamkan, maka akan mempengaruhi hasil kedelai saya.
Pertanyaan saya adalah: “Bagaimana cara mengendalikan kepik hijau tersebut?” mohon penjelasan. Terimakasih
(Suparno, Paron - Ngawi, Jawa Timur)
Sejak tumbuh ke permukaan tanah hingga tanaman tua, kedelai tidak luput dari serangga hama. Hama yang menyerang tanaman kedelai cukup banyak namun hanya beberapa jenis saja yang berstatus penting dan sering menimbulkan kerugian di antaranya adalah kepik hijau (
Nezara viridula L).
Kehidupan kepik hijau sangat bervariasi tergantung pada keadaan iklim dan tanaman inangnya.Kepik meletakkan telur secara berkelompok pada bagian bawah daun.Satu kelompok terdapat 10-50 butir dan satu ekor induk betina dapat memproduksi 100-250 butir telur. Bentuk telur seperti cangkir berwarna kuning dan tertata rapi.Setelah 5-7 hari telur menetas menjadi nimfa. Nimfa instar 1 bergerombol di atas kulit telur, setelah berganti kulit pindah ke plong untuk makan dan hidup. Nimfa instar 3,4,5 dan imago diam di permukaan daun bagian atas, pada pagi hari setelah pukul 09.00 pindah ke polong untuk makan. Imago meletakkan telur mulai pukul 15.00 sampai 21.00.
Nimfa dan kepik mertusak polong dengan cara menusuk stiletnya pada kulit polong dan biji lalu mengisap cairan biji. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis, mengering dan gugur. Serangan pada fase pengisapan biji, menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk.Serangan pada polong tua, menyebabkan kualitas biji menurun karena ada bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput.
Gejala Serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Kerusakan di lapangan biasanya terjadi bersamaan dengan pengisap polong yang lain dan tanda serangannya tidak dapat dibedakan.
Populasi kepik mulai dijumpai di pertanaman sejak fase pembentukan bunga sekitar umur 35 hari setelah tanam (hst) sampai menjelang panen. Stadia tanaman yang paling disukai sekitar umur 58 hst serta puncak populasi imago dan nimfa terjadi pada umur 50 hst. Periode kritis tanaman adalah fase pembentukan polong sampai pengisap biji (49-70 hst)
Tanaman Inang, kepik hijau bersifat polifag selain memakan tanaman kedelai juga memakan tanaman kacang hijau, kacang panjang, kacang tunggak, padi/wijen, jagung, kentang, tembakau, kapas, dan orok-orok.
Pengendalian :
Pengendalian hama kepik hijau pada tanaman kedelai antara lain dapat di lakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
. Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam.
. melakukan tanam secara serentak dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
. Di daerah endemis dapat menggunakan tanaman perangkap kacang hijau varietas merak atau Sesbania rostrata yang ditanam sekeliling/pinggir lahan terutama di lahan yang berbatasan dengan sumber serangan. Kacang hijau varietas merak ditanam bersamaan dengan tanam kedelai, sedang Sesbania rostrata ditanam 14 hari sebelum tanam kedelai.
. Melakukan pengamatan atas serangan ham akepik hijau, terutama dilakukan pada tanaman berumur 42, 49, 56, 63, dan 70 hst terhadap imago, telur dan nimfa.
. Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian, misalnya Insektisida yang mengandung dua jenis bahan aktif siap pakai yaitu Starban 585 EC dengan konsentras 20 ml/tangki;
. Ambang pengendalian bila terdapat 2 ekor/10 rumpun tanaman atau intensitas kerusakan lebih besar dari 2,5% polong terserang.
Selamat mengendalikan..!!
(USR)***
.
 |
| Pahitan berpotensi sbg Pesnab (Urip SR) |
Perebusan Ekstrak Bahan Nabati :
Disamping menggunakan etanol/alkohol 70 %, cara lain untuk menekan/mematikan enzim/zat pengurai adalah dengan cara
pemanasan/perebusan.
Adapun langkah kegiatannya adalah sebagai berikut :
Bahan tanaman ditumbuk/digiling.
Bahan tanaman yang sudah ditumbuk/digiling, dicampur air dengan perbandingan 75 gr bahan tumbuhan dalam 1(satu) liter air untuk bahan tanaman berbentuk daun, dan 25-50 gr untuk bahan tanaman berbentuk buah, biji, umbi dan rimpang.
Tambahkan 2 (dua) gram deterjen (pengganti Latron sebagai pengemulsi), kedalam larutan tersebut pada alat perebusan (Panci).
Rebuslah ekstrak bahan campuran tadi sampai mendidih.
Biarkan rebusan ekstrak bahan campuran tadi sampai menjadi dingin, kemudian lakukan penyaringan.
Penggunaan pestisida nabati (Pesnab) secara sederhana di tingkat petani dapat dilakukan dengan cara
Penyemprotan cairan perasan tumbuhan.
Pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan insektisida).
.
 |
| Kutu daun (Aphis glicines) Foto: Repro |
Aphis glycines yang biasa disebut dengan aphis dikelompokkan ke dalam ordo Homoptera dengan famili Aphididae. Tubuh aphis berukuran kecil, lunak dan berwarna hijau agak kekuningan. Panjang tubuh aphis dewasa berkisar antara 1 - 1,6 mm. Nimfa aphis dapat dibedakan dengan imagonya dengan cara menghitung jumlah antenanya. Pada umumnya , nimfa instar satu mempunyai antena sebanyak 4-5 ruas. Sedangkan nimfa instar kedua berantena sebanyak 5 atau 6 ruas, dan imago sebanyak 6 ruas.
Sebagian besar jenis serangga ini tidak bersayap, tetapi bila populasi meningkat, sebagian serangga dewasanya membentuk sayap yang bening. Selanjutnya, serangga yang bersayap pindah ke pertanaman kedelai lain untuk membentuk koloni baru. Serangga ini menyukai bagian-bagian muda dari tanaman inangnya, baik nimfa dan imago mengisap cairan tanaman.
Aphis juga bertindak sebagai
vektor (serangga penular) berbagai penyakit virus kacang-kacangan (
soybean mosaic virus, soybean yellow mosaic virus, bean yellow mosaic virus, soybean dwarf virus, dan peanut stripe virus).
Tanda serangan Aphis
Aphis menyerang tanaman kedelai muda sampai tua, serangan pada pucuk tanaman muda menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Cuaca yang panas pada musim kemarau sering menyebabkan populasi hama kutu daun ini tinggi.
Cara pengendalian Aphis
Tanam serempak
Pemantauan lahan secara rutin dan pemusnahan kelompok telur dan imago.
Penggunaan pestisida nabati.
Jika populasi tinggi, semprot dengan insektisida yang direkomendasikan, antara lain yang berbahan aktif : amitraz, heksitiazok, dikofol, dan propargit.
.
Penyakit Blas (Pyricularia grisea) pada tanamn padi tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama di daerah pertanaman padi lahan kering. Infeksi penyakit blas pada lahan kering sering lebih terjadi daripada di lahan sawah, walaupun tergantung juga pada varietas padi yang ditanam.Varietas padi unggul yang responsif terhadap pupuk nitrogen, pertanaman yang rapat, dan suhu tanah yang tidak mendukung juga mendorong perkembangan penyakit blas.
