Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi tersebar diberbagai ekosistem padi, termasuk di Indonesia.  Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Patogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen.  Penyebab penyakit (pathogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun.  Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis.
Gejala Penyakit
•     Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek.  Pada tanaman dewasa menimbulkan gejala hawar (blight).  Gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering.
•    Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa.  Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil mencapai 50-70 persen.  Penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan.
Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Penyakit 
Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri.  Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan ini.  Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk secara berlebihan, gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi pertanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermitten).
Pengendalian Penyakit
1.    Teknik Budidaya
Untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan dengan pengendalian secara terpadu yang mencakup cara budidaya dengan perlakuan bibit secara baik, jarak tanam tidak terlalu rapat, pengairan secara berselang (intermitten), pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan varietas tahan.  Bakteri penyebab penyakit hawar daun bakteri menginfeksi tanaman melalui luka dan lubang alami.  Oleh karena itu memotong bibit sebelum ditanam sangat tidak dianjurkan karena akan mempermudah terjadinya infeksi oleh bakteri pathogen.
2.    Varietas Tahan
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri yang selama ini dianggap paling efektif adalah dengan varietas tahan.  Namun teknologi ini dihambat oleh adanya kemampuan bakteri pathogen membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama.  Adanya kemampuan pathogen bakteri xoo membentuk patotipe baru yang lebih virulen juga menyebabkan pergeseran dominasi patotipe pathogen ini terjadi dari waktu ke waktu.  Hal ini menyebabkan varietas tahan di suatu saat tetapi rentan disaat yang lain dan tahan di suatu wilayah tetapi rentan wilayah lain.  Peta penyebaran patotipe dapat digunakan sebagai dasar penentuan penanaman suatu varietas disuatu wilayah berdasarkan kesesuaian sifat tahan varietas terhadap patotipe yang ada di wilayah tersebut, mengingat tahan terhadap strain tertentu bisa jadi tidak tahan (rentan) terhadap strain yang lain.
Rapat membahas Kajian Pustaka Spectral (Rips)
Kajian Inventarisasi Pustaka Specktral pada OPT utama padi (Penyakit Tungro, Penyakit kresek/BLB, dan Spot Hopperburn Wereng Batang Coklat (WBC) dilaksanakan di Kabupaten Subang untuk pustaka spektral penyakit BLB, kabupaten Purwakarta untuk pustaka spektral penyakit tungro, dan kabupaten Sukoharjo untuk pustaka spektral hooperburn WBC.
Tujuan : untuk mendapatkan pustaka spektra pada gejala serangan OPT (Tungro, BLB, WBC) pada tanaman padi dan mendapatkan metode pengamatan gejala pengamatan serangan OPT dengan menggunakan Spektrometer.
(Bersambung)***

