KECIL TAPI GANAS
09.25 | Author: Urip SR
Wereng Batang Coklat (WBC) Nilaparvata lugens Stal (Delphacidae, Homoptera) sampai saat ini masih diangap sebagai hama utama pada pertanaman padi, karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hamper terjadi pada setiap musim tanam (MT) kerusakan pada pertanaman dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung karena kemampuan WBC menghisap cairan sel tanaman sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati. Secara tidak langsung karena serangga WBC dapat menjadi vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Kerdil rumput (Grassy Stunt) tanaman yang terinfeksi berat akan menjadi kerdil dengan anakan yang berlebihan, sehingga tampak seperti rumput. Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek kaku, berwarna hijau pucat sampai hijau, dan kadang-kadang terdapat bercak karat. Tanaman yang terinfeksi biasanya dapat hidup sampai fase pemasakan tetapi tidak memproduksi malai. Stadia pertumbuhan yang paling rentan adalah pada saat tanam pindah sampai bunting. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh WBC, dan tanaman inangnya hanya padi.
Kerdil hampa (Ragged Stunt) disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh WBC. Penyakit ini menghasilkan beberapa gejala malformasi pada daun seperti daun bergerigi (Ragged) dan melintir (Twisting).
Daun tanaman sakit berwarna hijau tua. Malai dari tanaman yang sakit hanya keluar sebagian dan gabah yang dihasilkan hampa.

Hasil monitoring pasca terjadinya eksplosif WBC di Kabupaten Subang (Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pabuaran, dan Patokbeusi) Rabu, 21/04/2010, menunjukkan pola tanam yang tidak serempak di lapang, kondisi tanaman bervariasi ada yang tanaman muda, sampai menjelang panen dan panen. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistim intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP > 200, dsb).

Kondisi pengairan yang tersedia sepanjang musim di wilayah ini mendorong petani menanam padi terus-menerus sepanjang tahun, tanpa pola, varietas-varietas tanaman padi yang berumur genjah (100-120 hari) ditanam sampai tiga kali setahun atau lima kali selama dua tahun. Dengan demikian dalam hamparan luas terdapat tanaman padi dalam tingkatan umur, dari persemaian sampai dengan masa panen (Staggered planting). Agrosistem yang demikian menyediakan makanan yang terus menerus bagi hama-hama padi hingga ia dapat berkembang biak mencapai jumlah yang menyebabkan eksplosif seperti yang terjadi pada MH. 2009/2010.
Eksplosif penyakit kerdil rumput/hampa berdasarkan kenyataan di lapangan (Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pabuaran, dan Patolbeusi) .
Di daerah itu terdapat tanaman padi dari semua umur dalam areal yang luas, baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun lahan milik petani, perilaku tanam tanpa pola memicu timbulnya wabah penyakit kerdil rumput/hampa.
Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu terjadinya ledakan WBC. Berbagai dampak negative pada lingkungan fisik dan biotic dan kecelakaan pada manusia yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida. Salah satunya ialah, bahwa pestisida menimbulkan wabah hama-hama tertentu (Resirjen).

Sebab-sebabnya yaitu 1) karena musuh alami terbinasakan terlebih dahulu oleh pestisida itu hingga hama itu berkesempatan untuk berkembang menjadi wabah, 2) hama itu memiliki potensi daya tahan yang diwariskan secara genetic yang akan mengekspresikan dirinya bila dirangsang dengan pestisida, 3) pestisida tertentu dapat merobah fisiologi tanaman (kadar protein bertambah) dan merubah struktur jaringan tanaman, hingga hama dapat hidup lebih subur disana (Oka, 1975, Katan and Eshel, 1973).
Setiap penggunaan pestisida, bagaimanapun hati-hatinya selalu masih mengandung resiko terjadinya dampak-dampak negative itu, sebab pestisida adalah racun yang di aplikasikan berkali-kali dalam areal yang luas. Oleh karena itu keputusan untuk menggunakan pestisida hanya bila perlu saja, berdasarkan criteria ilmiah, perhitungan ekonomi dan melestarikan lingkungan.

