 |
| Leuit (lumbung padi) suku Baduy, Gula Aren & Tenun (c) Urip SR |
Bukan katanya lagi, sekarang menikmati langsung keindahan alam Baduy beserta adat istiadatnya, walau hanya di masyarakat Baduy luar. Mepetnya waktu sehingga tidak sampai ke Baduy dalam (Kampung Cibeo, Cikartawana, Cikeusik) maklum menuju ke lokasi ini butuh waktu 5 jam jalan kaki.
Seluruh warga Baduy kehidupan ekonominya mengandalkan dari hasil pertanian ladang dengan bercocok tanam pangan padi huma serta tanam pisang, dan umbi-umbian.
Mereka sepanjang hari kesibukan aktifitas diladang serta hasilnya dijual ke penampung di Terminal Ciboleger untuk dibawa ke Pasar Rangkasbitung.
Beberapa hasil ladang itu bila musim kemarau seperti saat ini dijual ke pasar Rangkasbitung, antara lain durian,gula aren,daun serai,pisang,petai,manggis dan aneka kerajinan tangan juga budidaya madu hutan.
Menurut Ki Sanati (65), selama ini petani Baduy mengembangkan pertanian tanaman pangan tanpa menggunakan pupuk kimia karena bertentangan dengan adat setempat. Penggunaan pupuk kima itu,kata dia, selain dilarang oleh kebiasaan adat, juga bisa menyebabkan rusaknya alam lingkungan.
Oleh karena itu lanjut dia, masyarakat Baduy hingga kini lebih memprioritaskan pupuk organik dari sampah ataupun kompos.
Umumnya petani Baduy bertanam itu diladang perbukitan secara nomaden (berpindah tempat) sampai kembali ke kebun asal hingga kondisi tanah subur lagi. Kearifan lokal ini terjaga secara turun temurun.
“Disini sampai saat ini belum pernah kelaparan karena hasil bumi selalu mencukupi, seperti panen padi huma hanya untuk keperluan keluarga saja.” ujar Ki Sanati yang menjadi tempat tinggal sementara waktu peliputan.
Ia mengatakan bahwa orang-orang Baduy memercayakan ekonomi dari hasil bumi dengan bercocok tanam di lahan darat.
Mereka mengembangkan lahan pertanian perbukitan karena cocok ditanam padi huma dengan masa panen mencapai umur 6 bulan.
 |
| Padi Huma ditanam dilereng bukit (Foto: Urip SR) |
Masyarakat Baduy tetap mempertahankan produksi pangan dari nenek moyangnya, termasuk larangan memiliki media elektronika juga jaringan aliran penerangan listrik.
Saridi maupun Narisa, mengatakan bahwa dirinya tiap hari ke kebun untuk menyadap nira (bahan gula aren) dan memetik pisang dikebun untuk dijual. Ia saat ini sibuk dikebun untuk masa tanam padi huma. Untuk jangka pendek ia memanen daun serai maupun pisang untuk dijual ke penampung dipasar Rangkasbitung.
“Kami sangat terbantu ekonomi dari hasil pertanian itu,” Jelasnya.
Kearifan lokal yang mampu menopang ketahanan pangan di masyarakat baduy, ia mampu memberdayakan komunitasnya tanpa harus berteriak-teriak minta bantuan. Masyarakat yang mandiri yang mampu membaca isyarat alam dan selalu bersyukur atas hasil bumi yang melimpah sehingga masyarakat baduy memperlakukan alam dengan sangat hati-hati. Karena dengan merawat alam maka akan terhindar dari Mala.
Peliput : Urip SR (BBPOPT) dan Hendi (POPT Leuwidamar)***
.
Dipenghujung tahun ini ditutup dengan perjalanan panjang selama tiga hari menyusuri wilayah Jawa Barat bagian utara dan selatan. Cukup melelahkan namun mengasyikkan karena ada beberapa destinasi wisata yang sempat dikunjungi seperti Kawah Putih Ciwidey, Cikole Jayagiri Resort, dan Perkebunan Teh Rancabali semua menyuguhkan panorama alam yang indah.
Yang sempat terjejak antara lain :
 |
| Kawah Putih (Foto Urip SR) |
1. Kawah Putih, Ciwidey Bandung
Sebagaimana halnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung. Dari hal tersebut terungkap bahwa kandungan belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang melintas diatas permukaan danau kawah putih. Karena kandungan belerang di danau kawah tersebut sangat tinggi, pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel Ontgining "Kawah Putih".
Di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain Makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Kongbas dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut domba lukutan.
 |
| Cikole Jayagiri Resort (Foto Urip SR) |
2. Cikole Jayagiri Resort
.
Dahulu dikenal sebagai Bumi Perkemahan Cikole, lokasi ini sejak tahun 2010 oleh Perum Perhutani KPH Bandung Utara telah dikelola menjadi sebuah resort, yaitu kawasan wisata alam terpadu dengan berbagai fasilitas pendukung yang memadai.
Cikole Jayagiri Resort terletak 28 km sebelah utara kota Bandung, tepat di poros wisata Lembang - Tangkuban Parahu - Ciater. Resort ini menyediakan fasilitas akomodasi yang sangat nyaman berupa pondok2 wisata (cottages) di tengah asrinya hutan pinus.
Sebagai Kawasan Wisata Terpadu Cikole Jayagiri Resort menawarkan berbagai aktifitas luar ruang seperti Outbond Training, Fun Game, Tree-Top Adventure, Off Road Safari, Paint Ball, dan ATV Ride. Terdapat juga arena sepeda gunung (Down Hill) yang diakui sebagai salah satu jalur terbaik di Indonesia.
 |
| Kawasan Kebun Teh Rancabali (Foto: Urip SR) |
3. Perkebunan Teh Rancabali.
Panorama asri yang hijau oleh hamparan kebun teh merupakan agrowisata yang tak kalah menarik. Kawasan ini dikelola oleh PTPN VIII yang menghasilkan produk Teh kualitas ekspor. Topografi perbukitan yang ditumbuhi oleh tanaman teh memberikan kesan alam yang kental dengan alam pedesaan parahyangan yang masih alami.
Ketiga tempat destinasi wisata yang sempat terjejak ini begitu lekat dihati, memberikan kenangan yang terdalam sangat indah mempesonakan netra yang memandang, seperti syair lagunya Bimbo bahwa Tanah Parahyangan tercipta kala Tuhan tersenyum.
Memang benar-benar indah.
Bacaan Penunjang:
Sejarah Kawah Putih - Perum Perhutani Wil Bandung
Ucapan terima kasih: kepada teman2 Polhut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA)Wil Jawa Barat yang telah memberikan tumpangan gratis.
(USR)***
 |
| Masjid di tepi Pantai Talise (Foto: Urip SR) |
Pemandangan yang indah di bibir pantai Talise Kota Palu, Sulteng. Deburan ombak dan semilir angin menepis segala kegalauan menjadi sirna. Mentari semakin tergelincir diarah barat horison, angin laut semakin terasa menusuk. Sesekali deburan ombak keras memecah kesunyian pantai Talise. Lewat foto aku menelanjangi setiap sudut pantai....