Survey OPT Padi di Kalimantan Tengah
10.26 | Author: Urip SR
Survey OPT Tanaman Padi di Kalteng (2-5 April 2013)
Petugas : Urip SR & Umi Kulsum
Kegiatan surveillans dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah selama 4 (empat) hari. Kegiatan pertama yaitu melakukan koordinasi dengan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kondisi OPT di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Koordinasi berikutnya yaitu dengan Bagian Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi pendukung lainnya.
a.    Keadaan Pertanaman di Provinsi Kalimantan Tengah
    Berdasarkan laporan realisasi tanam pada tahun 2012, pemanfaatan lahan sawah di Provinsi Kalimantan Tengah seluas 218.466 ha dan terbagi menjadi beberapa jenis lahan yaitu sawah rawa pasang surut seluas 111.991 ha (51.26%), sawah rawa lebak seluas 23.643 ha (10.82%), sawah tadah hujan seluas 33.755 ha (15.45%) dan sawah irigasi seluas 49.077 ha (22.46%).
Rencana tanam Provinsi Kalimantan Tengah pada MT 2012/2013 dan MT 2013 adalah seluas 250.608 ha (padi sawah dan padi ladang) dan yang telah terealisasi hingga Bulan Februari seluas 16.159 ha (6.45%). Sedangkan rencana tanam khusus untuk padi sawah pada MT 2012/2013 dan MT 2013 adalah seluas 164.056 ha dan yang telah terealisasi Bulan Februari seluas 15.921 ha (9.71%).
    Padi yang ditanam di Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari beberapa varietas, yaitu diantaranya varietas lokal (siam unus, siam mutiara, siam kuning dan varietas unggul (Ciherang, Situbagendit, IR-64, Inpari 2, Inpari).  
b.  Keadaan Serangan OPT Utama  Padi Periode II Februari 2013
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) utama yang menyerang tanaman padi sampai dengan akhir Bulan Februari 2013 berdasarkan laporan petugas POPT Provinsi Kalimantan Tengah, luas keadaan serangan hama Penggerek Batang Padi (PBP) mencapai 450.2 ha (3.89%), hama Wereng Batang Coklat (WBC) mencapai 26.4 Ha (0.23%), hama Tikus 136.9 Ha (1.18%), penyakit BLB 10.5 Ha (0.09%), penyakit Blas mencapai 37.2 ha (0.32%) dan penyakit Bercak coklat bergaris (Cercospora oryzae) menginfeksi tanaman padi seluas 18.6 ha (0.16%).
Berdasarkan laporan POPT periode II Februari 2013, menyatakan bahwa OPT yang paling banyak menyerang pertanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah adalah hama PBP dan tikus, namun serangannya tidak pernah menyebabkan hingga tanaman menjadi puso. Berdasarkan keterangan POPT, hal tersebut dikarenakan adanya respon yang cepat dalam gerakan pengendalian.
c.    Hasil Pemantauan Lapang
Berdasarkan laporan POPT, terdapat beberapa daerah sentra padi yang menjadi sorotan untuk dilakukan surveillans, yaitu diantaranya Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas. Kegiatan Survey lapangan keadaan OPT di masing-masing kabupaten dilakukan di 3 (tiga) kecamatan, dan masing-masing kecamatan diamati 3 (tiga) desa.
Berdasarkan hasil pengamatan di Kabupaten Barito Timur dan Barito Selatan, dominan tanaman padi sudah berumur tua, bahkan banyak yang sudah panen. Umur tanaman  padi lokal berkisar antara 150-160 HST dan waktu tanam lebih lama dibandingkan dengan varietas unggul.  OPT dominan yang ditemukan di dua kabupaten tersebut adalah penyakit bercak bergaris yang disebabkan oleh cendawan Cercospora oryzae terutama di Kecamatan Paku dan Kecamatan Gunung Bintang Awal. Intensitas serangan tikus di Kabupaten Barito Selatan cukup tinggi, namun pengendalian telah dilakukan dengan cara pengemposan pada lubang aktif.
OPT yang menyerang pertanaman padi di Kabupaten Pulang Pisau adalah hama PBP, tikus, penyakit BLB dan penyakit blas. Umur tanaman padi di Kabupaten Pulang Pisau adalah berkisar antara 15 – 145 HST. Varietas dominan yang ditanam adalah varietas lokal (siam unus dan siam sampoy). Kabupaten Pulang Pisau merupakan daerah pasang surut, sehingga pada saat survey, kondisi persawahan sedang dalam keadaan pasang. Serangan PBP terdapat di seluruh kecamatan yang diamati, namun intensitas serangan masih rendah. Sama halnya dengan serangan penyakit BLB yang terdapat di Kecamatan Maliku dan Kecamatan Pandibatu intensitas serangannya masih relatif rendah. Sedangkan penyakit blas banyak dijumpai di Kecamatan Maliku dengan intensitas serangan mencapai 20,4% di Desa Seh Baru dan 8.5% di Desa Mulyasari. Kondisi keparahan penyakit blas tersebut terjadi pada tanaman tua yang akan dipanen, sehingga perlu ada penanganan terhadap serasah sisa panen yang dapat  berpotensi menjadi sumber inokulum.
Kabupaten Kapuas merupakan lokasi sawah pasang surut. Berdasarkan hasil pengamatan, dominan tanaman padi yang ditanam berumur semai hingga 30 HST dengan varietas dominan lokal (siam mutiara dan siam unus). OPT yang ditemukan adalah hama WDH, penyakit BLB, Cercospora dan penyakit blas. Populasi WDH ditemukan pada persemaian dengan menggunakan jaring. Populasi yang ditemukan mencapai 9,3 ekor per 10 ayunan tunggal di Kecamatan Kapuas Murung. Penyakit padi ditemukan di seluruh kecamatan yang diamati dengan intensitas serangan sekitar 0 – 4.8%.
d.  Upaya yang Dilakukan Instansi Daerah
Menurut laporan POPT, OPT yang terdapat di Kabupaten Pulang Pisau adalah hama PBP. Pada musim tanam sebelumnya, kerusakan hama tersebut mencapai ±200 ha pada umur tanaman 5 MST. Kortikab daerah tersebut telah mengupayakan adanya gerakan pengendalian dengan menggunakan pestisida. Koordinasi dilakukan dengan mengundang Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah untuk merealisasikan biaya pengendalian. Pada awal tanam ini di Kabupaten Pulang Pisau dominan tanaman masih berumur muda, sehingga Kortikab setempat dengan petani berupaya mengendalikan serangan PBP dengan memanfaatkan lampu perangkap. Kegiatan SL selalu dilakukan setiap minggu dengan materi yang tersusun secara sistematik, sehingga informasi-informasi dapat langsung sampai kepada kelompok tani.
Serangan hama tikus pada musim tanam sebelumnya terjadi di Kabupaten Kapuas. Serangan terjadi pada umur tanaman 10 MST. Pemerintah dan Kortikab setempat serta kelompok tani berupaya mengendalikan serangan tikus tersebut dengan cara mencari lubang aktif dan pengemposan belerang.
Petugas Laboratorium Agens Hayati Provinsi Kalimantan Tengah selalu aktif membuat perbanyakan agens hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangan OPT tanaman pangan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Pelatihan kepada ±90 orang petani pengamat dilakukan oleh Balai Proteksi Tanaman Pangan dengan tujuan mempermudah dalam pemantauan OPT tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah.
e.   Prediksi dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil pengamatan surveillans di Kabupaten Pulang Pisau, OPT yang paling banyak menyerang pertanaman padi adalah hama PBP. Intensitas serangan PBP di Kabupaten Pulang Pisau berkisar antara 0 – 4.9% dan serangan yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Maliku, Desa Kenamit Jaya. Rekomendasi yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pengendalian pada spot rumpun yang terserang dengan menggunakan insektisida butiran. Karena tanaman masih muda, maka pengendalian dapat pula dilakukan dengan memanfaatkan parasitoid.
OPT yang menyerang Kabupaten Kapuas adalah hama WDH pada tanaman persemaian dan penyakit padi pada tanaman umur muda. Dominan tanaman padi yang ditanam di Kabupaten Kapuas adalah varietas lokal, sehingga umur semai lebih lama. Populasi WDH yang tertangkap oleh jaring adalah 9,3 ekor/10 ayunan tunggal pada luasan semai rata-rata 300 m2. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan yang lebih intensif. Populasi WDH tersebut dapat menyebabkan tanaman berpotensi terinfeksi penyakit tungro. Selain serangan hama, penyakit padi yang menyerang tanaman padi di Kabupaten Kapuas adalah penyakit BLB, penyakit Blas dan penyakit bercak bergaris (Cercospora). Rata-rata intensitas penyakit yang menyerang adalah 0 – 5,9%. Intensitas serangan masih belum tinggi dan dominan tanaman masih berumur 15–30 HST, sehingga masih dapat dikendalikan dengan memanfaatkan agens hayati. Selain itu, perlu dilakukan pengamatan yang lebih intensif untuk mencegah penyakit menyebar ke pertanaman padi lainnya.
f.   Informasi lainnya
•    Pemasangan Light Trap di Provinsi Kalimantan Tengah adalah berjumlah 83 buah dengan kondisi sudah terpasang semua. Kendala yang dihadapi adalah lampu sering mati pada tengah malam hingga pagi dan sampai saat ini masih belum dapat diperbaiki. Hasil tangkapan light trap terdiri dari serangga hama dan musuh alami.
•    Kondisi THL sangat kurang dan honor sebagian THL selama dua bulan yang belum dibayar oleh pemerintah pusat, ditanggulangi sebagian oleh pemerintah daerah.
•    Petani pengamat yang aktif di Provinsi Kalimantan Tengah berjumlah 32 orang.
•    Sistem budidaya padi di Provinsi Kalimantan Tengah dominan menggunakan varietas lokal (siam) membutuhkan waktu tanam yang lama yaitu sekitar 6-8  bulan. Sedangkan varietas unggul biasa ditanam pada bulan Mei – September
•    Jenis pestisida yang beredar di wilayah pengamatan Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari insektisida sebanyak 55 buah, herbisida 60 buah, fungisida 13 buah dan rodentisida sebanyak 4 buah.
(Umi Kulsum & Urip SR)***
.
Survey OPT Jagung di Sulawesi Tengah
16.58 | Author: Urip SR
Survey OPT Utama Jagung di SulTeng
Kabupaten    : Sigi, Donggala, Kota Palu
-    Propinsi    : Sulawesi Tengah
Waktu Surveylance    : tanggal 26 Februari s/d 1 Maret 2013
Petugas Surveylance    : Urip Slamet Riyadi
              Nurpiah          
1.    Keadaan Pertanaman Jagung Tahun 2013 di Sulteng :
a.    Luas Tanam    : 63,526 Ha
b.    Luas Panen    : 60,501 Ha
c.    Provitas    : 42.52 KU/Ha
d.    Produksi    : 257, 250 Ton
2.    Keadaan Pertanaman Jagung di Kab. SIGI
•    Luas Tanam    : 18,384 Ha
•    Luas Panen    : 17,508 Ha
•    Provitas    : 40.99 KU/Ha
•    Produksi    : 71,772 Ton
3.    Keadaan Pertanaman Jagung di Kab. DONGGALA
•    Luas Tanam    : 4,371 Ha
•    Luas Panen    : 4,163 Ha
•    Provitas    : 41.21 KU/Ha
•    Produksi    : 17,156 Ton
4.    Keadaan Pertanaman Jagung di Kota. PALU
•    Luas Tanam    : 1,284 Ha
•    Luas Panen    : 1,223 Ha
•    Provitas    : 39.58 KU/Ha
•    Produksi    : 4,840 Ton
Prakiraan Serangan
Kab. SIGI
Berdasarkan laporan periode bulan Februari I/2013 terdapat OPT antara lain : Penyakit Karat Daun, Penggerek Tongkol (Heliothis armigera), Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis), dan Belalang kembara.  Keempat OPT tersebut dengan kategori serangan sedang.  Sedangkan OPT Jagung yang akan berkembang di lapang diprakirakan adalah………..dan diprakirakan akan meningkat pada musim tanam 2013 adalah Belalang kembara, hawar daun jagung, hal ini disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang terawat banyak ditumbuhi gulma, sedangkan kondisi iklim yang basah (hujan) memicu perkembangan penyakit hawar daun jagung.
Kab. DONGGALA
Berdasarkan laporan periode bulan Februari I/2013 di Kab. Donggala hanya dilaporkan 2 (dua) OPT utama antara lain : Penggerek Tongkol (Heliothis armigera), dan Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora).  Kedua OPT utama tersebut dengan kategori serangan tingkat sedang.  Sedangkan OPT Jagung yang akan berkembang di lapang diprakirakan adalah………..dan diprakirakan akan meningkat pada musim tanam 2013 adalah Belalang kembara, hawar daun jagung, hal ini disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang terawat banyak ditumbuhi gulma, sedangkan kondisi iklim yang basah (hujan) memicu perkembangan penyakit hawar daun jagung.
Kota. PALU
7.    Berdasarkan laporan periode bulan Februari I/2013 di Kota. Palu hanya dilaporkan 2 (dua) OPT utama antara lain : Belalang Kembara, dan Ulat Grayak (Spodoptera litura).  Kedua OPT utama tersebut dengan tingkat kategori serangan sedang.  Sedangkan OPT Jagung yang akan berkembang di lapang diprakirakan adalah………..dan diprakirakan akan meningkat pada musim tanam 2013 adalah Belalang kembara, hawar daun jagung, hal ini disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang terawat banyak ditumbuhi gulma, sedangkan kondisi iklim yang basah (hujan) memicu perkembangan penyakit hawar daun jagung.
8.    Upaya yang dilakukan Instansi Daerah
Upaya pengendalian masih bersifat sporadis dilakukan secara swadaya oleh petani yang bersangkutan atas rekomendasi dari POPT terutama untuk daerah serangan WBC dan BLB.
9.    Rekomendasi Pengendalian
Untuk daerah endemis WBC direkomendasikan sbb:
Penanaman varietas tahan, jarak tanam tidak terlalu rapat, pergiliran varietas, aAplikasi pestisida yang dianjurkan dan yang berbahan aktif Bufrofezin, fipronil, amidakloprid dan teametoksan.
Untuk daerah endemis BLB direkomendasikan sbb :
Varietas tahan yang bermutu, pemupukan sesuai dosis anjuran, pengaturan air, hindari penggenangan terus menerus. (USR)***
Ucapan terima kasih kepada Bp. Kaharudin Penanggung Jawab LPHP Sigi Biromaru, Bp. Abdul Gaffar Staf BPTPH Sulteng, juga kepada Ibu Ir. Sufiati Sanrang MSi, Kepala BPTPH Sulteng yang berbaik hati meminjamkan Mobil utk keperluan surveylance.
.
Surveylance OPT Padi di Sumatra Selatan
16.39 | Author: Urip SR
Catatan Sepanjang Perjalanan (Survey OPT Padi Tgl 5-8 Februari 2013)
Pengamatan OPT Padi di OKI (Foto Urip)
Kab. Ogan Komering Ilir (OKI)
OPT yang diprakirakan akan meningkat pada musim tanam 2012/2013 adalah Tikus dan BLB hal ini disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang bersih terutama di dekat tanggul/pematang besar banyak ditumbuhi gulma, sedangkan jarak tanam yang rapat karena faktor tanam benih langsung (Tabela) dan kondisi iklim yang basah (hujan) memicu perkembangan BLB.
Sedangkan di kec Lempuing Jaya belum ada pertanaman, hanya terdapat persemaian Kondisi lahan masih terendam banjir (Sawah Lebak Pematang) Persemaian umur 1-15 Hss untuk persiapan tanam bulan Maret, kecamatan lainnya kondisi lahan masih terendam banjir dan belum ada persiapan persemaian.
Persemaian darat Padi Lebak pematang (Foto Urip)
Kab. Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur)
OPT yang diprakirakan akan meningkat adalah BLB dan WBC.  Untuk wereng batang coklat terdapat spot hopper burn di Desa Tanjung Bulan, Kec. Buai madang dengan padat populasi 165 ekor/rumpun varietas ciliwung, daerah ini merupakan sumber serangan mengingat disekitarnya masih ada persemaian untuk persiapan tanam bulan Maret.  Sedangkan untuk BLB daerah endemisnya terdapat di Desa Peracak Kec. Bunga Mayang menyerang pada varietas Ciherang TW dengan intensitas serangan Berat s/d Puso, selain faktor iklim pemicu terjadinya serangan BLB adalah benih yang tidak bermutu (Ciherang TW) bukan benih berlabel yang banyak beredar, juga sistem Tabela dengan jarak tanam yang rapat dan pemupukan N yang berlebihan.
Mobil Operasional BPTPH SumSel (Foto Urip SR)
Ogan Ilir
Tanaman padi lebak pematang hanya ditemukan di Kecamatan Rantau Panjang. OPT yang ditemukan adalah WBC, tikus,  dan BLB. Populasi WBC masih dibawah ambang dan umur tanaman 60 Hst varietas Ciherang, sedangkan intensitas serangan tikus dan BLB masih dibawah 3%, sehingga kondisi ini masih relatif aman mengingat disekitar lokasi belum ada tanaman sehingga perkembangan OPT tidak akan terjadi di wilayah ini.  Kecamatan lainnya kondisi lahan masih terendam banjir, persiapan semai memanfaatkan tanah darat di pekarangan dan pinggir jalan, umur persemaian rata-rata 1-15 Hss (hari setelah sebar).
4.    Upaya yang dilakukan Instansi Daerah
Upaya pengendalian masih bersifat sporadis dilakukan secara swadaya oleh petani yang bersangkutan atas rekomendasi dari POPT terutama untuk daerah serangan WBC dan BLB.
5.    Rekomendasi Pengendalian
Untuk daerah endemis WBC direkomendasikan sbb:
Penanaman varietas tahan, jarak tanam tidak terlalu rapat, pergiliran varietas, aAplikasi pestisida yang dianjurkan dan yang berbahan aktif Bufrofezin, fipronil, amidakloprid dan teametoksan.
Untuk daerah endemis BLB direkomendasikan sbb :
Varietas tahan yang bermutu, pemupukan sesuai dosis anjuran, pengaturan air, hindari penggenangan terus menerus.  (USR)***
Trima kasih kepada Bpk Ir. M. Zuhri, MM Kasi Yantek BPTPH Sumatera Selatan, Marpin Efendi Staf Teknis BPTPH Sum-Sel,  Ir. M. Antulat T, leader surveylance BBPOPT serta Bu Aam Mulyani.
.
Gorontalo Selayang Pandang
15.33 | Author: Urip SR
Survey OPT Jagung edisi tgl. 18 - 21 September 2012 di Gorontalo.
Jagung termasuk komoditas penting di Indonesia, baik sebagai bahan pangan dan pakan maupun bahan baku industri.  Masalah yang dihadapi dalam budidaya jagung antara lain adalah Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  Maka untuk mengantisipasi lonjakan OPT pada jagung dilakukan surveilance OPT Jagung pada berbagai stadia tanam.  Berikut adalah hasil laporan surveilance di Provinsi Gorontalo.
Provinsi Gorontalo terletak antara Oo 19' — 1° 15' Lintang Utara dan 121° 23' — 123° 43' Bujur Timur.
Wilayah provinsi ini berbatasan langsung dengan dua provinsi lain, diantaranya Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah Barat dan Provinsi Sulawesi Utara di sebelah Timur. Sedangkan di sebelah Utara berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi dan di sebelah Selatan dibatasi oleh Teluk Tomini.
Luas Provinsi Gorontalo secara keseluruhan adalah 11.967,64 km2. Jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia, luas wilayah provinsi ini hanya sebesar O,63 persen.
Provinsi Gorontalo terdiri dari 5 (lima) kabupaten dan 1 (kota), yaitu Kabupaten Boalemo, Kabu paten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo Utara, dan Kota Gorontalo.  Kabupaten sampel yang disurvey adalah Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato, pemilihan kedua kabupaten tersebut berdasarkan luas tanaman dan sisa pertanaman yang ada, kabupaten yang lain sudah panen dan kondisi lahan sedang dalam pengolahan tanah.