Penyakit blas ditularkan melalui konidia yang disebarkan oleh angin. Konidia berbentuk seperti buah alpukat, meruncing kearah ujung, dan memiliki dua sekat. Pembentukan dan pelepasan konidia sangat tergantung pada keadaan lingkungan.Makin tinggi kelembaban udara, maka makin banyak konidia yang dihasilkan. Satu bercak dapat menghasilkan 2.000 – 6.000 konidia setiap hari selama 14 hari. Faktor iklim juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan penyakit blas. Suhu yang cocok untuk pembentukan spora berkisar antara 10 C -35 C dengan suhu optimum 28 C dan kelembaban > 92% Pembentukan spora (sporulasi) meningkat dengan meningkatnya kelembaban.
Jamur Pyricularia grisea mampu bertahan pada jerami dan gabah, yang merupakan sumber inokulum primer di lapangan. Tanaman inang penyakit blas di antaranya adalah Agropyron repens, jajagoan (Echinochloa crusgalli), rimput belulang (Elcusine indica), barley (Hordium vulgare), dan lain-lain.
Gejala
Gejala penyakit blas berupa bercak-bercak pada daun, ruas, malai, dan gabah.Pada daun padi, berbentuk oval atau elips dengan kedua ujung meruncing, seperti belah ketupat.
Bagian tengah bercak biasa nya berwarna kelabu atau keputih-putihan, dengan tepi berwarna coklat atau merah kecoklat-coklatan.Bentuk dan warna bercak sangat bervariasi tergantung pada lingkungan, umur bercak, dan tingkat ketahanan varietas padi. Pada varietas padi yang rentan, bercak tidak membentuk tepi yang jelas dan bercak dikelilingi oleh warna kuning pucat, yang di sebut “halo”. Blas yang menyerang pada buku batang padi akan terlihat pada pangkal pelapah daun yang membusuk, kemudian akan berubah menjadi kehitam-hitaman , dan mudah patah. Bercak bisa terjadi pada leher malai dan yang terinfeksi berubah menjadi kehitam-hitaman dan patah, sehingga mengakibatkan malai menjadi hampa.Mirip gejala serangan beluk.
Pengendalian
Pengendalian penyakit blas (Pyricularia oryzae Cav.) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pergiliran tnaman dengan tnaman bukan padi, terutama tanaman yang tidak menjadi inang.
2. Penanaman varietas padi yang tahan.
3. Pengaturan jarak tanam, yaitu pada setiap beberapa baris dibuat jarak tanam selebar dua kali jarak tanam biasanya .
4. Pemupukan berimbang
5. Penyemprotan pupuk mikro Silika (Si) dan seng (Zn), misalnya Biomax dan Zilfo 90 WP yang masing-masing mengandung Silika 20%. Konsentrasi anjuran untuk BioMax 2 ml/l air dan Zilfo 90 WP 2 g/l air
6. Dan dikombinasikan dengan penyemprotan fungsida yang terdaftar untuk penyakit blas.
7. Di daerah-daerah yang selalu mengalami serangan berat dapat dilakukan perlakuan benih dengan fungsida yang sesuai dengan aturan.
(Dari berbagai Sumber)***
 |
| Hawar Daun Bakteri (Foto: Urip SR) |
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang seringkali muncul pasca banjir adalah Hawar Daun Bakteri (HDB), dan Wereng Batang Coklat (WBC), timbulnya HDB sering terjadi pada air yang tergenang dengan kelembaban tinggi. Penyakit HDB perlu diwaspadai pasca banjir karena dapat menimbulkan kerusakan yang cukup tinggi (75%) sehingga menurunkan hasil panen. Bila sel bakteri masuk melalui akar atau batang pada tanaman padi muda dapat menimbulkan gejala yang disebut kresek.
Bagaimana mengendalikan HDB?
- Tanam varietas tahan (varietas angke dan code)
- Pemupukan berimbang, pada tanaman yg dipupuk urea tinggi akan menimbulkan kerusakan berat. Dianjukan pemupukan pada tanaman rentan adalah 76 Kg N/ha (165 kg Urea/Ha)
- Pengairan hemat air (intermitten)
- Penggunaan agen antagonis corynebacterium 2,5 liter/ha, konsentrasi larutan 5 cc/liter, dg volume semprot 500 liter/ha, penyemprotan dilakukan pada umur tanaman 14,28, dan 42 hari setelah tanam (HST).
Selanjutnya OPT lainnya adalah WWereng Batang Coklat, pengamatan perlu dilakukan pada musim hujan (MH) paling lambat 2 minggu sekali sejak 2 minggu setelah tanam sampai 2 minggu sebelum panen terhadap 20 rumpun arah diagonal.
 |
| wereng coklat (Foto: Urip SR) |
Monitoring dini dan keputusan pengendalian WBC harus menerapkan perhitungan berdasarkan musuh alami seperti :
- Populasi WBC dan musuh alaminya diamati selang 1-2 minggu sekali pada 20 rumpun dari suatu hamparan yang padinya sama.
- Populasi WBC, predator (
Ophionea, Paederus, Miscraspis, Spiders (laba-laba) dan kepik
Cyrtorhinus harus dicatat
Keputusan pengendalian WBC dalam jangka panjanh adalah sbb :
- Pada musim hujan (MH) sebaiknya ditanam varietas yang umur genjah dan tahan WBC seperti Way Apoburu, dan Ciherang
- Pola tanam kurang serempak perlu diubah menjadi pola yang serempak
- Pergiliran varietas dengan menanam ciherang, mekongga, sintanur, dan cigeulis harus dilakukan.
.

Hawar Daun Bakteri (HDB) dikenal sebagai penyakit kresek, umumnya serangan berkembang pada musim hujan maupun musim kemarau yang basah. Hawar daun bakteri telah menjadi penyakit padi penting, dan tersebar di seluruh Indonesia. Akibat serangan penyakit kresek dapat menurunkan produksi secara nyata. Penyakit ini menyebar terbawa air, angin, benih, dan infeksi terjadi melalui stomata.
Perkembangan penyakit HDB sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu relatif tinggi. Pada musim hujan yang hari-harinya berawan, penyakit berkembang sangat baik. Penanaman varietas rentan dengan jarak tanam yang rapat, penggunaan pupuk nitrogen (N) berlebihan, rendahnya pemupukan yang mengandung Kalium (K) dan fosfor (P) akan mendorong perkembangan patogen tersebut.
GejalaPenyakit HDB menghasilkan dua gejala yang khas yaitu kresek dan hawar. Kedua gejala tersebut dapat dibedakan sebagai berikut:
KresekGejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari setelah tanam (persemaian atau tanaman muda).
Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat dan menggulung.
Dalam keadaan parah seluruh daun menggulung, layu dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerekbatang padi atau terkena air panas.
Hawar
Merupakan gejala yang paling umum yang dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai perkembangananakan sampai fase pemasakan.
Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu-abu (kekuning-kuningan) umumnya pada tepi daun.Dalam perkembangannya gejala akan meluas membentuk hawar (blight) dan akhirnya daun mengering.
Dalam keadaan lembab terutama di pagi hari, koloni bakteri berupa butiran berwarna kuning keemasan dapatdengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar.
Faktor yang mempegaruhi perkembangan HDBKondisi kelembaban tinggi, dan suhu relatif tinggi,
Penanaman varietas rentan,
Jarak tanam terlalu rapat,
Penggunaan pupuk Nitrogen (N) berlebihan (≥ 300 kg urea/ha).