Ngawi (11/04/2012) Suwarno Edy Santosa salah satu anggota Trinil Jeep Club Ngawi, menawari tantangan untuk menikmati offroad di Hutan Kali Kangkung, siapa takut??? Pengalaman yang berharga ini sayang untuk dilewatkan. Itung2 pengalaman menjadi co-driver padahal seumur-umur baru kali ini ikut olah raga ekstrim. Naik genteng aja takut...hehehhe apalagi naik jeep turun naik daerah berbatu, menembus semak belukar hutan jati. Amazing....! Pertamaxs Gan...:-D
Menurut Pak Warno aktifitas di club ini tidak hanya melulu tentang automotf saja, tetapi juga melakukan kegiatan lain yang bersifat sosial seperti membantu suplay logistik pada daerah bencana (pada saat bencana Merapi di Magelang) Trinil Jeep Club Ngawi (TJCN) ikut berpartisipasi. Itulah sedikit tentang si Trinil.
Kembali keaktifitas offroad, kalau diamati olah raga ini melatih kesabaran, menumbuhkan kesetiakawanan, juga melatih disiplin. Menurut pak Warno ada jargon yang berkembang diantara offroader katanya "Bagi elo Rimba, bagi gue jalan raya" begitulah secara kelakar bahwa jalan yang sulit bukan rintangan tapi tantangan yang harus diselesaikan. Seperti judul tersebut diatas "Tantangan bukan Rintangan" barangkali merupakan kalimat yang sudah dipatenkan oleh offroader. Hehehehe keren ya ...top gan..!
Hutan Kali Kangkung

Daerah ini merupakan tempat latihan para offroader TJCN, katanya setiap hari libur selalu ada yang latihan ketangkasan menyetir disini. Kalau melihat topografinya sih lumayan menantang. Lahan yang berbukit ini merupakan hutan jati hasil budidaya, vegetasi yang tumbuh disini antara lain pohon jati (
Tectona grandis), pohon mahoni (
Swietenia mahagoni), akasia (
Acasia auliformis), dan perdu basah khas hutan tropis. Hewan liar yang masih ditemukan disini hanya Ayam alas (apakah masih termasuk hewan yang dilindungi..???).
Hutan ini tumbuh dibantaran sungai bengawan solo, panorama alam cukup aduhai kalau dilihat pada pagi dan sore hari. Menurut aq sih ini wisata jenis baru menikmati suasana jalur off road merasakan suasana yang lebih nature ber off road di hutan.
Wisata off road ini secara tidak langsung melatih fisik dan mental. Olah raga yang sering mengadakan event2 nasional seperti yang akan berlangsung di Gresik pada akhir bulan April mendatang, olah raga yang dinaungi oleh IOF (Indonesian Offroad Federation) organisasi otomotif yang menaungi kegiatan offroad.
Memacu adrenalin di hutan kali kangkung
Bersambung ya gan....:-)
.