OPT yang dilaporkan menyerang adalah Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis) seluas 184.55 Ha, Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) seluas 244.15 Ha, Tikus (117.7 Ha), Ulat Grayak (25 Ha), Belalang (37 Ha), lalat bibit (37.75 Ha), penyakit bulai (29.2 Ha), penyakit bercak daun (4.3 Ha), dan wereng jagung seluas (15.5 Ha).  Total luas serangan OPT adalah 695.15 Ha dari luas tanam 27.588.5 Ha.(Berdasarkan laporan periode Juli II 2012, sumber BPTPH Gorontalo)
Hasil Surveylance  OPT Jagung di Kab. Boalemo :
Pengamatan dilaksanakan di 3 (tiga) Kecamatan yakni : 1) Kec. Dulupi meliputi Desa Polohungo, Tanah Putih, dan Kota Raja, 2) Kec. Tilamuta, meliputi Desa Lahumbo, Mohunggo, dan Hungayonaa, 3) Kec. Botumoito, meliputi Desa Potanga, dan Botumoito.
Umur tanaman jagung di kecamatan Dulupi berkisar antara 85 – 100 HST, Kec. Tilamuta (75 – 98 HST), Botumoito (60 – 75 HST).  Fase tanaman jagung rata-rata pemasakan tongkol, hanya di kecamatan Botumoito fase vegetatif.
Keadaan Intensitas serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ditemukan antara lain adalah Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) dengan intensitas serangan minimum berkisar antara 4.54 – 5.18 %, dan intensitas serangan maksimum ( 8.42 – 10.54 %). Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) intensitas serangan maksimum (0.00 – 9.16 %), Tikus intensitas serangan maksimum (1.11 – 1.75 %).
Keadaan populasi hama yang ditemukan hama belalang (Locusta migratoria) berkisar antara 0.00 – 0.17 ekor/batang (minimum), 0.20 – 0.30 ekor/batang (maksimum), Kutu Aphis 0.00 – 0.10 ekor/batang, dan wereng jagung (Peregrimus maydis) (2.07 – 8.13) ekor/batang.
Keadaan penyakit yang ditemukan antara lain Hawar Daun Jagung (Helminthosporium turcicum) dengan intensitas serangan berkisar antara 4.81 – 7.03 %,  dan Penyakit Karat daun (Puccinia polysora) 0.00 – 2.96 %.
Keadaan populasi musuh alami (OPMS) berkisar antara 0.07 – 0.77 ekor/batang.  Musuh alami yang paling dominan adalah spider (laba-laba).
Hasil Surveylance  OPT Jagung di Kab. Pohuwato :
Pengamatan dilaksanakan di 3 (tiga) Kecamatan yakni : 1) Kec. Marisa meliputi Desa Marisa Selatan, Marisa Utara dan Teratai, 2) Kec. Paguat, meliputi Desa Libuo, Kemiri, dan Paguat, 3) Kec. Tilong Kabila, meliputi Desa Moutong, Tamboo, Motilango, yang terakhir masuk kabupaten Bone Bolango.
Umur tanaman jagung di kecamatan Marisa berkisar antara 65 – 90 HST, Kec. Paguat (75 – 98 HST), Tilong Kabila (35 – 45 HST).  Keadaan tanaman jagung fase pembentukan biji sampai dengan bobot maksimum (Kec. Paguat), fase penyerbukan dan pembungaan (Kec. Marisa) dan fase vegetatif (Kec. Tilong Kabila, Kab. Bone Bolango).
Keadaan Intensitas serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ditemukan antara lain adalah Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) dengan intensitas serangan minimum berkisar antara 0.00 – 5.55 %, dan intensitas serangan maksimum ( 10.54 – 13.64 %). Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) intensitas serangan maksimum (0.00 – 9.16 %), Tikus intensitas serangan maksimum (0.00 – 1.75 %).
Keadaan populasi hama yang ditemukan hama belalang (Locusta migratoria) berkisar antara 0.10 – 0.17 ekor/batang (minimum), 0.20 – 0.30 ekor/batang (maksimum), Kutu Aphis 0.00 – 0.10 ekor/batang, dan wereng jagung (Peregrimus maydis) (1.50 – 8.40) ekor/batang.
Keadaan penyakit yang ditemukan antara lain Hawar Daun Jagung (Helminthosporium turcicum) dengan intensitas serangan berkisar antara 0.00 – 4.81 % (Minimum), dan 5.55 – 7.03% (Maksimum)
Keadaan populasi musuh alami (OPMS) berkisar antara 0.07 – 0.77 ekor/batang.  Musuh alami yang paling dominan adalah spider (laba-laba).
Saran Pengendalian pada OPT utama Jagung di lokasi Surveylance :
Kondisi pertanaman jagung yang di survey dominan berumur tua (Fase pemasakan tongkol) OPT utama yang perlu mendapat perhatian adalah Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera).  Rekomendasi pengendalian yang diberikan antara lain :
Pengendalian Hayati :
Pemanfaatan musuh alami parasit Trichogramma sp yang merupakan parasit telur penggerek tongkol dan Eriborus argentitiopilosa parasit larva muda penggrek tongkol.
Pemanfaatan cendawan Metarhizium anisopliae, menginfeksi larva.
Pemanfaatan bakteri Bacillus thurigensis
Pemanfaatan virus HaNPV menginfeksi larva.
Kultur Teknis :
Pengolahan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi Helicoverpa armigera (penggrek tongkol).
Kimiawi :
Untuk mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan insektisida dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dengan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.(USR)***
Ucapan trima kasih kepada Bpk Yusbar Ismail, Bu Haira Mappa, Sofyan Nento, Bu Yucke Hongi Dkk
Surveylance OPT Tanaman Pangan
09.31 | Author: Urip SR
Surveilans adalah suatu proses resmi yang ditujukan untuk mengumpulkan dan mencatat suatu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui survei, monitoring atau prosedur lain.
Tujuan diadakannya surveilans al: 1) mengetahui keberadaan OPT sasaran, kepadatan populasi, sebaran dan dinamikanya, 2) sebagai dasar analisa peramalan, 3) sebagai dasar Early Warning System, 4) alat evaluasi keberhasilan pengendalian tindakan OPT.
Adapun keuntungan melakukan surveylance adalah sbb: 1) Pemilihan sampel lebih sederhana, 2) metode lebih praktis, mudah dan efisien, 3) dapat memberikan gambaran global tentang situasi OPT, 4) dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, 5) lebih sederhana daripada survei namun lebih lengkap dari monitoring.