PengendalianPenanaman varietas tahan antara lain varietas Conde, Angke, Mekongga, Inpari 5, Inpari 10, dan Merawu,
Persemaian di tempat yang drainasenya baik,
Pemakaian pupuk nitrogen tidak terlalu tinggi,
Tandur jajar dengan sistem legowo 2:1,
Menggunakan agens antagonis Corynebacterium,
Penggunaan pestisida efektif yang terdaftar.
Cara Aplikasi Corynebacterium
Perlakuan pada benih (perendaman benih) sebelum sebar selama ± 15 menit, atau penyemprotan bibit di persemaian,
Penyemprotan pada tanaman padi dilakukan pada umur 14, 28, dan 42 hari setelah tanam,
Aplikasi Corynebacterium dapat dicampur perekat, baik perekat yang membuat sendiri (kanji/tepung ubi kayu)
atau perekat yang telah tersedia di kios saprotan,
Sprayer dibersihkan dari sisa-sisa pestisida,
Jangan mencampur agens antagonis dengan pestisida.
DosisDosis agens antagonis Corynebacterium: 2,5 liter/ha. Konsentrasi larutan 5 cc/liter air, dengan volume semprot 500 liter/ha.
Waktu Aplikasi
Aplikasi dilakukan pada sore hari, mulai pkl. 15.00 atau hindari aplikasi saat matahari terik, untuk mencegahrusaknya bakteri karena pengaruh sinar matahari.
.

Gejala serangan virus tungro berupa pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil dan jumlah anakan berkurang. Daun menguning sampai jingga dari mulai pucuk kearah pangkal.
Tanaman muda lebih rentan. Semakin muda umur tanaman terinfeksi, tanaman menjadi semakin kerdil dan produksinya semakin rendah. Apabila tanaman tua terinfeksi, tidak menimbulkan gejala dan penurunan hasil, tetapi dapat menjadi sumber infeksi.
Virus penyebab penyakit tungro ditularkan oleh beberapa jenis wereng daun hijau (sebagai vektor) dengan efisiensi penularan yang berbeda,
Nephotettix virescens paling tinggi efisiensi penularannya. Nimfa dan serangga dewasa dapat menularkan virus. Telur tidak tertular virus, meskipun serangga betina dewasa membawa virus tungro.
Virus tidak dapat berkembang pada tubuh vektor. Vektor efektif menularkan virus paling lama 7 hari, setelah itu apabila tidak lagi menghisap pada tanaman sakit, vektor menjadi serangga bebas virus. Apabila serangga menghisap lagi tanaman terinfeksi virus tungro, maka akan menjadi vektor aktif lagi. Efektivitas penularan virus akan hilang setelah ganti kulit.

Sumber serangan adalah tanaman dan bibit terinfeksi, singgang, gulma terutama teki dan eceng, serta padi liar yang telah terinfeksi virus.
Luas dan intensitas serangan tungro dipengaruhi oleh populasi dan sebaran vektor, serta sumber serangan. Serangga vektor sangat aktif memencar.
Telur banyak terparasit oleh
Gonatocerus sp. dan
Paracentrobia sp., sedangkan nimfa terparasit oleh
Pipunculus sp.
Kebiasaan perilaku pemencaran imago wereng daun hijau menyebabkan kepadatan populasi puncak pada suatu petakan sawah relatif rendah, karena waktu tinggalnya pendek, dan jumlah telur yang diletakkan sedikit. Puncak kepadatan populasi tertinggi lebih sering terjadi pada pertengahan fase pertumbuhan tanaman.
Meskipun kepadatan populasi vektor umumnya rendah, namun apabila ada sumber virus, meluasnya penyakit tungro dipercepat oleh kemampuan vektor melakukan pemencaran antar petakan sawah terutama pada sawah yang ditanam tidak serentak.
Cara Pengendalian1). Waktu tanam tepatSinggang merupakan sumber inokulum virus tungro. Agar terhindar dari infeksi virus yang berasal dari singgang, maka persemaian dilakukan paling tidak 5 (lima) hari setelah pengolahan tanah selesai dan tidak ada lagi singgang. Tanam diupayakan seawal mungkin sehingga pada saat populasi wereng hijau mencapai puncak, tanaman padi sudah berumur > 60 hst dan lebih tahan tungro.
Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan memperhatikan fluktuasi populasi wereng daun hijau dan keberadaan tungro tahunan. Waktu tanam yang tepat adalah saat tanam yang dapat menghindarkan tanaman pada saat fase rentan (≤ 30 hst)
tidak bertepatan dengan tekanan tungro tinggi (populasi wereng hijau dan keberadaan gejala tungro tinggi).
2). Bibit sehatJangan memindahkan/menggunakan bibit dari daerah endemis tungro.
3). Tanam serentak
Untuk membatasi keberadaan umur tanaman yang rentan terhadap perkembangan dan penularan virus tungro dilakukan upaya tanam serentak pada hamparan seluas-luasnya/unit hamparan pengairan.
4). Pergiliran tanamanDilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi/bukan inang virus tungro.
5). Penggunaan varietas tahanPenggunaan varietas tahan sesuai dengan keadaan setempat. Varietas tahan virus tungro: Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo, serta varietas agak tahan virus tungro: yang baru dilepas tahun 2009: Inpari 8 dan Inpari 9.
6) Pergiliran varietas tahanPenanaman varietas tahan yang sama secara terus menerus di areal yang luas akan memberikan tekanan seleksi yang tinggi bagi vektor dan virus. Hal ini akan memunculkan strain/koloni baru yang dapat mematahkan varietas tahan. Wereng hijau dikenal cepat beradaptasi terhadap varietas tahan, dengan demikian pergiliran varietas dapat mencegah atau menunda munculnya strain/koloni baru.
7). Sanitasi dan EradikasiEradikasi dilakukan dengan cara pengolahan tanah dan pembenaman sumber tungro, untuk menghilangkan atau menekan jumlah sumber tungro dan sekaligus menekan terjadinya penularan virus tungro lebih lanjut. Sanitasi dilakukan dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman terserang, turiang/singgang dan rumput yang menjadi inang.
8). Pengendalian vektorDi daerah endemis tungro dilakukan aplikasi insektisida butiran 6 kg/500 m2 sehari sebelum sebar benih. Apabila diperlukan di pertanaman dilakukan aplikasi insektisida sehari sebelum tanam dengan dosis sesuai anjuran.
Aplikasi insektisida di persemaian dapat juga dilakukan apabila nilai indeks tekanan tungro > 75, dan pada pertanaman apabila saat berumur < 3 mst ditemukan 2 rumpun tanaman terserang tungro per 100 rumpun, disamping terus dilakukan sanitasi terhadap tanaman sakit.
.

Hama ini dinamakan ulat grayak atau tentara oleh karena mempunyai sifat merusak tanaman secara bergerombol dan berpindah tempat pun secara serentak. Ngengat dewasa aktif pada malam hari, pada saat tersebut serangga dewasa makan, berkopulasi dan bermigrasi. Pada siang hari ngengat beristirahat di dasar tanaman. Hama ini sangat rakus pada stadia larva dan serangan dapat terjadi pada semua fase tumbuh tanaman padi, mulai dari pembibitan sampai fase pengisian bulir. Biasanya bagian tanaman padi yang diserang pada bagian daun dan batang. Cara merusaknya mula-mula ulat makan helai daun, dimulai dari ujung daun, hingga tinggal tulang daun dan batang. Sedangkan pada tanaman padi yang telah keluar malai, tangkai malai padi dipotong atau dirusak. Ulat tentara yang menyerang tanaman padi bisa dibedakan 3 macam yaitu : ulat tentara kelabu, ulat tentara coklat hitam dan ulat tentara bergaris kuning.
