MENGENAL MUSUH ALAMI PADA TANAMAN PADI
11.55 | Author: Urip SR
Laba2 pemburu/predator (Foto: Pramono Hans)
Musuh alami adalah mahluk hdup yang berguna untuk mengendalikan kepadatan populasi hama.  Tanpa musuh alami, hama akan memperbanyak diri dengan cepat dan memakan habis pertanaman padi.  Keseimbangan antara serangga hama dan musuh alami sering terganggu oleh penggunaan pestisida yang tidak tepat.
Meskipun insektisida masih kita perlukan, namun penggunaannya harus bijaksana agar dapat menyelamatkan dan melestarikan kehidupan alami.
Terdapat 3 kelompok musuh alami, yaitu : predator, parasit, dan pathogen.
1.    Predator
Adalah makhluk hidup yang mengendalikan hama dengan cara memakan hama.  Predator mempunyai bentuk yang mudah dilihat, tetapi kadang sulit dibedakan dengan hama.  Satu ekor predator dapat memakan lebih dari satu hama.  Contoh : laba-laba, kumbang, belalang, jengkerik, kepinding, capung, cecopet, semut, ular, dan lain-lain.
Oleh karena predator merupakan pemangsa yang umum, maka hama dalam jumlah tertentu selama tidak merugikan secara ekonomi adalah baik untuk memelihara adanya populasi predator, sehingga dapat mencegah terjadinya ledakan hama yang menimbulkan kerusakan.
2.Parasit
Adalah makhluk hidup berukuran kecil yang menumpang hidup pada hama tertentu dan menyebabkan hama tersebut mati.  Parasit meletakkan telur secara berkelompok atau sendiri-sendiri pada tubuh hama atau didekatnya.  Bila satu telur parasit menetas dan berkembang menjadi dewasa, maka hamanya akan segera mati.
Parasit hanya dapat mematikan seekor hama, sedangkan satu jenis hama dapat dimatikan oleh banyak jenis parasit.  Parasit dapat menyerang telur, larva, nimfa, kepompong maupun hama dewasa.  Contoh parasit penggerek hama batang padi : Tetrastichus sp, Telenomus sp, Amauromorpha sp, Xanthopimpla sp, Stenobracon sp, Phanerotoma sp,.
Jamur patogen serangga Beauveria bassiana
3.Patogen
Adalah jasad renik yang dapat menyebabkan infeksi pada hama sehingga hama mati.  Tiga kelompok pathogen adalah jamur (mengendalikan wereng, ulat), virus (mengendalikan ulat), dan bakteri.  Contoh : jamur Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana menginfeksi wereng, kepinding, dan kumbang.
Pemanfaatan Musuh Alami
•    Pemanfaatan predator dan parasit secara massal dan kemudian dilepaskan disawah tidak diperlukan karena disawah sudah banyak terdapat predator dan parasit.  Predator dan parasit tersebut perlu dijaga keberadaannya antara lain dengan mengurangi penggunaan insektisida yang memiliki daya racun yang luas.
•    Patogen hama dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang murah dalam bentuk cairan atau tepung, yang dalam pelaksanaannya di lapangan dapat disemprotkan seperti menggunakan insektisida yang biasa,
,
Perbanyakan Parasitoid Trichogramma sp.
11.56 | Author: Urip SR
Parasitoid dikenal sebagai salah satu musuh alami yang sangat berperan dalam menekan perkembangan hama penggerek batang padi (Scirpophaga sp.) di alam. Oleh karena itu usaha konservasi ataupun eksplorasi pemanfaatan parasitoid untuk usaha pengendalian hayati di lapangan dapat diperbanyak di laboratorium dengan menggunakan telur Corcyra cephalonica (ngengat beras) sebagai inangnya.
Dibeberapa kabupaten di Pulau Jawa parasitoid penggerek batang padi (PBP) tersebut di beberapa tempat telah diperjual belikan kepada petani/diantara petani dalam bentuk kemasan kertas pias. Demikian juga penggunaan parasitoid telur untuk pengendalian hama penggerek pada tanaman tebu, seperti di Jawa Tengah sudah diproduksi secara besar-besaran untuk menekan serangan penggerek pucuk pada tanaman tebu.
Diketahui, ada tiga jenis parasitoid telur penggerek batang padi yang efektif yaitu Tetrastichus sp., Telenomus sp., dan Trichogramma sp. Dari ketiga jenis parasitoid ini yang mudah diperbanyak di laboratorium adalah jenis Trichogramma sp.
I. Pembiakan inang Corcyra
1. Bahan dan Alat:
Bok pemeliharaan (rearing)
ukuran 90X40X10 cm.
Tabung peneluran diameter 12 cm,
tinggi 20 cm.
Pakan (campuran pakan ayam, dedak dan jagung giling dengan perbandingan 1:1:1.
Tabung reaksi diameter 3 cm, tinggi 25 cm.
Petridish/cawan petri.
Kertas karton, kuas, gunting, cutter, saringan teh.
2. Prosedur Pembiakan Corcyra .
Pakan (campuran pakan ayam, dedak dan jagung giling dengan perbandingan 1:1:1). Agar tidak terkontaminasi dengan hama lain, pakan terlebih dahulu dioven atau disangrai, kemudian dimasukkan ke dalam bok pemeliharaan (rearing) ratakan hingga ketebalan 3 cm ( ± 4 kg per bok).
Masukkan telur Corcyra ± 10.000 per box pemeliharaan sampai ngengat muncul sekitar 6 minggu.