Ngawi (9/04/2012) Setelah pemanasan mengikuti offroad di Alas Kali Kangkung daerah bantaran Bengawan Solo, Ngawi, latihan dilanjutkan di daerah benteng pendhem, kombinasi topografi yang bergelombang dan berlumpur merupakan tantangan tersendiri. Rasanya jantung ini berpacu lebih kuat manakala harus mendaki dalam kemiringan 45 derajat dan langsung memasuki kubangan lumpur yang cukup dalam. Sungguh adrenalin ini dipacu, maklum baru pertama kali menjadi co-driver pada olah raga yang ekstrim ini. Pak Warno driver andal yang telah menaklukkan latihan sessi pertama di Alas Kali Kangkung, kali ini

harus takluk dengan kubangan lumpur di belakang benteng pendhem (Benteng ini peninggalan Belanda yg dibangun antara tahun 1839 s/d 1845). Pak Warno merupakan anggota Komunitas TRINIL JEEP OFFROAD NGAWI yang rutin melaksanakan latihan di Alas Kali Kangkung dan Benteng Pendhem.
Menikmati Panorama Senjakala
Inilah saat-saat yang ditunggu manakala senja mulai tiba, ribuan kelelawar beterbangan berkonfigurasi di langit bebas mulai beraktifitas mencari makanan dimalam hari. Konfigurasi indah meliuk-liuk diudara sekumpulan kelelawar keluar dari Benteng Pendhem, mengingatkan kita pada Istana Drakula. Beberapa turis domestik mengabadikan fenomena munculnya ribuan kelelawar keluar dari sarangnya, sementara hewan-hewan liar seperti ayam alas sudah mulai menyambut sang dewi malam.


Moment ini yang paling ditunggu-tunggu setelah berkeliling mengagumi bangunan tua peninggalan Belanda, bangunan kokoh ini menjadi salah satu obyek wisata peninggalan bersejarah kota Ngawi. Benteng yang berdiri di pinggir aliran sungai bengawan solo ini teronggok kumuh kurang perawatan, kalau dikelola secara profesional Benteng ini mampu menyedot wisatawan lokal maupun mancanegara. Sayang aset yang berharga ini dikelola secara asal-asalan.
Letak Benteng Pendhem
Benteng Pendem atau disebut juga sebagai Benteng Van Den Bosch dibangun pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 dengan nama Font Van Den Bosch . Terletak di Kelurahan Pelem , Kecamatan Ngawi wisata sejarah ini mudah dijangkau dengan alat transportasi karena letak dekat dengan pusat kota Ngawi.
Pemandangan yang eksoktik pada saat senja kala, bangunan tua yang antik sering dipakai sebagai obyek foto pre wedding.
Rasanya masih ingin mengeksplor lebih dalam lagi tentang misteri benteng pendhem ini, ada segudang pertanyaan yang menyelimuti benak ini, berapa korban saat pembangunan benteng ini, sekitar 8 tahun baru selesai dibangun lalu untuk apa dibangun diwilayah tersebut, kapan pertama kali benteng ini ditemukan? Hal ini sangat menarik untuk bahan kajian, paling tidak melengkapi sejarah masa lalu yang suram dari sebuah negara yang lama dijajah oleh Belanda sekitar 350 tahun bangsa ini dibelenggu oleh penjajah.
Masih tertarik ??? Tunggu ekspedisi selanjutnya, (USR)***
.
P