Bioekologi:Telur:Diletakkan secara berkelompok pada permukaan bawah daun padi atau rerumputan rata-rata 100 butir. Telur ditutupi sisik berwarna kelabu.
Larva:Larva yang baru menetas sangat aktif bergerak sambil makan dengan cara meraut bagian hijau daun pada ujung daun dan beristirahat pada tepi daun muda yang digulung sehingga tidak mudah ditemukan.
Larva menggulungkan diri pada tanaman dengan benang sutra, dalam keadaan istirahat larva membentuk huruf C, stadium larva 22 hari, terdiri 5 instar.
Pupa:Pupa terbentuk didalam tanah, pada lahan sawah lembab atau diantara rerumputan sekitarnya,
Imago:
Berwarna hitam kelabu, sayap depan berwarna coklat kelabu dilengkapi bercak coklat gelap dan kuning gelap dan satu garis kelabu dekat pinggir bercak. Selain makan daun, juga memotong pangkal batang tanaman muda dan tangkai malai.
Kerusakan berat biasanya terjadi setelah periode kering yang cukup lama yang diikuti hujan besar.
Cara Pengendalian:Persemaian jauh dari areal yang banyak rerumputan
Sanitasi persemaian
Penggenangan persemaian
Persemaian yang sudah terserang sebaiknya digenangi air.
Bila diperlukan gunakan insektisida yang berbahan aktif BPMC atau karbofuran.
.

Hama ganjur sering dikenal dengan mana daerah al: hama pentil, mentil, hama bawang, hama mendong, dengan nama latin
Orseolia oryzae (Wood-Mason). Ganjur umumnya bukan merupakan hama utama padi di Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya terjadi pada musim-musim tertentu. Namun demikian, serangan ganjur dapat terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase primordia.
Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk pentil atau daun bawang, dengan panjang bervariasi, 15-20 cm. Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai. Serangga dewasa ganjur menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang sehingga penyebaran sangat terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik cahaya.
Bioekologi:Telur:Berbentuk lonjong, berwarna putih bening sampai orange, panjang 0,5 mm dan lebar 0,2 mm.
Ngengat betina mampu bertelur 100 - 200 butir, telur diletakkan terpencar/dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 butir. Sekitar 60-70% telur terletak pada pelepah daun dan sisanya pada helaian daun.
Larva:
Berwarna orange, panjang sekitar 1,3 mm, larva merayap menuju titik tumbuh melalui celah diantara jaringan titik tumbuh dan larva masuk dengan membentuk rongga, biasanya pada satu tunas dijumpai 1 larva.
Pupa:Berwarna pucat dan pada saat menjelang imago akan berwarna merah jingga, pada pupa terdapat duri-duri, panjang pupa sekitar 2,5 mm, pra-pupa bergerak menuju ke arah ujung puru dengan menggunakan deretan duri pada tubuhnya.
Imago/ngengat:Berwarna merah cerah/merah kusam, ukuran sebesar nyamuk, siklus hidup 26-35 hari, aktif pada malam hari dan tertarik cahaya lampu.
Ngengat hidup dengan menghisap embun yang terdapat pada permukaan daun.
Nisbah kelamin jantan/betina adalah 4:1, betina hanya kawin sekali. Serangga ganjur hanya menyerang tanaman pada fase vegetatif, akibat serangan daun menjadi puru (pentil) dan tidak menghasilkan malai. Serangga dewasa muncul pada awal musim hujan, sebelum berkembang biak pada tanaman padi serangga ganjur sudah melalui 1 atau 2 generasi pada rerumputan, satu musim dapat mencapai 3-4 generasi.
Gejala serangan: Larva serangga ganjur memakan tanaman padi pada titik tumbuh yang menyebabkan daun tumbuh berbentuk gulungan seperti daun bawang (puru/pentil). Pada titik tumbuh inilah larva makan dan berlindung sehingga titik tumbuh rusak. Timbulnya puru diduga disebabkan oleh senyawa kimia yang dihasilkan oleh larva pada saat memakan titik tumbuh.
Puru mulai tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh, puru yang telah berkembang sempurna berdiameter 1-2 mm dan panjang 10 - 30 mm. Perkembangan optimum terjadi pada kelembaban nisbi 80% suhu antara 25 - 30 derajat C, cuaca mendung dan hujan gerimis. Serangan berat terjadi pada musim hujan terutama untuk tanaman yang terlambat tanam, umumnya dijumpai didaerah sawah irigasi maupun tadah hujan.
Cara Pengendalian:Pengaturan tanam lebih awal sehingga pada saat kelembaban tinggi tanaman sudah masuk fase generatif. Upaya penanaman dini perlu dilakukan secara serentak.
Jarak tanam renggang 25 x 30 cm dengan jumlah bibit 2 - 3 bibit.
Penyiangan perlu dilakukan untuk menekan perkembangan hama ganjur.
Tanam varietas tahan seperti Ciliwung dan Asahan.
Hama ganjur dewasa tertarik terhadap cahaya, oleh karena itu pasang lampu perangkap untuk menangkap ganjur dewasa.
Bila terjadi serangan berat gunakan insektisida granular yang berbahan aktif karbofuran karena bekerja secara sistemik. (USR)***
Sumber Pustaka:
Masalah lapang Hama, Penyakit, Hara, hal 16 - 17. Puslitbang TP/IRRI
Mengenal dan mengendalikan OPT Padi, hal. 24 - 25. Syngenta
.
Tempo.Co (21/11/10) Ribuan hektar tanaman padi di Kabupaten Wajo diserang hama kepik hitam. Hama ini membuat beras yang dihasilkan akan memerah dan kehitaman, serta rasanya pahit.Tanaman padi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Belawa, Maniangpajo, dan Majauleng yang diserang kepik hitam. Rusalang Angka, petani Maniangpajo mengatakan akibat serangan kepik hitam, petani merugi. "Karena warna beras hitam atau merah dan sangat pahit sehingga tidak ada yang membeli," kata dia.Berita di Tempo.Co tanggal 21 November 2010 membuka tulisan ini, yang membahas tentang serangan Kepik Hitam di Kabupaten Wajo. Bagi masyarakat Wajo mungkin hama ini menjadi hama utama yang meresahkan, namun tidak bagi petani di Pulau Jawa. Fenomena hama sekunder yang berubah menjadi hama primer patut diwaspadai, mengenal lebih dekat bioekologi dari kepik hitam merupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana saat yang tepat untuk mengendalikan hama ini.
Kepik hitam (Paraeucosmetus pallicornis (Dallas) (Hemiptera; Lygaeidae) dilaporkan pertama kali menyerang tanaman padi di Desa Toraut, Kec. Dumoga, Sulawesi Utara (Sembel D.T, 1989). Selebumnya penduduk setempat telah mengenalnya dengan nama”Semut Hitam” karena bentuk, ukuran, dan pergerakannya seperti semut hitam. Sekarang hama ini telah menyebar ke Provinsi Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. (Mangundap, N., 1990). Harsono L dan Aunu Rauf (2008).