Prosedur Pengamatan

Tiap kabupaten diambil 3 kecamatan, dari masing2 kecamatan diambil 3 - 5 desa contoh. Prioritas pemilihan lokasi, daerah dengan luas pertanaman terluas, merupakan kantong serangan menurut data historis pernah terinfestasi OPT. Tiap2 desa diambil 1 hamparan dan tiap hamparan diamati 30 sampel rumpun contoh. Petak contoh terletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal terpanjang (B dan C). Jumlah rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun x 3 petak contoh (A,B,C) sehingga total 30 rumpun contoh.
Komponen2 yang diamati adalah luas tanaman terserang, intensitas serangan OPT, kepadatan populasi OPT dan musuh alami , stadia/umur tanaman, varietas dan tindakan pengendalian yang pernah dilakukan petani. Pengamatan rumpun contoh dimulai pada rumpun ke 5 dengan interval 5 langkah. Sedangkan bila petak contoh kecil (tidak luas) pengamatan rumpun contoh dengan bentuk huruf "U".
Sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, interval waktu pengamatan surveylance berselang setiap 2 (dua) minggu sekali untuk lokasi kabupaten yang sama.

Penilaian kerusakan OPT

Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang sifatnya sangat beragam. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dapat berupa kerusakan mutlak dan tidak mutlak.

Daftar Pustaka :
Pedoman Pengamatan & Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan.
2008.
.
Menjelajahi Bumi Mina Tani....
20.47 | Author: Urip SR
Surveilance dilakukan pada tangal 10-12 Mei 2011
Berdasarkan laporan tengah bulanan dari LPHP Pati periode April II 2011 sebagai berikut:

Luas pertanaman padi di Kabupaten Pati mencapai luasan 39.990 hektar, yang tersebar di 21 kecamatan.
OPT utama yang menyerang pertanaman padi terdiri dari Wereng Batang Coklat (WBC) seluas 90 ha terdapat di kecamatan Winong, Tambakromo, Pucakwangi dan Jakenan dengan intensitas serangan ringan. Penggerek Batang Padi (PBP) seluas 171 ha terdapat di 11 kecamatan serangan terluas di Kecamatan Kayen, Sukolilo, dan Winong dengan intensitas serangan ringan. Tikus seluas 52 ha menyerang di 5 kecamatan antara lain kecamatan Sukolilo, Tambakromo, Winong, Juwana dan Pati dengan intensitas serangan ringan. Penyakit Kresek/BLB (Xanthomonas oryzae) seluas 100 ha ditemukan di 4 kecamatan antara lain kecamatan Gabus, Sukolilo, Tambakromo, dan Pati dengan intensitas serangan ringan.