Pada kasus eksplosif WBC di Kab. Subang bagian utara, keputusan pengendalian WBC dengan pestisida adalah pilihan terakhir mengingat ledakan populasi WBC sangat tinggi diatas ambang pengendalian maka pemadamnya tidak ada lain selain pestisida.
Dengan mempertimbangkan sumber populasi WBC yang sangat tinggi dan sumber penyakit kerdil hampa yang banyak tersebar dipertanaman, maka strategi penanganan WBC yang harus dilakukan adalah:
Menghilangkan secepat mungkin populasi yang ada saat ini, jangan ditunggu sampai menjadi makroptera yang akan terbang kemana-mana. Gerakan pengendalian harus selesai sebelum pertengahan bulan April 2010.
Menghilangkan sumber inokulum penyakit kerdil hampa yang ada dengan cara eradikasi tanaman terserang/puso atau telah dibiarkan petani karena kondisi tanaman yang parah.
Dalam konsep PHT sudah dikembangkan pedoman bagaimana dan kapan saat yang tepat pengambilan keputusan penggunaan pestisida yang dituangkan dalam konsep-konsep tingkat kerusakan ekonomi (TKE), kerusakan ekonomi (KE), ambang ekonomi (AE) dan posisi keseimbangan umum (PKU).

Kerugian yang ditimbulkan

Tergantung pada tingkat kerusakan serangan WBC dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso. Akibat hisapan WBC cairan jaringan pengangkutan tanaman padi menimbulkan tanaman terbakar yang berakibat timbulnya kerusakan dari ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh, sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian). Gejala WBC pada individu rumpun dapat terlihat dari daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar) gejala ini dikenal dengan istilah Hopper Burn.
Dalam suatu hamparan, gejala hopper burn terlihat sebagai bentuk lingkaran yang menimbulkan pola penyebaran WBC yang dimulai dari satu titik, kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian, populasi WBC biasanya sudah sangat tinggi.

Kerugian hasil akibat serangan WBC dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso seperti yang dialami oleh Nemin (55) petani penggarap dari Desa Rancamulya, kecamatan Patokbeusi, lahan garapannya seluas 3 Ha puso akibat serangan WBC yang menyerang sejak tanaman padi berumur 12 HST. Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan bahkan yang paling ekstrim sekalipun ia lakukan menggunakan solar dan oli bekas. Tiga hari setelah aplikasi, datang lagi WBC menyerang.
“ Kalau malam hari pakai obor, jumlahnya ribuan Mas” tuturnya meyakinkan.
“Saya habis modal, saya pasrah mungkin ini musibah, karena baru kali ini gagal panen karena wereng, biasanya sih tidak seperti ini,” katanya lagi dengan nada pasrah.
Keluh kesah Nemin (55) mewakili suara petani lain yang bernasib sama di kecamatan Patokbeusi. Maklum wilayah ini merupakan sumber serangan sehingga pada hamparan yang luas terdapat beberapa spot hopper burn hampir merata, sebagian hamparan masih bias dipanen namun terjadi penurunan hasil yang sangat drastis.
Lain lagi yang dialami oleh Aban (57) petani dari desa Tanjung Rasa Kaler, kecamatan Patok Beusi berbatasan dengan kecamatan Pabuaran, ia masih bias panen 3 ton/ha dari sawahnya. Penurunan hasil panen sekitar 50%, biasanya ia panen 6 ton/ha. Itupun ia sudah menggunakan beberapa jenis pestisida. Lain Nemin lain pula Aban yang secara ekonomi lebih mapan sehingga dalam usaha pengendalian terjadwal tidak terputus setiap 3 hari ia menyuruh kuli untuk menyemprot menggunakan pestisida berbahan aktif buprofezin yang dikombinasi dengan pestisida lain berbahan aktif BPMC.
“Lumayan Mas, daripada puso, karena petak lain juga ada yang puso,” katanya lirih sambil mempermainkan asap rokok.
Menurut Aban (57) selama ini di desanya jarang ada kegiatan penyuluhan, ia sedih jadi petani seperti anak tiri tidak diperhatikan sama sekali, seharusnya ada penyuluhan sehingga tidak kecolongan seperti ini.