BIOEKOLOGIKepik hitam aktif pada pagi dan senja hari. Pada siang hari berlindung di pangkal batang/rumpun padi atau pada vegetasi rerumputan di permukaan tanah. Nimfa instar instar-1 dan -2 umumnya berada pada pangkal batang, mengisap cairan tanaman padi dan rerumputan. Nimfa instar berikutnya dan imago merusak bulir padi. Di lapangan lebih banyak ditemukan pada fase matang susu terutama pada kondisi lembab dan cocok bagi kehidupan kepik hitam (Rauf, 2008).
GEJALA SERANGAN
Hama kepik hitam merusak tanaman padi dengan cara menusukkan stiletnya ke dalam bulir padi dan menghisap cairan gabah. Gejala serangan bulir padi menjadi coklat, beras berwarna coklat kehitaman, mudah hancur saat digiling dan apabila dimasak nasinya terasa pahit. Akibat petani merugi dan pedagang padi enggan membeli gabah yang berasal dari lahan terserang.
SIKLUS HIDUPHasil pengamatan tim kajian kepik hitam BBPOPT bekerjasama dengan IP3OPT Pinrang, Sulawesi Selatan tahun 2011 sebagai berikut:
Telur Diletakkan berkelompok atau satu per satu secara acak pada batang padi dan serasah, berbentuk lonjong, berwarna jingga, berukuran panjang 1 mm lebar 0,3 mm dan menetas setelah 4-6 hari.
Nimfa Berbentuk ramping dan berwarna hitam menyerupai serangga dewasa, kecuali instar ke-1 berwarna merah. Nimfa terdiri dari 5 instar. Lama perkembangan nimfa berkisar 12-21 hari.
Instar-1 berukuran panjang 1 mm, berganti kulit setelah 2-5 hari, ditandai dengan perutnya membesar.
Instar-2 berukuran panjang 2 mm, berganti kulit setelah 2-3 hari dari instar ke-1.
Instar-3 berukuran panjang 3 mm, berganti kulit setelah 2-3 hari dari instar ke-2.
Instar-4 berukuran panjang 5 mm, berganti kulit setelah 2-5 hari dari instar ke-3.
Instar-5 berukuran panjang 7 mm, berganti kulit setelah 4-5 hari dari instar ke-4.
Dewasa Berukuran panjang 7-7.5 mm, femur tungkai depan membesar dan mempunyai duri sebanyak 8 buah, tungkai tengah berukuran lebih kecil daripada tungkai belakang. Lama hidup dewasa 6-12 hari.
PENGENDALIANPotensi kerusakan dan kehilangan hasil produksi padi akibat serangan hama kepik hitam tergolong tinggi. Oleh karena itu rekomendasi pengendalian yang disarankan adalah sebagai berikut:
Teknik bercocok tanam:
Pengolahan tanah dan sanitasi lingkungan untuk menghilangkan sumber serangan, gulma dan mematikan populasi hama yang ada.
Pemupukan yang berimbang dengan dosis spesifik lokasi yang diharapkan dapat memberi ketahanan pada tanaman.
Pola tanam:
Pengaturan jarak tanam dibuat agak lebar untuk menciptakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan hama. Misalnya tanam sistem legowo 2:1. Jarak tanam yang terlalu rapat mempertinggi kelembaban iklim mikro yang menjadi faktor pendorong berkembangan hama.
Melakukan pergiliran varietas padi dan pola tanam padi – palawija.
Melakukan pengaturan air secara berkala untuk mengurangi kelembaban di sekitar pertanaman.
Pemanfaatan agens hayati: Aplikasi jamur entomopatogen seperti
Beauveria bassiana. Merupakan mikroorganisme indigenous yang sangat potensil, mengandung racun beauvericin, yang dapat mengganggu fungsi hemolympha dan nucleus sehingga mengakibatkan pembengkakan yang disertai pengerasan pada serangga hama yang terinfeksi.
Pemanfaatan pestisida nabati:
Aplikasi ekstrak daum mimba yang mengandung azadirachtim (C35H44O16), merupakan racun perut, bersifat penghambat pertumbuhan yaitu menggangu proses fisiologi serangga (Kardiman 2002). (Sukar, Idah Faridah, Dwitya Rizkya Gabriel, Urip SR)***
Daftar Pustaka:
Laporan Hasil Pengamatan Lapangan Klarifikasi Hama Baru Kepik Penghisap Bulir Padi di Provinsi Sulawesi Utara Tanggal 4-5 Desember 2008 oleh Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc. dan
Ir. Harsono Lanya, MS.2008
Laporan Hasil Kajian Dinamika Populasi dan Pengendalian Kepik Hitam oleh Tim Kajian BBPOPT bekerjasama dengan IP3OPT Pinrang, Sulawesi Selatan 2011.
Foto: Idah Faridah dkk, desain grafis Urip SR
Materi ini juga sebagai bahan Leaflet pada TA. 2012
.

Kulon Progo (6/03). Pada saat melakukan surveylance seringkali perhatian kita hanya tertuju pada kerusakan tanaman padi yang ditimbulkan oleh hama. Padahal semua kerusakan oleh organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sangat luas, tidak hanya serangan oleh hama dan penyakit saja, tetapi kekurangan salah satu unsur hara pun harus dilaporkan. Seperti pada saat melakukan survey di kecamatan Lendah, Kab. Kulon Progo terdapat pertanaman padi mengalami kekurangan unsur seng
atau dikenal dengan istilah
Kahat Seng (Zinc Deficiency). Kami mencoba mengidentifikasi secara visual dengan cara mencabut rumpun yang bergejala dengan mengamati perakaran, warna daun dan pertumbuhan tanaman di sawah, termasuk sawah tempat tumbuh padi. Sawah yang selalu tergenang menyebabkan gejala khlorosis yang berat.

Biasanya setelah sawah dikeringkan tanaman akan sembuh. Pada kasus ini selain khlorosis oleh kahat seng juga muncul gejala serangan kresek/BLB oleh bakteri
Xanthomonas campestris, maklum di Kulon Progo frekuensi hujan masih cukup tinggi dan jarak tanam yang rapat sehingga penyakit kresek ini mudah menyerang dengan kondisi sawah yang selalu tergenang.
Kami merekomendasikan jika kekurangan Zn ringan, cukup diberikan 5 kg Zn/Ha (ZnSO4) dan bila gejalanya berat diberikan 20 kg/Ha (ZnSO4).
(uripsr@ymail.com)***
Trima kasih kepada Bp. Ir. Bambang Hermanto, Tarsana Totaruno, SP, MP Staff Teknis BPTPH DIY, dan Bp. Sutiman Koordinator POPT Kab. Kulon Progo, yang membantu selama surveylance.
Keterangan Foto: 1. Pak Sutiman sedang menunjukkan gejala tanaman kahat seng
Foto 2. Gejala khlorotik pada daun tanaman padi yang kahat Zn. (Foto: Urip SR)
.

Hasil jepretan menggunakan kamera digital LUMIX obyek OPT yang bergerak seperti ulat ini harus sabar, masalahnya kalau daunnya tersenggol sang ulat akan berjalan berpindah tempat, ada 10 jepretan hanya ini yang bisa diabadikan. Kami mencoba mengulas sedkit "sang ulat" yang bersemayam di daun padi tersebut.