Hasil surveilans di lapangan

Hasil surveilans di lapangan khususnya terhadap OPT utama padi yang dilakukan oleh Tim surveilans al:
Varietas padi yang diamati di Kabupaten Pati dominan varietas ciherang dengan kisaran umur tanaman antara 8 hari setelah tanam (hst) sampai dengan 65 hst, jarak tanam system tegel 20x20 cm. Umur tanaman padi dominan 45 hst.
Populasi WBC yang paling tinggi ditemukan di kecamatan Pati, desa Kalidoro dengan rata-rata populasi 6.03 ekor/rumpun dan ditemukan virus kerdil hampa seluas 3.5 Ha pada varietas pepe.
Padat populasi musuh alami: Ophionea sp, Paederus sp, Miscarspis sp, Spiders (laba-laba) (OPMS) rata-rata berkisar antara 1.00 – 1.27 ekor/rumpun.
Intensitas serangan PBP yang tertinggi ditemukan di kecamatan Gabus dengan intensitas serangan berkisar antara 0.6 – 3.02 %.
Intensitas penyakit kresek/BLB hanya ditemukan di kecamatan Gabus dengan kisaran serangan antara 0 – 1.84 %.

Potensi serangan OPT di Kabupaten Pati.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapang keadaan serangan OPT rata-rata masih di bawah ambang pengendalian, namun terdapat penyakit virus kerdil hampa sehingga dikwatirkan daerah tersebut sebagai sumber inokulum penyakit virus kerdil hampa.
Saran rekomendasi :
- Walaupun populasi WBC masih dibawah ambang tetapi di lokasi ditemukan penyakit virus kerdil hampa sehingga perlu dilakukan pengendalian terhdap vektornya (Wereng coklat) dan dilakukan eradikasi mengingat tanaman masih berumur muda.
- Apabila terjadi serangan, keringkan petakan sawah 3-4 hari untuk memudahkan teknis pengendalian.
- Eradikasi myeluruh seluas 3.5 ha mengingat tanaman padi masih muda untuk memutus sumber inokulum.
- Kendalikan vector (WBC) dengan insektisida yang berbahan aktif bufrofezin, fipronil, amidakloprid, karbofuran, atau teametoksan.

Ucapan terima kasih kepada: Pimlab LPHP Pati Ir. Sofyan Bakri beserta staf Laboratorium
Bpk. Tri Agus Susanto yang mengawal selama surveilance di Kab. Pati.
.
Bagaimana kita menyikapi judul tersebut diatas??? Beragam tanggapan pun muncul dari beberapa kalangan terutama para petugas lapangan seperti POPT (Pengendali Organisme pengganggu Tumbuhan). Ada yang pesimis dan ada pula yang optimis, mari kita dengarkan suara yang pesimis seperti apa sih argumentasi mereka. Berikut hasil rekam jejak suara-suara mereka yang sempat ditanyakan pada saat acara pencanangan panen padi 10 ton per hektar pada luas area 10.000 hektar di desa Tunggak jati, Karawang Barat (kamis 10/3).
"Melihat kondisi iklim sekarang ini rasanya sulit menekan serangan OPT dibawah 10%". celetuk seorang petugas manakala Pak Dirjen menyampaikan bahwa keberhasilan kinerja kita diukur dari keberhasilan kita dalam menekan serangan OPT dibawah 10%.
Ucapan Pak Dirjen tersebut merupakan cambuk bagi para petugas lapang baik itu Mantri Tani, PPL, dan POPT-PHP agar mereka terpacu dan bekerja saling sinergis dan dinas terkait harus cepat dalam mengelola permasalahan OPT. Cepat bertindak dan terukur sehingga mampu mengelola masalah OPT (hama-penyakit) tanaman padi. OPT sendiri bersifat dinamis dan cepat berkembang biak sehingga dibutuhkan kecepatan bertindak, birokrasi yang bertele-tele apalagi dalam hal rekomendasi maka niscaya akan kecolongan.
Beberapa daerah yang cepat bertindak maka tidak terjadi eksplosif/ledakan hama terutama wereng coklat yang perlu ditangani dengan segera. Tetapi daerah yang kurang tanggap pada laporan POPT yang memberikan rekomendasi maka akan dapat diketahui setelah terjadi ledakan serangan wereng coklat berupa hopper burn. Kurang tanggapnya terhadap early warning system membuat beberapa daerah pada musim tanam tahun kemarin mengalami puso.
Maka untuk menjawab tantangan dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang disampaikan oleh Pak Dirjen maka semua jajaran dinas pertanian baik struktural maupun fungsional harus bekerja saling bahu-membahu dan sinergis dengan petugas lapang (Mantri Tani, PPL, dan POPT) mengawal petani.
Untuk kelompok yang optimis menganggap himbauan tersebut merupakan tantangan yang harus diwujudkan bahwa menekan serangan dibawah 10% target yang harus direalisasikan bukan untuk dijadikan polemik. Syaratnya adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, saling kerjasama, tanggalkan ego sektoral yang berlebihan, mari sejahterakan petani, jangan melihat warna baju atau bendera dari mana kita berasal. Obyek kita adalah satu PETANI INDONESIA. Amankan produksi mereka. Satu kata kunci SINERGIS di lapangan untuk kemakmuran petani agar terhindar dari serangan OPT.
.
Survey OPT Di Pekalongan
11.49 | Author: Urip SR
Luas pertanaman padi di Kabupaten Pekalongan mencapai luas 15.916 Ha yang tersebar di 19 Kecamatan.
Komposisi varietas yang ditanam meliputi varietas Ciherang (7201 Ha), IR-64 (4862), Conde (423 Ha), Mekongga (335 Ha), Muncul (30 Ha), Ketan (135 Ha), Hibrida (23 Ha), Situbagendit (475 Ha), Cigeulis (130 Ha), PP (45 Ha), Membramo (524 Ha), Bernas Prima (10 Ha), Intani-2 (28 Ha), Inpari (70 Ha), umbul (56 Ha), Ciliwung (373 Ha), Cempaluk (4 Ha), Cisadane 358 Ha), Merauke ((4 Ha), Logawa (10 Ha) dan lokal (380 Ha).
OPT utama yang menyerang tanaman padi terdiri dari WBC (26.3 Ha) dengan intensitas serangan ringan sampai berat PBP (278.5 Ha intensitas serangan ringan sampai berat, Tikus (805.9. Ha) ringan sampai berat, Penyakit Hawar daun bakteri/BLB (207.6 Ha) ringan sampai berat. Penyakit Blast (9 Ha) ringan sampai berat dan penyakit Tungro (16.35 Ha) ringan sampai berat.
(Laporan periode Januari I - 2011)
Hasil surveilance di Kabupaten Pekalongan
Varietas tanaman padi yang diamati di Kabupaten Pekalongan dominan varietas Ciherang dengan kisaran umur tanaman 3 - 8 MST.
Populasi WBC ditemukan di semua kecamatan yang disurvey meliputi kecamatan Kedungwuni, Bojong, Kajen, dan Kesesi. Padat populasi WBC berkisar antar 0.50 – 101 ekor/rumpun, yang paling tinggi di Kecamatan Kesesi, desa Kesesi dengan rerata populasi 100,5 ekor/rumpun.
Padat populasi musuh alami (OPMS) berkisar antara 0.3 – 1.23 ekor/rumpun, sedangkan jenis Cyrtorrinus sp berkisar antara 0.07 – 4.67 ekor/rumpun.
Intensitas serangan PBP berkisara antara 4,33 % - 12,5 % ditemukan hampir di semua lokasi yang disurvey.
Intensitas serangan Penyakit Hawar Daun Bakteri/BLB berkisar antara 0,74% - 14,4%.
Saran dan Rekomendasi sama seperti di Kab. Pemalang (Baca Survey OPT di Pemalang).