USTAKA merupakan perpustakaan bidang biologi dan pertanian tertua di Indonesia yang didirikan pada bulan
Mei 1842. Dunia mengenalnya dengan nama
Bibliotheca Bogoriensis.PUSTAKA sebagai unit pendukung kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian Kementerian Pertanian mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan perpustakaan dan penyebaran informasi iptek pertanian. Dalam mengemban tugas tersebut, PUSTAKA selalu berupaya beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat melayani pengguna dengan prima.
Mengingat pengalaman Pustaka dalam hal Pengembangan perpustakaan maka perjalanan ke instansi tersebut diharapkan dapat membawa hasil dalam pembenahan perpustakaan di BBPOPT Jatisari yang kondisinya sungguh sangat memprihatinkan.
Sebuah perpustakaan yang kondisinya sedang mati suri karena ketiadaan penanganan yang profesional, sementara keberadaan perpustakaan masih dianggap sebagai pelengkap semata.
Dalam kunjungan dinas ke
Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) di Jl. Ir. H. Juanda No. 20 Bogor, pada tanggal 23 Nopember 2010, ada beberapa pelajaran mendasar yang bisa dipetik dari diskusi dengan Kepala Bidang Perpustakaan ( Bp. Maksum), hasil diskusi tersebut antara lain:
1. Mengenal bahan pustaka dan cara mengelolanya.
2. Petunjuk teknis registrasi bahan pustaka ke dalam buku induk.
3. Petunjuk teknis tata cara penerimaan majalah.
4. Petunjuk pengelolaan pangkalan data dan pencetakan katalog menggunakan komputer.
5. Petunjuk pencetakan kartu katalog dengan program WP atau MS Word.
6. Pemanfaatan nomor panggil dalam kegiatan perpustakaan.
7. Petunjuk pembentukan nomor panggil buku dan label buku.
8. Petunjuk pencetakan label buku menggunakan komputer.
9. Petunjuk teknis penyusunan bahan pustaka di rak perpustakaan.
10. Petunjuk ringkas cara pengindekan majalah dan monograf analitik.
11. Pedoman penyusunan paket informasi Spesifik lokasi.
12. Petunjuk penggunaan kartu buku sebagai kartu kendali pada jasa sirkulasi bahan pustaka.
13. Layanan referensi.
14. Jasa penelusuran informasi.
15. Pemanfaatan jasa kesiagaan informasi.
16. Penelusuran informasi pertanian melalui CD-ROM CAB Abstract, AGRIS, AGRICOLA, TROPAG & RURAL.
17. Petunjuk pengelolaan mikrofis.
18. Petunjuk penyiapan penjilidan majalah.
19. Petunjuk penggunaan Agrovoc untuk menentukan kata kunci.
20. Petunjuk teknis penggunaan bahan klasifikasi UDC.
21. Penyiangan koleksi perpustakaan.
22. Sistem pelayanan perpustakaan.
23. Petunjuk penyusunan bibliografi.
Semoga jalan-jalan kali ini bermanfaat buat yang lain. Mari kita tanamkan gemar membaca pada anak-anak kita. membaca membuka cakrawala dunia.
.
Menurut sejarah di situs resmi Pemerintah kabupaten Wonosobo, nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta. "Di" yang berarti tempat yang tinggi atau gunung, dan "Hyang" yang berarti kayangan (surga). Tidak heran memang karena banyak hal menarik di Dieng yang jarang ditemukan di wilayah lain.Pelajaran berharga dari petualangan di Bumi Khayangan ini yang utama adalah mensyukuri anugerah Tuhan, betapa kekayaan alam yang tak ternilai dengan panorama yang elok dan sumber daya alam (Gas Bumi), hasil pertanian (kentang) merupakan aset yang mendatangkan devisa bagi pemerintah setempat.
Melihat dan merasakan sendiri keelokan alam pegunungan yang mempesona, tak henti-hentinya mengabadikan dalam sebuah kamera dan mencatat setiap bagian dalam aliran kata-kata membentuk jajaran kalimat seperti jajaran situs candi-candi kuno yang bertebaran di bumi Dieng.
Betapa egoisnya apabila hanya dinikmati sendiri maka berbagi kepada yang lain merupakan kepuasan batin.
Jajaran candi-candi Hindu berukuran kecil, tetapi berarsitektur unik, bisa menjadi wahana pendidikan bagi anak-anak dan keluarga yang berkunjung di kompleks ini. Candi-candi tersebut diperkirakan berdiri sekitar abad ke tujuh dan delapan, dan merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya. Beberapa cagar budaya yang dapat dikunjungi antara lain:
Kompleks DharmacalaBangunan tempat persistirahatan para peziarah, biasanya terdapat di sekitar candi/vihara. Di Dharmacala inilah para peziarah mempersiapkan diri untuk beribadat ke candi atau menghadap guru di vihara termasuk memepersiapkan peralatan upacara.
Gangsiran AswotomoMerupakan saluran air yang dahoeloe kala digunakan untuk mengeringkan dataran. Sebelumnya dataran tinggi Dieng adalah sebuah danau yang terjadi dari bekas kepundan gunung berapi. Konon menurut cerita saluran ini tembus sampai Kota Pekalongan. Wallahu alam bisawab.
Kompleks CandiSalah satu kelompok lokasi candi yang mengelompok dalam satu kompleks anatara lain Candi Pendawa, yang memiliki lima buah deretan candi, yaitu Candi Semar, Arjuna, Srikandi, Sembadra, dan Puntadewa. Candi-candi tersebut diperkirakan berdiri sekitar abad ke tujuh dan delapan, dan merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya.
Sedangkan candi-candi yang lain, seperti Candi Gatotkaca, Dwarawati, Bima, dan lainnya, letaknya tersebar dan terpisah-pisah.
Dieng Plateau TheaterDi dataran tinggi Dieng juga memiliki
Dieng Plateau Theater, yaitu bioskop yang memberi informasi mengenai peristiwa dan kejadian alam di Dieng, seperti peristiwa Kawah Sinila yang menghembuskan udara beracun pada tahun 1979, yang menelan korban jiwa hampir 150 warga. Wahana ini memiliki kapasitas 100 kursi yang sangat nyaman bagi kita dan keluarga. Nilai edukasi pun bisa didapat karena film yang diputar membahas budaya dan kehidupan masyarakat Dieng.
KawahDieng juga menyuguhkan berbagai situs yang menyajikan fenomena alam mengagumkan. Semisal, sebagai kawasan pegunungan aktif, beberapa kawah di Dieng masih mengeluarkan lumpur hitam yang mendidih, asap putih tebal, dan gas yang mengandung belerang. Kita pun berkesempatan menyaksikan Telaga Warna yang bila kita beruntung, bisa melihat aneka warna yang berbeda karena kandungan mineral pada telaga tersebut.
Bagaimana menuju kawasan Dieng Plateau?
Alhamdulilah jalan wisata Wonosobo-Dieng, Km 20 yang kemarin longsor pada awal tahun 2009, sekarang sudah bisa dilalui moda transportasi seperti mobil/truk/bus. Untuk memperlancar arus lalu lintas, jembatan beilei dan perbaikan permanen menggunakan jembatan cor beton sepanjang sekitar 40 meter sudah 80% selesai sehingga jarak tempuh menjadi lebih efisien. Dari terminal bus Wonosobo bisa menggunakan bus kecil dengan tarif Rp.8000,- menuju kawasan wisata dieng plateau. Nah mudah bukan??? Mari berkunjung dan lestarikan warisan budaya bangsa Indonesia sekaligus situs penghormatan masa lampau, candi-candi yang tersisa harus dirawat dengan maksimal. Sudah saatnya bangsa ini menghargai peninggalan masa lalu nenek moyang kita. Akhirnya, Menyusuri Bumi Khayangan sampai disini dan dirangkai dengan tulisan lain seputar kawasan dieng dengan pokok bahasan yang berbeda.
Ucapan terima kasih: Kepada keluarga Bpk Bambang Riyadi motivator Gapoktan "PERKASA", rekan-rekan Petani Kentang Desa Dieng Kulon (Kabul Suwoto, Samsul, Yahya, Budi dll), Hotel Gunung Mas (tempat kami menginap) Jl. Dieng Plateau No.42 Batur Telp. (0286) 3342017 Banjarnegara.
Diatas ketinggian 2000 m diatas permukaan laut, udara pagi yang dingin menggigit sendi-sendi tulang, hembusan napas mengeluarkan asap putih mengepul sesaat menahan dan mengeluarkannya pelan-pelan laksana asap dupa yang mengepul.
Tarikan napas dan tubuh yang menggigil walau dibalut dua lapis baju tebal tak mampu mengusir hawa dingin pagi hari.
Letaknya yang berada pada ketinggian di atas 2.000 meter dari permukaan laut, membuat suhu udara di Dieng cukup dingin, yaitu berkisar 15 hingga 20 derajat Celcius di siang hari dan 10 derajat Celcius pada malam hari. Bahkan, suhu bisa mencapai di bawah 5 derajat Celcius pada pagi hari di musim kemarau.
Perjalanan yang tak biasa ini mengantarku ke dataran tinggi Dieng bukan untuk berwisata tetapi kebetulan sedang melaksanakan Kajian Pengembangan Pengendalian Nematoda Sista Kuning (NSK) Skala Luas pada tanaman kentang, bersama Gabungan kelompok tani "Perkasa" desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Banjarnegara. Secara geografis, Dieng merupakan dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, dengan jarak sekitar 30 kilometer dari Kota Wonosobo.
Dalam kajian itu melibatkan 50 orang petani kentang (25 orang petani dari Banjarnegara dan 25 orang petani dari Wonosobo). Sasaran dari kajian tersebut ingin mendiseminasikan teknologi PHT-NSK kepada 50 orang petani peserta, menerapkan seluruh komponen teknologi PHT-NSK pada lahan praktek percontohan, dan menerapkan sebagian komponen teknologi PHT-NSK pada 50 lahan sebagai lahan praktek mandiri masing-masing petani peserta.
Judul tersebut diatas Menyusuri Bumi Khayangan bukan tanpa alasan, karena banyak orang mengatakan Dieng adalah negeri diatas awan, diatas ketinggian 2000 m dpl memang terlihat awan berarak beriringan meliputi dataran tinggi Dieng.
Jadi cukup beralasan toh???
Naluri petualangan pun kembali mengusik manakala dalam perjalanan menempuh lokasi demplot yang kebetulan berdekatan dengan kompleks candi. Apalagi medan yang terjal, menurun, menanjak dan menukik begitu memacu adrenalinku.
Sengaja aku duduk dekat jendela mobil, agar leluasa menikmati hawa pegunungan yang segar sekaligus memandang panorama sekeliling yang mengagumkan. Hati berdegup kencang saat sopir bus mengendalikan laju kendaraannya membelah tebing tinggi dan jurang menganga yang setiap saat menyergap apabila lalai. Wuiiihhh,....amazing...!!!
Ada banyak catatan tercecer mengenai perjalanan menyusuri Bumi Khayangan yang tidak melulu menyuguhkan pemandangan pegunungan atau kesejukan udara yang bersih dan segar. Namun terdapat kompleks candi tempat bersemayan dewa-dewi yang semuanya diberi nama tokoh pewayangan. Sangat menarik bukan???(USR) ***
.