Di pertanaman padi ulat ini jarang mencapai populasi tinggi. Keadaan ini disebabkan karena banyaknya musuh alami yang menyerang dan merusak hampir seluruh telur, larva, kepompong serta fase dewasa. Ulat ini juga peka terhadap perubahan iklim. Ulat hesperid sering ditemukan pada lahan pertanaman padi fase berbunga. Ulat ini makan daun tanaman padi. Telur hesperid ini diletakkan satu persatu pada daun. Fase telur berakhir sekitar 4 hari. Kepompong ditemukan diantara daun2 padi yang telah diikat satu dengan yang lain membentuk selubung. Kepompong melekat pada salah satu ujung selubung. Masa larva dan kepompong berakhir sekitar 38 hari. Ngengat aktif pada siang hari dan istirahat pada malam hari.
.
1. Belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis)
Dalam kehidupan dan perkembangan koloni belalang kembara dikenal mengalami 3 fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien dan fase gregaria. Pada fase soliter, belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan tanaman. Pada fase gregaria belalang kembara hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok dengan jumlah sangat besar, berpindah-pindah tempat dan menimbulkan kerusakan dahsyat.
Perubahan fase soliter ke fase gregaria biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (di bawah normal). Pada saat tersebut, biasanya terjadi peningkatan populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang. Lokasi tersebut adalah langka penduduk, biasanya mempunyai lahan yang terbuka atau banyak rerumputan, tanahnya gembur berpasir, dekat sumber air (sungai, danau) sehingga kondisi tanahnya cukup lembab. Setelah berlangsung 3-4 generasi apabila kondisi lingkungan memungkinkan akan berkembang menjadi fase gregaria, melalui fase transien. Lokasi ini dikenal sebagai lokasi pembiakan awal.
Perubahan fase gregaria kembali ke fase soliter (melalui fase transien) biasanya apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan, terutama karena pengaruh curah hujan di atas normal, tekanan musuh alami dan atau tindakan manusia dalam usaha pengendalian.
Belalang kembara fase gregaria aktif terbang pada siang hari dalam kelompok besar. Pada pagi hari belalang terbang berputar-putar untuk pindah lokasi. Dalam kondisi angin sepoi-sepoi belalang terbang menentang arah angin, namun pada angin kencang terbang mengikuti arah angin. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk kawin dan bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, memakan tanaman yang dihinggapi.
Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari biasanya dimakan habis. Sedangkan Kelompok besar nimfa biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok . Sepanjang perjalanan biasanya memakan tanaman yang dilewatinya. Tanaman yang paling disukai belalang kembara adalah kelompok Graminae yaitu padi, jagung, sorgum, tebu alang-alang, gelagah dan berbagai jenis rumput. Selain itu belalang dapat memakan daun kelapa, bambu, kacang tanah, petsai, sawi, kubis daun. Tanaman yang tidak disukai antara lain kacang hijau, kedelai, kacang panjang, ubikayu, tomat, ubi jalar dan kapas.
Betina meletakkan telur dalam bentuk paket telur di dalam tanah, dan seekor betina mampu mnghasilkan telur sebanyak 270 butir telur. Siklus hidupnya rata-rata 76 hari, stadia telur rata-rata 17 hari, nimfa 38 hari (mengalami 5 instar), dan praoviposisi 21 hari (dengan prakopulasi 11 hari).
Belalang ini pernah eksplosif di Pulau Sumba, Lampung, Sumsel, Kalteng, Kalbar, Sultra, dan Gorontalo.
2. Valanga sp.Jenis-jenis Valanga dikenal dengan nama walang kayu. Ukuran dan bentuknya lebih besar daripada Locusta. Belalang ini meletakkan telurnya dalam bentuk paket telur di dalam tanah. Telur dapat tidak menetas selama musim kemarau, dan menetas setelah turun hujan. Stadia telur pada tanah yang lembab menetas 4-5 minggu, stadia nimfa antara 50-80 hari, dan belalang dewasa dapat hidup selama 4 bulan.
Tanaman makanannya adalah jagung, daun/pucuk jati, acasia, albizzia, kelapa, pisang, kluwih, nangka, mangga, kapuk, aren, waru, karet, kopi, kakao, dadap, wijen, jarak. Kapas dan tebu sedikit dirusak, sedang ubi kayu kurang disukai. Pada populasi tinggi semua daun habis dimakan. Tanaman yang tidak disukai adalah padi sawah, sorgum, bambu, alang-alang dan rerumputan lain, dan ubi jalar.
Pengendalian dilakukan secara mekanis, hayati, maupun cara kimia. Di beberapa daerah jenis belalang ini disukai sebagai lauk makan maupun cemilan dan dapat dijual-beli.
3. Nomadacris (=Patanga) succinctaBelalang ini lebih besar daripada
Locusta, tubuhnya agak lebih pendek daripada Valanga dengan bentuk tubuh yang ramping/ langsing, dominan berwarna coklat, coklat kemerah-merahan.
Pronotum bagian punggung mempunyai garis berwarna keputih-putihan, pada kedua sisinya terdapat satu garis keputih-putihan diantara dua garis berwarna gelap, dan mempunyai mata yang bergaris.
Ekologi belalang ini serupa dengan kedua jenis belalang di atas, berkembang di daerah kondisi kering. Belalang ini pemakan rumput, padi, jagung dan famili graminae lain, disamping juga makan tanaman kedelai, daun mangga, jeruk, cajanus. Belalang ini pernah meningkat populasinya di Kabupaten Belu (NTT) tahun 1980an menyerang tanaman jagung dan di kabupaten Jeneponto (Sulsel) tahun 2004 menyerang jagung dan kedelai.
Belalang Kembara Mulai Serang Tanaman...(Kompas, 24/01/2012)
Kefamenanu, Kompas - Ribuan hingga jutaan belalang kembara mengancam tanaman di areal sawah tadah hujan di Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Kini, belalang masih berada di padang sekitar 1 kilometer dari sawah seluas 150 hektar milik warga.(Kompas, 24 Januari 2012).
Judul besar mengenai hama belalang kembara yang diberitakan di harian Kompas tg 24 Januari 2012 di NTT bukan hal baru lagi, daerah ini merupakan endemis Belalang Kembara setelah Propinsi Lampung. Untuk mencegah meluasnya hama tersebut perlu kiranya memahami teknik pengendalian yang tepat, berikut cara pengendalian belalang kembara yang sering menyerang tanaman komoditas unggulan. Semoga tulisan ringan ini mampu memberikan solusi.
CARA PENGENDALIAN
1). Pola tanam
Di lahan pertanian tanaman pangan yang menjadi ancaman hama belalang kembara (sekitarnya terdapat populasi gregaria) perlu dipertimbangkan untuk mengatur pola tanam dengan tanaman alternatif yang tidak disukai belalang dengan penanaman gilir jenis tanaman, tumpang sari atau diversifikasi.
2). Pengendalian cara mekanis
Melakukan gerakan massal pengendalian mekanis sesuai stadia populasi :
Stadia telur
Untuk mengetahui adanya lokasi telur maka harus melakukan pemantauan lokasi dan waktu hinggap kelompok belalang dewasa secara intensif.
Pada areal tersebut atau lokasi bekas serangan yang diketahui terdapat populasi telur, dilakukan kegiatan pengumpulan kelompok telur yaitu dengan melakukan pengolahan tanah, kelompok telur diambili dan dimusnahkan, kemudian lahannya segera ditanami kembali dengan tanaman yang tidak disukai belalang.