Keterangan Foto: Panen lebih awal akibat serangan Wereng Coklat, foto diambil di Desa Kesesi, Kec. Kesesi tgl 3 Februari 2011). USR***
.
Survey OPT di Pemalang
10.34 | Author: Urip SR
Surveilance pengamatan keadaan lapang organisme pengganggu tumbuhan (OPT) padi di kab. Pemalang , dilaksanakan pada tanggal 1-3 Februari 2011. Surveilance pengamatan OPT tanaman padi ini berdasarkan pada: laporan tengah bulanan keadaan luas serangan OPT utama padi periode Januari I (1-15 Januari 2011) sebagai acuan/pegangan dalam menentukan daerah sasaran survey, hasil surveilance pada pengamatan keliling yang ditentukan secara purposive sampling. Tujuan dari surveilance ini untuk memantau perkembangan serangan OPT utama tanaman padi dan upaya-upaya pengendalian yang dilakukan.
Keadaan pertanaman dan serangan OPT di Pemalang :
Luas baku pertanaman padi di kabupaten pemalang mencapai luas 25.223 hektar yang tersebar di 14 kecamatan. Komposisi varietas yang ditanam meliputi ciherang (15.047 Ha), IR-64 (2621 Ha), HIbrida (102 Ha), mekongga (384 ha), ketan (7 ha), situbagendit (2634 ha), memberamo (84 ha), cimelati (93 ha), inpari (6 ha), merauke (5 ha), conde (784 ha), ciliwung (2200 ha), cisadane (716 ha), sintanur (50 ha), lokal (271 ha), dan lain-lain (28 ha).
Empat jenis OPT utama yang menyerang pertanaman padi terdiri dari wereng batang coklat (WBC) (631 ha) dengan intensitas serangan ringan sampai berat. Penggerek batang padi (PBP) (201 ha) serangan ringan sampai sedang. Tikus (271 ha) serangan ringan, Penyakit hawar daun bakteri/BLB/kresek (38 ha) serangan ringan sampai berat, dan penyakit tungro (40 ha) serangan ringan sampai sedang. (Sumber Data LPHP Pekalongan peride Januari I 2011).
Hasil surveilance lapangan (tgl 1-3 Februari 2011)
Varietas padi yang diamati di kabupaten Pemalang dominan varietas ciherang dengan kisaran umur tanaman 2-8 minggu setelah tanam (MST).
Populasi wereng batang coklat (WBC) yang paling tinggi ditemukan di 2 kecamatan yang disurvey meliputi kecamatan Pemalang dengan rata-rata populasi berkisara antara 72,8 s/d 428,2 ekor/rumpun (terdapat spot hopperburn), dan kecamatan Taman rata-rata populasi 5,90 s/d 212,1 ekor/rumpun.
Intensitas serangan PBP di kecamatan Pemalang berkisar antara 0,52 s/d 2,32 % yang tersebar di desa Pelutan, Danasari, Lawangrejo, dan Sewaka. Di kecamatan Taman berkisar antara 0,92 s/d 1,76 % tersebar di desa Benjaran, Cibelok dan Jebed Selatan.
Intensitas serangan penyakit hawar daun bakteri/BLB/krese di kecamatan Pemalang 6,3% pada tanaman umur 8 MST, hanya ditemukan di desa Lawangrejo.
Padat populasi musuh alami (OPMS) berkisar antara 0,3 s/d 0,87 ekor/rumpun, sedangkan musuh alami jenis Cyrtorinus sp, berkisar anatar 0,6 s/d 1,87 ekor/rumpun.
Potensi serangan OPT di kabupaten Pemalang.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diperkirakan serangan WBC akan menyebar pada daerah dengan umur tanaman yang masih muda, khususnya pada daerah-daerah yang berdekatan dengan lokasi yang sudah terinfestasi wereng coklat, mengingat di kecamatan Pemalang masih terdapat pengolahan tanah, persemaian dan tanaman muda (1-3 MST) merupakan sebagai pemicu peningkatan populasi wereng batang coklat.
Saran rekomendasi
Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan petani dalam pengendalian wereng coklat, sehingga operasional pengendalian dapat dengan cepat dilakukan melalui pengamatan rutin, aplikasi pestisida berbahan aktif bufrofezin, untuk daerah lain yang padat populasi masih rendah gunakan agens hayati patogen serangga Beauveria bassiana atau Metharrhizium anisopliae.
Penuluhan kepada petani tentang pemakaian pestisida yang baik dan benar sesuai dengan kaidah 6 tepat, yaitu tepat mutu dan jenis, dosis, konsentrasi, cara, waktu dan tepat sasaran.
Sosialisasikan teknologi pengendalian ramah lingkungan menggunakan agens hayati.
Kerjasama antar petugas terkait (PPL dan POPT) agar selalu sinergis bahu-membahu mengendalikan wereng coklat, terutama dinas pertanian setempat agar cepat tanggap terhadap perkembangan WBC yang semakin meluas.
.
Turun ke Sawah....!!!
14.11 | Author: Urip SR
Sesekali turun kebawah melihat secara langsung permasalahan yang dihadapi para petani di pedesaan sungguh sangat mengasyikan, selain menampung uneg-uneg para petani terkadang menerima juga umpatan dan caci maki apabila mereka gagal panen. Sakit kah..???
Tentu tidak karena saya mengetahui betul permasalahan yang dihadapi dilapang, kita harus menyelami dengan bahasa petani yang mudah dimengerti. Wajar petani marah karena gagal panen karena serangan OPT (baca: hama - penyakit).
Tetapi sering juga kita mendapat pujian kalau hasil panennya memuaskan, yang terpenting adalah kita mendampingi petani disaat suka dan duka, manakala dibutuhkan kita siap sedia memberikan saran dan jadikan mereka partner kerja. Sesungguhnya kita yang harus melayani mereka bukan sebaliknya kita minta dilayani, sebagai abdi masyarakat, memposisikan diri kita sebagai soulmate petani. Disaat terpaan hama-penyakit terjadi karena dampak fenomena iklim, membuat permasalahan semakin kompleks di lapang. Selain dibutuhkan pendampingan juga memberikan solusi yang cerdas bagi petani, tentu dengan bahasa petani agar kita bisa diterima dilingkungan mereka.
Dalam kondisi apapun jikalau petugas sering turun kebawah melakukan monitoring ataupun surveilance para petani merasa senang karena diperhatikan. Jangan sekali-kali mengecewakan mereka.
.
Setelah sekian minggu tak beraktifitas akhirnya keluar kandang juga memulai perjalanan surveilance OPT Padi MH. 2010/2011, ini merupakan perjalanan pertama setelah dihajar penyakit Thypus. Itung-itung uji coba, ternyata masih layak jalan juga...he2 (maklum usia semakin menua).
Rasa kangen terhadap panorama pedesaan, bau lumpur, cengkerama pak tani yang bersahaja dan hamparan hijau persawahan membuat semangat menggebu-gebu untuk beraktifitas lagi, melanglang buana, menyusuri dari desa ke desa di wilayah Kab Banyumas dan Banjarnegara.
Des..mengobati rasa rindu yang mulai menebal sama blogspot yang lama tidak pernah ditengok.
Semoga postingan di bulan Nopember ini mengawali langkah untuk kembali semangat mengobarkan "Jurnalisme Warga" dan mengasah intuisi.
Judul postingan terasa wagu, terkadang begitu sulitnya mencari judul yang enak didengar, tak apalah yang penting berjalan dulu sambil menunggu wangsit dari sang angin.
Data lapang sudah didapatkan selama seharian penuh "ngubek-ngubek" Kab. Banyumas, hal ini karena kekompakan teman2 POPT yang saling membantu, kebetulan salah satu POPT adalah teman alumni Ciawi 2004 (Baca: Latihan Fungsional angkatan th. 2004).
Sehingga ada rasa setia kawan, plus penyambutan yang ramah bahkan rela begadang di Hotel karena harus berbagi cerita setelah 6 th jarang berjumpa. Curhat nih ye....!!!