Angin berhembus lembut diantara rintik gerimis yang mengawali perjalananku ke jembatan Barelang, kali ini rombongan team dari
BPTPH Jawa Tengah memanfaatkan waktu jeda untuk bertamasya ke Pulau-pulau kecil sekitar Kota Batam.
Tawaran untuk bergabung segera bersambut “pucuk dicinta ulam tiba” memang ajakan inilah yang saya tunggu (maklum gratis..he2…)
Rugi besar kalau seminggu di Kota Batam tidak dimanfaatkan untuk “jalan-jalan”, perjalanan tidak biasa ini memang dalam rangka mengikuti
Pameran Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) yang digelar dari tanggal 15 s/d 22 Juli 2010 di area Batam Center (depan gedung DPRD Batam/Asrama Haji).
Ini gara-gara termakan hasutan dari teman-teman daerah lain yang dengan bangganya menceritakan pengalamannya di Pulau batam.
Bahkan ada idiom yang berlaku, kalau pergi ke kota Batam belum lengkap kalau belum ke jembatan Barelang. Nah, lhoh semakin penasaran lagi…!!!
Okeylah kalau begitu..mumpung ada yang ngajak – gratis lagi – siapa takut.
Angin berhembus lembut namun rintik gerimis semakin deras, wah hujan, bisa gawat nih acara…!