Stadia nimfa
Setelah 2 minggu sejak hinggapnya kelompok belalang kembara mulai dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya penetasan nimfa. Pengendalian pada saat nimfa adalah kunci penting (jangan sampai menjadi dewasa). Pengendalian dapat dilakukan dengan memukul atau menjaring. Pengendalian nimfa dengan cara menghalau nimfa ke suatu tempat terbuka atau yang sudah disiapkan dan menjaring dengan jaring belalang.
3). Pemanfaatan agens hayati.
Agens hayati Metarrhizium anisopliae var. acridium, Serratia sp/bakteri merah, Beauveria bassiana, Enthomophaga sp. di beberapa negara terbukti dapat digunakan pada saat populasi rendah. Penggunaan agens hayati efektif sebagai pencegahan secara dini dan penggunaan agens hayati strain lokal lebih diutamakan.
4). Penggunaan insektisida
Apabila cara-cara lain sudah ditempuh, populasi masih tetap tinggi alternatif lainnya yaitu penggunaan insektisida yang efektif dan diijinkan sesuai dengan komoditasnya. Pengendalian yang tepat dilakukan sejak stadia nimfa kecil karena belum merusak, dalam kelompok kecil terdapat populasi yang besar, stadia nimfa lebih peka terhadap insektisida, dan aplikasi dapat dilakukan pada siang hari. Apabila terpaksa karena terlambat atau populasi tidak diketahui sebelumnya, pengendalian terhadap imago dilaksanakan pada malam hari pada saat belalang beristirahat (mulai belalang hinggap pada senja hari sampai terbang waktu pagi hari).
5). Penanaman kembali.
Pada areal yang terserang belalang dan musim tanam belum terlambat, diupayakan segera diadakan penanaman kembali dengan tanaman yang tidak disukai belalang.
.
Sampai saat ini tikus (
Rattus argentiventer Rob & Kloss) masih merupakan salah satu organisme pengganggu penting di Indonesia. Kerusakan yang ditimbulkannya tidak hanya terbatas pada pertanaman di sawah tetapi juga komoditi-komoditi dalam penyimpanan. Disamping itu distribusi kerusakan tanaman dapat tersebar pada pertanaman padi beririgasi di dataran rendah, pertanaman dataran tinggi dan pertanaman padi pasang surut. Susut hasil yang diakibatkan oleh serangan tikus swah dapat menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti.
Kerusakan serius pada pertanaman padi sampai beberapa ribu hektar dan menyebabkan kerugian yang besar pertama kali dilaporkan pada tahun 1915 di Cirebon, Jawa Barat dan selanjutnya setiap tahun kerusakan yang terjadi bertambah terus bahkan pada tahun 1961 eksplosi serangan tikus terjadi di Jawa dan Madura. Eksplosi serangan tersebut meliputi areal sekitar 1.822.000 hektar yang terdiri dari 1.000.000 hektar dengan intensitas serangan 35% dan sisanya 822.000 dengan intensitas serangan 28% (Dandi, S dkk 1978).
Tikus merupakan hama klasik yang selalu dapat dijumpai di lapang pada setiap musim tanam, sehingga menjadi kurang diperhatikan dibandingkan dengan organisme pengganggu lain termasuk cara pengendaliannya. Berbagai cara pengendalian tikus telah dilakukan oleh petani baik secara swadaya maupun dengan bantuan pemerintah (Kementerian Pertanian) namun hasilnya masih belum memuaskan.
Tikus sawah termasuk famili Muridae, famili ini merupakan kelompok binatang mamalia yang paling berkembang di dunia. Muridae dapat dijumpai dimana saja pada berbagai habitat, adanya tekanan ekologis hanya berpengaruh sedikit terhadap perubahan struktur dan bentuk. Semua jenis (spesies) dalam famili ini kelihatan serupa dan kadang-kadang sulit dibedakan. Muridae adalah satu dari 9 famili di dalam sub ordo Myomorpha dari ordo Rodentia. Secara skematis dapat ditulis sebagai berikut :
Ordo : Rodentia
Sub ordo : Myomorpha
Famili : Muridae
Genus :
RattusSpesies :
Rattus argentiventerTikus dapat menyerang semua stadia tanaman, baik stadia vegetatif maupun stadia generatif dan susut hasil yang ditimbulkan dapat menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti. Usaha pengendalian yang intensif biasanya selalu terlambat, karena baru dilakukan setelah terjadi kerusakan yang luas dan berat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, salah satu yang perlu diperhatikan adalah mengenai bioekologi dari hama tersebut.
MorfologiTikus sawah mirip dengan tikus rumah, tetapi telinga dan ekor lebih pendek. Panjang kepala - badan dan tungkai belakang pada tikus dewasa secara keseluruhan adalah 170 - 208 mm dan 34 - 43 mm. Ekor biasanya lebih pendek dari panjang kepala-badan.
Habitat dan tingkah lakuHabitat tikus sawah sebagian besar di persawahan dan lingkungannya. Mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi sehingga tikus sawah dapat menyebar ke dataran rendah sampai dataran tinggi, suka menggali liang untuk berlindung dan berkembang biak. Membuat terowongan, jalur jalan (runway) sepanjang pematang dan tanggul irigasi.
Tikus sawah termasuk binatang pemakan segala (Omnivora), makan apa saja yang dijumpai. Apabila makanan berlimpah mereka cenderung memilih makanan yang paling disukai, yaitu biji-bijian khususnya padi yang selalu tersedia di lapang. Pada saat kondisi lahan diistirahatkan (bera) tikus menginfestasi ke pemukiman penduduk dan gudang-gudang (tempat penyimpanan).
Pengendalian Tikus sawahStrategi penting dalam pengendalian tikus sawah adalah pelaksanaan metode pengendalian secara simultan. Metode pengendalian tikus dapat dibagi menjadi kultur teknis, mekanis dan kimiawi.
1, Kultur teknis
- Tanam serempak
- Meminimalkan tempat tinggal dan tempat-tempat persembunyian, dan
- Sanitasi lingkungan persawahan.
2. Cara mekanis dan kultur teknis :
- kombinasi pagar plastik dan perangkap sistem bubu
3. Cara Kimiawi
- Pengumpanan/aplikasi rodentisida
- Fumigasi liang
.
Wereng Batang Coklat/Brown Plant Hopper (Nilaparvata lugens Stal.)
Termasuk ordo Homoptera, famili
Delpahacidae. Perkembangan hidupnya dari telur - Nimfa - Imago.
Telur:- Berwarna putih bentuknya seperti pisang
- Diletakkan secara berkelompok 8-16 butir/kelompok dalam jaringan pelepah daun
- Jumlah telur 100 - 600/ekor serangga betina
- Stadium telur 7 - 10 hari.
Nimfa:- Mengalami 5 instar
- Maing-masing dibedakan berdasarkan ukuran tubuh dan bentuk bakal sayap
- Nimfa muda umumnya berwarna putih, semakin tua semakin coklat
- Stadium nimfa 12 - 15 hari
- Instar 4 dan 5 dibedakan berdasarkan ada tidaknya bintik hitam pada sayap/bakal sayap
- Sayap brakhiptera transparan dan tulang sayap (vena) nampak jelas, sedangkan bakal sayap nimfa berwarna coklat tidak transparan.