Kab. Banyumas

Hari pertama harus mengubek-ubek wilayah Banyumas, kota yang terletak disebelah barat daya dan merupakan bagian dari propinsi Jateng ini terletak diantara garis bujur timur 108' 39' 17'' sampai 109' 27' 15'' diantara garis lintang selatan 7' 15' 05'' sampai 7' 37' 10'' yang berarti berada di belahan selatan garis khatilistiwa. Kabupaten Banyumas berbatasan dengan kabupaten Tegal dan Pemalang di bagian utara, kabupaten Cilacap di bagian selatan, sebelah barat berbatasan dengan kab. Cilacap dan kab. Brebes, dan sebelah timur berbatasan dengan Kab. Purbalingga, Kebumen, dan Banjarnegara.
Surveilance di wilayah Banyumas serasa pulang kampung (kebetulan berbatasan dengan Pemalang), yang menyenangkan adalah karena panorama alamnya antara daratan dan pegunungan serta lembah sungai Serayu yang mengalir cukup deras. Bumi dan kekayaan yang masih potensial karena terdapat Pegunungan Slamet dengan ketinggian puncak 3400 m dpl.

Kab. Banjarnegara

Hari kedua dan ketiga harus menyelesaikan pengamatan di wilayah Kab. Banjarnegara, yang mempunyai luas wilayah 1.064,52 km persegi, terbagi menjadi 20 kecamatan, 12 kelurahan dan 253 desa. Dari luas wilyah tersebut pola penggunaan tanahnya dibedakan sebagai berikut tanah sawah seluas 19.389,69 hektar (18,17%) yang berpengairan teknis seluas 6.745,58 hektar (6.32%), berpengairan setengah teknis seluas 969,02 hektar (0.70%), berpengairan sederhana seluas 5.647,82 hektar (5.29%) dan tadah hujan seluas 6.027,48 hektar (5.65%).

Pengamatan OPT di wilayah kedua kabupaten ini dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling. Secara rinci pelaksanaan pengamatan tetap dan keliling sebagai berikut:
Pengamatan tetap : masing-masing diambil 2 hamparan contoh per hamparan diamati 30 rumpun contoh tanaman padi). Dilakukan secara berkala pada lokasi/tempat/petak yang mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan yang bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. Petak contoh ditentukan secara purposive sampling, sehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam, teknik bercocok tanam dan varietas padi yang ditanam.
Selanjutnya pengamatan keliling/patroli bertujuan untuk mengetahui tanaman terserang, terancam, dan luas pengendalian, serta dilaksanakan dengan cara menjelajahi wilayah pengamatan.

Nah, inilah surveilance pertama sejak istirahat selama hampir 3 minggu (karena sakit) ternyata masih layak jalan (he2..kayak kendaraan saja)...tadinya banyak kawan2 yang menyangsikan apakah masih kuat melakukan surveilance dua kabupaten. Rindu terhadap panorama alam yang indah, sawah yang menghijau menghampar luas bak permadani bergelar, atau hamparan sawah yang menguning dan sapaan ramah bapak/ibu tani serta bau lumpur sawah...ternyata mampu membangkitkan semangat untuk tetap tegar melanglang buana dari desa ke desa.
Sampai jumpa..!!!

Ucapan terima kasih kepada:
Ir, Tri Gunawan (Pimlab Wilayah Banyumas)
Amin Sugiharto, Turyadi, Bambang Haryanto (Staf Lab)
serta Sangadi, Nardi, Pramono (POPT Banyumas)
Yogojati Prasetyo, Daryono, Ahmad Waluyo, Budi Waluyo (POPT Banjarnegara)
.
Pengendalian WERENG BATANG COKLAT
15.23 | Author: Urip SR
Berita di Harian Kompas yang melaporkan serangan Wereng Batang Coklat 2 hari berturut-turut dapat dijadikan sebagai peringatan dini, agar kita selalu waspada dalam menghadapi musim tanam (MT) 2010. Kita tidak perlu mencari kambing hitam siapa yang salah, kita justru mengapresiasi positif dengan berita tersebut. Kita jadikan sebagai cermin untuk mawas diri untuk semua pihak yang bekerja melayani petani.
Sudahkan kita bekerja melayani petani dengan baik? Apakah selalu ada penyuluhan di tingkat Desa? Apakah sudah sinergi antara petugas penyuluh dengan petugas lainnya? Apakan teknologi penelitian yang ada sudah diterapkan di tingkat petani?
Itulah segudang pertanyaan yang selalu menghantui pikiran kita. Jawabannya ada di nurani masing-masing. Mari kita melayani petani dengan hati.
Kembali ke judul tulisan tersebut diatas (kita tinggalkan dulu polemik yang tiada ujung), kenapa terjadi serangan wereng batang coklat (WBC) padahal teknologi pengendalian sudah kita kuasai.
Mari kita urai satu persatu.

Penyebab timbulnya WBC...

Kemampuan berkembang biak WBC sangat tinggi, bertelur banyak (100-600 butir), siklus hidupnya pendek (kurang lebih 28 hari, yaitu stadia telur kl 8 hari, nimfa kl 18 hari, imago praoviposisi kl 2 hari), masa hidup imago dewasa kl. 8 hari, mempunyai daya sebar cepat, dan daya serang ganas. Laju perkembang-biakan pada varietas peka dengan lingkungan optimum dalam satu musim tanam dapat mencapai 2000 kali.
Adanya penanaman varietas rentan/peka dan pola tanam yang tidak teratur, sebagai pemicu perkembangan dan penyebaran WBC.
Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana, tidak memenuhi 6 tepat (jenis, konsentrasi, dosis, volume semprot, cara, waktu dan sasaran), sehingga WBC dapat menjadi kebal terhadap insektisida dan terbunuhnya musuh alami menyebabkan WBC cepat berkembang. Gunakan insektisida yang terdaftar dan diijinkan untuk padi. Apabila di persemaian dan atau tanaman muda belum ada WBC tetapi disemprot insektisida maka semakin berpeluang untuk terserang hama WBC.
Serangga dewasa dan nimfa menetap dan menghisap pelepah daun di bagian bawah/pangkal tanaman, sehingga petani kurang perhatian sejak dini.
Pengaruh faktor iklim mikro yang lembab dan hangat. Tidak hanya musim hujan tetapi musim kemarau yang basah menjadi pendorong perkembangan dan ledakan WBC.

Kerusakan tanaman oleh WBC

Apabila populasi tinggi, warna daun dan batang tanaman berubah menjadi kuning, kemudian berwarna coklat jerami, dan akhirnya seluruh tanaman bagaikan disiram air panas kuning coklat dan mengering (hopper burn).
WBC juga menularkan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Karakteristik WBC

WBC berukuran kecil, nimfa yang baru menetas berukuran 1 mm dan dewasa 3 mm.
Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakhiptera merupakan populasi penetap yang biasanya menghasilkan keturunan yang menyebabkan kerusakan tanaman.
Populasi WBC dapat meningkat lebih tinggi dengan aplikasi insektisida yang tidak bijaksana karena dapat mengakibatkan resistensi (hama menjadi kebal) dan resurjensi (populasi menjadi berkembang lebih cepat terutama karena musuh alaminya musnah).

Pengendalian WBC

Pratanam (persiapan - persemaian) Persiapan benih bermutu bersertifikat yang tahan terhadap koloni WBC setempat.
Eradikasi/sanitasi singgang atau sisa tanaman yang terserang virus kerdil rumput dan kerdil hampa.
peningkatan pengamatan populasi WBC sejak awal persemaian.
Pemusnahan bibit/persemaian yang terserang berat WBC.

Fase tanaman muda (tanam - anakan maksimum/ (40 hst)
Menanam varietas yang telah terbukti tahan / toleran terhadap populasi WBC di daerah masing0masing. Hindari menanam varietas rentan/peka.
Tanam sistem legowo dan pemupukan NPK harus berimbang.
Tanamana yang terserang WBC berat dilakukan sanitasi selektif/eradikasi, demikian juga tanaman yang bergejala virus kerdil rumput dan kerdil hampa dilakukan sanitasi selektif/eradikasi.
Penggunaan insektisida efektif untuk WBC, yang terdaftar dan diijinkan untuk tanaman padi. Aplikasi pasa saat mencapai ambang pengendalian: populasi > 10 ekor/rumpun pada tanaman berumur kurang dari 40 hst.