Sepanjang perjalanan kami hanya menikmati pemandangan dari dalam mobil maklum hujan semakin deras membasahi kota seribu pulau ini.
Di ujung aspal kami berputar karena sudah tidak ada jalan lagi selain hamparan laut luas. Kami berdoa semoga perjalanan pulang kali ini hujan reda.
Rupanya doa kami terkabul perjalanan pulang hujan pun reda sehingga rombongan team BPTPH berhamburan keluar mengabadikan moment yang menarik untuk berfoto ria.
Apa sih istimewanya jembatan Barelang?
Jembatan Barelang merupakan penghubung
3 pulau yaitu
Batam,
Rempang dan
Galang, keberadaannya diprakarsai oleh
Habibie dalam rangka mengembangkan wilayah industri di Kepulauan Riau. Jembatan yang selesai dibangun pada
1992 memiliki
panjang 2 km yang terdiri dari 6 jembatan.
Rangkaian jembatan yang letaknya kurang lebih 20 km dari pusat kota ini, masing-masing jembatan dinamai sesuai dengan nama-nama raja yang dahulunya berkuasa di kerajaan Melayu.

Rangkaian keenam jembatan tersebut yaitu, jembatan
Tengku Fisabilillah : menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton, lalu disambung jembatan
Narasinga menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, kemudian jembatan
Ali Haji yang menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok, dilanjutkan jembatan
Sultan Zainal Abidin menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau rempang, lalu jembantan Tuanku Tambusai menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang, dan yang terakhir jembantan
Raja Kecil menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru.
Jembatan yang sering juga disebut jembatan Habibie oleh masyarakat sekitar, pada setiap hari libur sering dikunjungi oleh warga baik yang tinggal sekitar Batam atau oleh pengunjung Kota Batam. Menikmati matahari yang perlahan tenggelam, menyaksikan para nelayan lokal yang tengah mencari ikan dengan perahu sederhananya atau sekedar menikmati ombak laut yang sesekali membuncah memecah keheningan sekitarnya. Keindahan pemandangan sekitar pulau-pulau yang dapat dinikmati dari atas jembatan memberi suasana dan eksotisme tersendiri.Sekitar jembatan juga banyak penjaja makanan ringan hasil tangkapan sungai sekitar jembatan (udang dan kepiting goreng).

Pemandangan lain yang tak kalah menarik adalah perkebunan buah naga yang cukup luas dan merupakan agrowisata di pulau ini, diantara lereng-lereng bukit berjejer tanaman buah naga, jalan yang lengang maklum tidak ada angkutan umum yang memasuki wilayah ini, transportasi yang digunakan hanya mobil bak milik proyek apabila mau bepergian ke kota. Barangkali karena populasi penduduk yang sangat jarang sehingga tidak ada trayek ke pulau-pulau kecil ini. Barangkali inilah sebuah eksotisme daya tarik dari kota seribu pulau yang sedang bergeliat menuju eksplorasi besar-besaran untuk menggaet wisatawan.
Angin berhembus semilir mengusir kegerahan siang yang cukup panas, nasi soto dan teh obeng mengakhiri perjalanan ujung aspal pulau Batam.(USR)***
Ucapan terima kasihKepada Teman-teman BPTPH Provinsi Jawa Tengah( Pak Suryo Banendro dan Ibu, Pak Marwoto, Pak Gunawan, Mbak Daniar, Mbak Misgiyati, Mbak Triherni, Mas Didi, Mas Adri, Mas Bakri)
.

Kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) adalah hutan lindung untuk keperluan penelitian milik Kementerian Kehutanan. Kawasan hutan seluas
45 hektar ini dikenal dengan sebutan
Kebon Kembang dibangun
tahun 1937, hutan lindung yang diperuntukan sebagai kegiatan penelitian kehutanan, dan di KHDTK ini berdiri kegiatan penelitian antara lain Kebon Percobaan penelitian tanaman rempah dan Aneka Tanaman Industri, Badan Litbang Pertanian yang berpusat di Cimanggu Bogor.
Hutan Penelitian Cikampek (Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam).
Jadi di kawasan ini terdapat dua penelitian yakni penelitian milik Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertanian.
Kawasan yang asri dan sejuk ini berada pada ketinggian 50 meter diatas permukaan laut, merupakan paru-parunya kota Cikampek, sayang kawasan ini kurang tertata dengan rapi sehingga kelihatan kumuh dengan kehadiran warung2 liar dipinggir jalan. Seharusnya pihak pengelola menempatkan mereka menjadi satu sehingga kesan hutan yang alami benar2 terjaga.

Memasuki kawasan hutan ini memang sedikit terganggu dengan tumpukan bau sampah baik dari arah Cinangka maupun dari arah Cikampek Timur.
Kawasan Hutan ini pernah dipakai sebagai studio alam TV Indosiar dalam serial film Misteri Gunung Merapi, panorama hutan yang sesungguhnya dengan pohon2 besar berumur ratusan tahun menjadikan lokasi ini cocok sebagai tempat shooting film laga.
Akses jalan menuju Kebon Kembang sudah mulai rusak, beberapa titik dijumpai aspal sudah mulai mengelupas, sebagian pohon juga ada yang meranggas kering, vegetasi yang tumbuh di

kawasan ini antara lain Pohon Jati (
Tectona grandis), Sonokeling, Mahoni (
Swietenia mahagoni), Akasia, Suren dll.
Kerindangan pohon dan udara yang segar cocok sebagai tempat refresing melepas penat menikmati wisata alam yang murah meriah.
Sikon seperti inilah sering dimanfaatkan oleh muda-mudi sebagai tempat untuk memadu kasih.
Selain menawarkan hawa yang sejuk di tempat ini juga sebagai wahana belajar untuk anak2 agar lebih mengenal dan mencintai hutan.
Kita bisa mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis tanaman hutan, manfaat dan nama latinnya des menumbuhkan rasa cinta kepada alam semesta.
.
Kotabaru 13 Juli 2010
Persiapan seminggu sudah cukup untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tema hortikultura, maklum kali ini mengikuti Pekan Flori dan Flora Nasional di Batam yang diselenggarakan dari tanggal 15 s/d 22 Juli 2010.
Wah..asyik bisa mengunjungi kota Batam, hari ini (13/07/2010) adalah persiapan terakhir menyiapkan ubo rampe pameran, tiket pesawat Jakarta - Batam PP sudah dipesan satu hari sebelumnya. Sekarang lebih fokus lagi bagaimana menyiapakan pameran semeriah mungkin agar tampil elegan dan informatif.
Rencana pk 07.10 terbang dari Soekarno-Hatta menuju Batam (kalau tidak delay)
Seperangkap bahan pulikasi sudah siap di bagasi Isuzu De Max, untuk mengejar waktu harus meluncur dari kantor pk 02.00 WIB, driver (Toto YS) sudah dibooking untuk mengantar ke Bandara.
Bersambung.....
.


Perjalanan akhir bulan Januari berakhir di Kabupaten Ngawi , waktu yang teramat singkat saya pergunakan sebaik mungkin agar bisa mengenal lebih dekat kota Ngawi yang merupakan kota di Jawa Timur yang letaknya paling Barat berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah.
Kota ini mempunyai Luas wilayah seluas 1.298,58 km2, di mana sekitar 40 persen atau sekitar 506,6 km2 berupa lahan sawah.
Topografi wilayah ini adalah berupa dataran tinggi dan tanah datar. Tercatat 4 kecamatan terletak pada dataran tinggi yaitu Sine, Ngrambe, Jogorogo dan Kendal yang terletak di kaki Gunung Lawu. Secara administrasi kota Ngawi berbatasan dengan Kab. Grobogan, Kab. Blora (Jateng) dan Kab. Bojonegoro (sebelah utara), sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Sebelah Selatan: Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Sebelah Barat: Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen (Propinsi Jateng).