Ngengat yang muncul dikumpulkan dengan menggunakan tabung reaksi, kemudian masukkan ke dalam tabung peneluran yang terbuat dari kertas karton. Bagian atas dan bawah tabung peneluran ditutup kain kassa.
Tabung peneluran disimpan dengan posisi tegak diatas petridish yang telah diberi alas kertas.
Peneluran dilakukan selama 1 hari.
Telur-telur yang menempel pada kassa disikat dengan kuas dan ditampung pada cawan petridish.
Telur dibersihkan dari kotoran dengan menggunakan saringan teh.
Telur yang telah bersih sebagian digunakan untuk pembiakan parasitoid dan sebagian yang lain dibiakkan lebih lanjut (sesuaikan dengan kebutuhan).
II. Pembiakan Parasitoid Trichogramma sp.
Bahan dan Alat:
Stater parasitoid (Trichogramma sp.)
Telur C. cephalonica hasil pembiakan.
Kertas karton.
Kertas pias ukuran 1,5 cm X 9 cm.
Tabung reaksi diameter 3 cm, tinggi 25 cm.
Gom arab.
Kuas, gunting, cutter, kain hitam, karet gelang.
Lampu ultra violet 15 watt.
Lemari pendingin (kulkas).
2. Prosedur pembiakan parasitoid
Trichogramma sp.
Siapkan pias yang terbuat dari karton manila yang berukuran 1,5 X 9 cm.
Pias dilapisi gom arab yang sudah dicampur air dengan perbandingan 1:2.
Taburkan sekitar 2.000 butir telur Corcyra secara merata pada pias yang telah dilapisi gom arab, kemudian dikering anginkan selama 5 menit.
Pias yang berisi telur Corcyra disterilkan dengan penyinaran lampu ultra violet (15 watt) selama 30 menit.
Satu pias berisi stater parasitoid dan 5 pias berisi telur Corcyra yang sudah steril dimasukkan ke dalam satu tabung reaksi.
Setelah 4 hari sudah ada penampakan telur yang terparasit berwarna kehitam-hitaman.
Pias berisi telur Corcyra yang telah terparasit siap digunakan langsung di lapang. Atau disimpan dalam lemari pendingin (kulkas) selama 3-4 hari.
Apabila pias berisi telur Corcyra terparasit tidak digunakan dapat disimpan dalam lemari pendingin (bias bertahan selama 3 minggu).
III. Pelepasan parasitoid Trichogramma sp.
1. Bahan dan alat:
Pias berisi telur terparasit
Gelas plastik (bekas kemasan air mineral).
Benang/tali rafia.
Ajir ukuran panjang 1,5 meter.
2. Prosedur pelepasan parasitoid
Pias-pias berisi telur terparasit dilubangi pada ujungnya dan diikat dengan benang.
Bagian dasar gelas plastik dilubangi.
Benang pengikat dimasukkan ke dalam lubang pada dasar gelas plastik sehingga pias berada di dalam gelas.
Gelas plastik dengan pias digantungkan/dijepit terbalik pada ajir dan disimpan/diaplikasikan di lapangan dengan kepadatan ± 100 pias/Ha untuk 9 kali pelepasan. Waktu pelepasan dan jumlah pias adalah sebagai berikut:
1. Pesemaian umur 10 HSS = 12 pias.
2. Pesemaian umur 14 HSS = 12 pias.
3. Pertanaman umur 2 MST = 12 pias.
4. Pertanaman umur 3 MST = 12 pias.
5. Pertanaman umur 4 MST = 12 pias.
6. Pertanaman umur 5 MST = 10 pias.
7. Pertanaman umur 6 MST = 10 pias.
8. Pertanaman umur 7 MST = 10 pias.
9. Pertanaman umur 8 MST = 10 pias.
Pias-pias dipasang menyebar dan merata di lapangan.
Pelepasan parasitoid dapat juga dilakukan berdasarkan populasi telur PBP, 1 pias (1500 parasitoid) untuk 50 kelompok telur penggerek.
.
Dari Trichogramma sp. menuju Kalpataru
14.25 | Author: Urip SR
Pemenang anugerah lingkungan Kalpataru 2010 di antaranya para perintis lingkungan, yang secara individual berkiprah memperbaiki atau meningkatkan kualitas lingkungan. Salah satu diantaranya Kholifah asal Pasuruan Jawa Timur. Perempuan petani ini menerima Kalpataru karena sukses merintis budi daya padi organik dengan mengurangi hama, khususnya hama penggerek batang dengan menggunakan musuh alaminya, parasit Trichogramma sp.

Kholifah sebelumnya belajar di Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman milik Departemen Pertanian di Pasuruan, untuk mempelajari metode ramah lingkungan ini. Setelah menguasainya, pada 1999 Kholifah merintis penggunaan parasit tersebut dan diterapkan di sawahnya seluas satu hektar.

”Sejak tahun 1999, saya merintis penggunaan parasit Trichogramma sp. karena tidak berdampak pada lingkungan. Jadi, lebih aman,” ujar Kholifah, Selasa (8/6), seusai menerima Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta.

Kholifah terus menyebarkan cara-cara penggunaan musuh alami hama itu kepada empat kelompok tani dengan luas sawah puluhan hektar di Pasuruan. Dia kini mampu mengembangbiakkan Trichogramma sp. hingga mencapai 20.000 pias per tahun. Setiap satu pias bisa digunakan untuk beberapa hektar lahan.

Untuk menunjang produksi padi organik, Kholifah juga memproduksi 5.000 liter per tahun pupuk organik cair, 6 ton per tahun pupuk organik padat. Kholifah juga mengembangkan usaha tanaman hias dan produksi jamur antagonis. (Sumber: Kompas Kamis, 10 Juni 2010 | 04:28 WIB)***

Bersambung.....!!!!