Imago:- Dewasa berwarna coklat muda atau coklat tua
- Warna sayap berbintik-bintik pada bagian pertemuan sayap depan
- Panjang serangga jantan 2 - 3 mm
- Bentuk sayap dewasa terdiri dari dua bentuk, bersayap panjang (makroptera) dan bersayap pendek (brakhiptera), terjadi karena pengaruh lingkungan (kondisi tanaman, kepadatan populasi, dan genetik)
- Bentuk brakhiptera lebih berperan untuk berkembang-biak
- Bentuk makrotera berfungsi untuk berpindah tempat, sangat tertarik cahaya lampu
- Umur serangga dewasa 18 - 28 hari
- Siklus hidup berlangsung sekitar 25 hari
Kerusakan yang ditimbulkan:Kerusakan tanaman yang ditimbulkan dapat fatal, karena serangan terjadi pada areal yang luas dan berulang kali. Tanaman padi muda yang terserang akan menguning dan mati, sedang pada tanaman tua pertumbuhan akan merana dan bulir padi akan hampa. Wereng Batang Coklat (WBC) menghisap cairan tanaman sehingga pada tanaman padi yang terserang secara luas terlihat gejala terbakar (spot hopper burn) yang sering pula disebut puso.
Cara Pengendalian:1. Pengaturan pola tanam
2. Penggunaan varietas tahan
3. Pengendalian hayati ( memanfaatkan patogen serangga
Beauveria bassiana, Metarrizium anisopliae, Hirsutella citriformis)
4. Eradikasi (bila ditemukan serangan kerdil rumput dan kerdil hampa dengan pencabutan dan pemusnahan)
5. Penggunaan insektisida : bila dijumpai WBC 10ekor/rumpun pada tanaman berumur < 40 hst atau 20 ekor/rumpun pada tanaman > 40 hst. Insektisida yang dipilih bersifat selektif, efektif dan diizinkan untuk digunakan pada tanaman padi.
Daftar Pustaka:
Pedoman Rekomendasi PHT pada tanaman pangan
Direktorat Perlindungan Tanaman.
.

De
wasa ini di Indonesia telah dikenal 6 jenis penggerek batang padi, yang terdiri 5 jenis keluarga (famili) Pyralidae dan 1 jenis famili Noctuidae Tanaman semusim seperti padi keadaan ekologinya berubah-ubah terus. Hal tersebut mengakibatkan tidak stabilnya keseimbangan antara populasi hama dan musuh alami (predator, parasit, dan patogen). Pada tanaman semusim sering terjadi pemutusan masa bertanam yang akan yang akan mengakibatkan tidak berkembangnya musuh alami. Jadi, perkembangan hama meningkat terus tanpa ada faktor pembatas dari alam. Bersamaan dengan itu orang lalu menggunakan pestisida secara berlebihan, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya resistensi pada hama, kematian musuh alami, timbulnya hama baru karena tidak adanya musuh alami, dan hama berusaha meningkatkan keturunannya karena generasinya terancam punah, terjadilah ledakan hama seperti Penggerek Batang Padi (PBP).
Jenis-jenis penggerek ini memiliki sifat atau ciri yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologi, namun hampir sama dalam cara menyerang atau menggerek tanaman serta kerusakan yang ditimbulkannya.
1. Penggerek Batang Padi Kuning (Scirpophaga incertulas Walkers) Pyralidae
Jumlah telur 50-150 butir/kelompok, diletakkan malam hari selama 3-5 malam sejak malam pertama, stadium telur 6-7 hari. Larva berwarna putih kekuningan, stadium larva 28-35 hari terdiri dari 5-7 instar. Pupa berwarna kekuningan atau agak putih, stadium pupa 6-23 hari. Imago jantan mempunyai bintik-bintik gelap pada sayap bagian depan. Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm. Ngengat betina berwarna kuning dengan bintik hitam di bagian tengah sayap depan. Ngengat aktif pada malam hari dan tertarik cahaya. Jangkauan terbang dapat mencapai 6-10 km. lama hidup ngengat 5-10 hari dengan siklus hidup 39-58 hari.
Perubahan kepadatan populasi PBPK di lapangan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban, varietas padi yang ditanam, dan musuh alami yaitu parasitoid, predator dan pathogen).
2. Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga innotata Walkers) Pyralidae
Jumlah telur 170-260 butir/kelompok, diletakkan diatas daun atau pelepah, mirip telur PBPK ditutupi rambut halus, berwarna coklat kekuning-kuningan, stadium telur 4-9 hari. Larva panjang 21 mm, berwarna putih kekuningan stadium larva 19-31 hari (kalau mengalami diapauses dapat berlangsung 3 bulan). Pupa stadium 6-12 hari. Ngengat berwarna putih, panjang betina 13 mm dan jantan 11 mm, tertarik cahaya.
3. Penggerek Batang Padi Bergaris (Chilo suppresalis Walkers) Pyralidae
Jumlah telur 20-150 butir/kelompok, stadium telur 4-7 hari. Larva berwarna abu-abu kepala coklat dengan 5 garis coklat sepanjang tubuhnya. Beberapa larva dalam tiap tunas, stadium larva 33 hari berlangsung 3 bulan. Ngengat berwarna coklat muda, warna sayap depan coklat tua, panjang 1,3 mm.
4. Penggerek Batang Padi Kepala Hitam (Chilo polychrysus Meyrick) Pyralidae
Telur berkelompok pada daun dekat pangkal/pelepah, stadium telur 6 hari. Larva berkepala hitam, stadium larva 30 hari, larva ini hidup bersama-sama dalam satu tunas. Pupa berwarna coklat tua, stadium pupa 6 hari. Ngengat berkepala hitam, sayap depan bersisik, bagian tengah berwarna keperakan, sayap belakang kuning muda, panjang 10 - 3 mm. Siklus hidup 26 - 61 hari.
5. Penggerek Batang Padi Berkilat (Chilo auricillius (Aurilicia) Dudgeon) Pyralidae
6. Penggerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferens Walkers) Noctuidae
Jumlah telur 30 - 100 butir butir/kelompok diletakkan diantara pelepah daun batang padi. Tidak terttutup sisik, stadium telur 6 hari. Larva kepala merah jambu, beberapa larva tiap tunas, stadium larva 28 - 56 hari. Pupa panjang 18 mm berwarna coklat tua. Ngengat kurang tertarik cahaya, sayap depan bergaris coklat tua memanjang, sayap belakang berwarna putih, panjang ngengat 14 - 17 mm.
GEJALA SERANGAN
Semua jenis penggerek batang padi menimbulkan gejala sundep, jika menyerang tanaman padi yang belum berbunga (masa vegetatif). Pucuk batang padi menjadi kering, berwarna kuring, dan mudah dicabut. Jika batang padi digerek pada waktu tanaman berbunga (masa generatif), bulir padi menjadi hampa disebut gejala beluk.
PENGENDALIAN
Pengendalian hama Penggerek Batang Padi (PBP) dilakukan dengan cara :
· Memunguti telur/paket telur yang terdapat di persemaian dan daun padi di lapang
· Sesudah panen dilakukan penggenangan air 1 - 2 minggu, lalu dibajak dalam keadaan basah, agar ulat/pupa yang bersembunyi pada pangkal batang menjadi mati.
Daftar Pustaka:
Pedoman rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi
Direktorat Perlindungan TP. (2003)
.