Upaya Pengendalian

Tujuan usaha pertanian dari segi mikro (produsen) ialah mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dalam bentuk uang. Ini akan dicapai bila dapat direncanakan perbandingan antara keuntungan dan ongkos produksi (benefit/cost ratio) yang sebesar-besarnya.
Namun dihadapkan pada kondisi yang sangat ekstrim dimana populasi WBC sudah mencapai ribuan tentu menimbulkan kepanikan yang luar biasa di kalangan petani. Alternatif terakhir adalah menggunakan pestisida apa saja yang terdapat di kios saprotan. Pestisida sedemikian melekatnya pada usaha pengendalian dapat kita lihat apabila petani menghadapi serangan hama WBC pada pertanaman secara langsung timbul pertanyaan pestisida apa yang yang tepat digunakan?
Berbagai insektisida yang efektif antara lain yang berbahan aktif amitraz, buprofezin, Beauveria bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml, BPMC, Fipronil, amidakloprid, karbofuran, karbosulfan, metolkarb, MIPCI, propoksur, atau dapat juga dengan menanam varietas tahan.
Daerah-daerah endemik WBC biotipe1, dapat menanam antara lain varietas Memberamo, widas, dan cimelati, untuk biotipe2 dan 3, Memberamo, cigeulis, dan ciapus.
Penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas dan menggunakan tanam pola padi-padi-palawija untuk memustuskan siklus hidup hama tanaman padi.
Dalam agrosistem padi tidak dibenarkan menanam padi terus menerus sepanjang tahun apalagi tanpa pola. Praktek ini akan member kesempatan bagi hama-hama untuk terus berkembang. Untuk mencegahnya sebaiknya penanaman padi digilir dengan palawija. Konsep ini disarankan Oka (1979a) terutama untuk mengatasi masalah hama WBC. Bila air pengairan memungkinkan untuk menanam padi dua kali setahun pola tanamnya adalah padi-padi-palawija yang pergilirannya sebagai berikut: Padi musim hujan ditanam sekitar bulan Desember, dipanen bulan April. Selama April masa pengolahan tanah.
Pada musim kemarau ditanam dalam bulan April dan dipanen sekitar pertengahan Agustus, disusul dengan penanaman palawija yang dipanen sekitar pertengahan November. Pola yang demikian banyak diterapkan petani di Jalur Pantura Jawa Barat.
Bila pola tanamnya adalah padi-palawija-padi, pergiliran tanamnya adalah sebagai berikut: padi musim hujan ditanam sekitar bulan Desember, dipanen sekitar April, segera disusul dengan palawija umur pendek (jagung, kedelai, kacang tanah) yang ditanam akhir Juni.
Kemudian tanah segera diolah untuk ditanami pada musim kemarau sekita Juli dan dipanen November. Pola demikian banyak diterapkan di daerah Jawa Timur yang mengikuti pembagian air irigasi.
Dalam kedua pola tersebut ada masa tanpa tanaman padi yaitu ketika mengolah tanah dan tanaman palawija yang akan menurunkan populasi hama-hama padi serendah-rendahnya. Agar konsep pola tanam dan pergiliran tanam ini berhasil harus dilakukan dalam hamparan yang seluas-luasnya.
Pengolahan tanah dan pengaturan air irigasi lebih menekankan pada membinasakan hama-hama tertentu. Misalnya bila tunggul-tunggul tanaman padi sehabis panen dapat dimasukkan ke dalam tanah ketika sedang mengolah tanah dengan diairi akan membinasakan hama-hama penggerek batang padi (PBP), WBC, dan virus-virus penyakit padi.(uripsr@ymail.com)***
.
This entry was posted on 09.25 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 komentar:

On 27 April 2010 13.08 , Bayu Lebond mengatakan...

kecil-kecil rakusnya minta ampun yo bung...suka menggrogoti rakyat kecil

 
On 30 April 2010 00.03 , bayu mengatakan...

mesti diberantas tuh mbah....
wah mbah urip belom pernah maen ke blog ane nih
maen ya
hehehe (mbah = kidding)

 
On 4 Mei 2010 13.48 , Anonim mengatakan...

@ Sama2 Bayunya: ...yoi hrs dikendalkan bukan di brantas (kalau dibrantas tar habis) nanti keturunan kita ga bisa lihat yg namanya wereng, jadi harus dikendalikan biar secara ekonomi tidak merugikan petani.
Salam kompak..!!!