Tidak ada yang istimewa di Kota kecil ini, seperti juga dikota-kota lain disekitarnya, geliat kota Ngawi pada malam hari pun tidak terlalu ramai. Kuliner yang ada tidak banyak memberikan pilihan lain hampir sama , nasi pecel merupakan kuliner khas kesukaan masyarakat Jawa Timur pada umumnya, cemilan khas kota ini hanya tempe kripik, ledre yang begitu banyak dijajakan di pusat jajanan. Waktu yang singkat tidak memberikan keleluasaan untuk berkunjung ke tempat wisata di Kota Ngawi.
Beberapa obyek wisata yang ada tidak satupun dikunjungi seperti Pemandian Tawun, Waduk Pondok, Air terjun Srambang,
serta kebun Teh Jamus
yang berhawa sejuk dan terdapat Kolam Pemandian di sekitar Perkebunan Teh tersebut. Perkebunan Teh ini terletak di Kecamatan Sine, Selain Kebun Teh Jamus di Kec. Sine Juga ada Bendungan Ndorjo yang lokasinya di Desa hargosari Dsn. Gondorejo. Selain itu terdapat juga situs purbakala Trinil yang menyimpan fosil
Pithecanthropus erectus (Manusia kera berjalan tegak) pertama kali di temukan oleh arkeolog Belanda bernama Eugene Dubois.
Barangkali lain waktu pasti akan dikunjungi, sebagai tanda bahwa sudah berkunjung di Kota Ngawi, berfoto-ria di terminal Ngawi yang baru merupakan kenangan yang tak terlupakan yang mengobati rasa ingin tahu yang begitu mendalam.
Tidak terasa sore begitu cepat...dan perpisahan dengan Kota kecil Ngawi pun tidak terelakkan lagi. Sampai Jumpa Ngawi...!!! (USR)***
Ucapan terima kasih:
Kepada Keluarga Bpk. Suwarno ES di Paron dan sikecil Arton.
Teman2 PHP, Edi Purnomo, Toha Maksum, Kukuh, Ratih, Titik dll.
Kebaikan bapak/ibu akan selalu dikenang.
.

Melancong tak harus berkunjung ke obyek wisata berpanorama alam indah. Wisata sejarah pun sama menariknya dengan wisata Alam lainnya. Disini kita bisa mengagumi budaya nenek moyang pada jaman dahoeloe kala. Wisata sejarah ini saya lakukan disela-sela perjalanan dinas ke Malang, Jawa Timur. Wisata sejarah kali ini mengunjungi Candi Singosari yang terletak di Jl. Kertanegara Desa Candirenggo, Kec. Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari kota Malang kurang lebih 10 km ke arah utara. Dari Surabaya kurang lebih 88 km ke arah selatan.
Kapan Candi Singosari mulai dikenal oleh masyarakat akademisi dan siapa yang mengetahui pertama kali tidak diketahui dengan pasti. Namun orang yang pertama kali membuat laporan kepurbakalaan tentang Candi Singosari adalah Nicolaus Engelhard, seorang BElanda yang mulai menjabat sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Gouverneur Van Java's Nood-Oost-Kust) tahun 1801 yang berkedudukan di Pasuruhan. Ia melaporkan adanya reruntuhan bangunan candi di daerah Malang tahun 1803. Kemudian pada tahun 1901 Komisi Archeology Belanda mengadakan observasi. Tahun 1904 diadakan observasi ulang dan penggalian. Tahun 1934 Departemen Survey Archeology dari Hindia Timur Belanda merestorasi bangunan candi. Pekerjaan ini selesai tahun 1937, tahun penyelesaian pekerjaan digoreskan pada batu kaki candi di sudut barat daya.
Didalam komplek tersebut banyak arca berserakan di sana-sini, arca yang terdapat di halaman candi Singosari sekarang berasal dari candi-candi yang sudah musnah itu, sebagian banyak yang dibawa ke negeri belanda.
Berkunjung ke Candi Singosari, nuansa mistis begitu kuat sesaat memasuki mulut candi, sisa bau dupa masih tercium. Menurut juru kunci di dalam Candi Singosari sering digunakan ritual oleh masyarakat atau pengunjung. Konon, apabila berkunjung ke Candi Singosari bagi yang mempercayai akan mengitari Candi sebanyak 7 (tujuh) kali putaran, konon semua cita-cita atau keinginan akan terkabul. Demikian kata sang juru kunci. Ini semua tergantung kepada kepercayaan masing-masing individu.
Sungguh luar biasa kekayaan budaya bangsa Indonesia. (uripsr@ymail.com)***
Malang, 11 Desember 2009
Ucapan terima kasih kepada Bpk Lukman POPT Kec. Singosari, dan Bpk Andul Chozin POPT Kec. Lawang yang telah mengantarkan saya ke Lapang dan jalan-jalan selama di Kota Malang..