Fase Primordia - tanaman tua ( ≥ 40 hst/primordial - menjelang panen)

Tanaman yang terserang berat dilakukan sanitasi/eradikasi selektif dan yang puso dieradikasi total.
Penggunaan insektisida apabila populasi ≥ 20 ekor/rumpun pada tanaman berumur ≥ 40 hst.
Kerapkali aplikasi insektisida menjadi tidak efektif dan tidak efisien karena populasi sudah terlampau tinggi, faktor pemilihan jenis insektisida dari segi sifat kerjanya dan teknik aplikasi yang tidak memenuhi 6 tepat.

PELESTARIAN MUSUH ALAMI

Banyak sekali musuh alami yang diketahui efektif untuk menekan perkembangan populasi WBC antara lain predator jenis laba-laba, kumbang Coccinelid, Ophionea, dan Paederus, kepik Cyrtorhinus, predator yang hidup di air, parasitoid telur seperti Anagrus, Oligosita, dan Gonatocerus, parasitoid nimfa dan dewasa antara lain Elenchus dan Pseudogonatopus, serta cendawan/jamur patogen serangga antara lain Beauveria bassiana, Hirsutella, dan Metarhizium.
Jangan menyemprot insektisida jika tidak perlu karena akan memusnahkan musuh alami.

Keterangan : Gb.1 Imago WBC sayap panjang/Makroptera (Foto Repro).
Gb.2 Siklus hidup WBC.
Gb.3 Telur WBC yang terparasit Gonatocerus sp.(Foto: Repro)

Daftar Pustaka:
Leaflet Pengamatan & Pengendalian Wereng Batang oklat (WBC)
Balai Besar Peramalan OPT
Penyusun:
Harsono Lanya, Mustaghfirin, Baskoro SW, Urip SR


KECIL TAPI GANAS
09.25 | Author: Urip SR
Wereng Batang Coklat (WBC) Nilaparvata lugens Stal (Delphacidae, Homoptera) sampai saat ini masih diangap sebagai hama utama pada pertanaman padi, karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hamper terjadi pada setiap musim tanam (MT) kerusakan pada pertanaman dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung karena kemampuan WBC menghisap cairan sel tanaman sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati. Secara tidak langsung karena serangga WBC dapat menjadi vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Kerdil rumput (Grassy Stunt) tanaman yang terinfeksi berat akan menjadi kerdil dengan anakan yang berlebihan, sehingga tampak seperti rumput. Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek kaku, berwarna hijau pucat sampai hijau, dan kadang-kadang terdapat bercak karat. Tanaman yang terinfeksi biasanya dapat hidup sampai fase pemasakan tetapi tidak memproduksi malai. Stadia pertumbuhan yang paling rentan adalah pada saat tanam pindah sampai bunting. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh WBC, dan tanaman inangnya hanya padi.
Kerdil hampa (Ragged Stunt) disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh WBC. Penyakit ini menghasilkan beberapa gejala malformasi pada daun seperti daun bergerigi (Ragged) dan melintir (Twisting).
Daun tanaman sakit berwarna hijau tua. Malai dari tanaman yang sakit hanya keluar sebagian dan gabah yang dihasilkan hampa.

Hasil monitoring pasca terjadinya eksplosif WBC di Kabupaten Subang (Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pabuaran, dan Patokbeusi) Rabu, 21/04/2010, menunjukkan pola tanam yang tidak serempak di lapang, kondisi tanaman bervariasi ada yang tanaman muda, sampai menjelang panen dan panen. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistim intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP > 200, dsb).

Kondisi pengairan yang tersedia sepanjang musim di wilayah ini mendorong petani menanam padi terus-menerus sepanjang tahun, tanpa pola, varietas-varietas tanaman padi yang berumur genjah (100-120 hari) ditanam sampai tiga kali setahun atau lima kali selama dua tahun. Dengan demikian dalam hamparan luas terdapat tanaman padi dalam tingkatan umur, dari persemaian sampai dengan masa panen (Staggered planting). Agrosistem yang demikian menyediakan makanan yang terus menerus bagi hama-hama padi hingga ia dapat berkembang biak mencapai jumlah yang menyebabkan eksplosif seperti yang terjadi pada MH. 2009/2010.
Eksplosif penyakit kerdil rumput/hampa berdasarkan kenyataan di lapangan (Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pabuaran, dan Patolbeusi) .
Di daerah itu terdapat tanaman padi dari semua umur dalam areal yang luas, baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun lahan milik petani, perilaku tanam tanpa pola memicu timbulnya wabah penyakit kerdil rumput/hampa.
Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu terjadinya ledakan WBC. Berbagai dampak negative pada lingkungan fisik dan biotic dan kecelakaan pada manusia yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida. Salah satunya ialah, bahwa pestisida menimbulkan wabah hama-hama tertentu (Resirjen).

Sebab-sebabnya yaitu 1) karena musuh alami terbinasakan terlebih dahulu oleh pestisida itu hingga hama itu berkesempatan untuk berkembang menjadi wabah, 2) hama itu memiliki potensi daya tahan yang diwariskan secara genetic yang akan mengekspresikan dirinya bila dirangsang dengan pestisida, 3) pestisida tertentu dapat merobah fisiologi tanaman (kadar protein bertambah) dan merubah struktur jaringan tanaman, hingga hama dapat hidup lebih subur disana (Oka, 1975, Katan and Eshel, 1973).
Setiap penggunaan pestisida, bagaimanapun hati-hatinya selalu masih mengandung resiko terjadinya dampak-dampak negative itu, sebab pestisida adalah racun yang di aplikasikan berkali-kali dalam areal yang luas. Oleh karena itu keputusan untuk menggunakan pestisida hanya bila perlu saja, berdasarkan criteria ilmiah, perhitungan ekonomi dan melestarikan lingkungan.

Pada kasus eksplosif WBC di Kab. Subang bagian utara, keputusan pengendalian WBC dengan pestisida adalah pilihan terakhir mengingat ledakan populasi WBC sangat tinggi diatas ambang pengendalian maka pemadamnya tidak ada lain selain pestisida.
Dengan mempertimbangkan sumber populasi WBC yang sangat tinggi dan sumber penyakit kerdil hampa yang banyak tersebar dipertanaman, maka strategi penanganan WBC yang harus dilakukan adalah:
Menghilangkan secepat mungkin populasi yang ada saat ini, jangan ditunggu sampai menjadi makroptera yang akan terbang kemana-mana. Gerakan pengendalian harus selesai sebelum pertengahan bulan April 2010.
Menghilangkan sumber inokulum penyakit kerdil hampa yang ada dengan cara eradikasi tanaman terserang/puso atau telah dibiarkan petani karena kondisi tanaman yang parah.
Dalam konsep PHT sudah dikembangkan pedoman bagaimana dan kapan saat yang tepat pengambilan keputusan penggunaan pestisida yang dituangkan dalam konsep-konsep tingkat kerusakan ekonomi (TKE), kerusakan ekonomi (KE), ambang ekonomi (AE) dan posisi keseimbangan umum (PKU).

Kerugian yang ditimbulkan

Tergantung pada tingkat kerusakan serangan WBC dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso. Akibat hisapan WBC cairan jaringan pengangkutan tanaman padi menimbulkan tanaman terbakar yang berakibat timbulnya kerusakan dari ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh, sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian). Gejala WBC pada individu rumpun dapat terlihat dari daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar) gejala ini dikenal dengan istilah Hopper Burn.
Dalam suatu hamparan, gejala hopper burn terlihat sebagai bentuk lingkaran yang menimbulkan pola penyebaran WBC yang dimulai dari satu titik, kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian, populasi WBC biasanya sudah sangat tinggi.

Kerugian hasil akibat serangan WBC dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso seperti yang dialami oleh Nemin (55) petani penggarap dari Desa Rancamulya, kecamatan Patokbeusi, lahan garapannya seluas 3 Ha puso akibat serangan WBC yang menyerang sejak tanaman padi berumur 12 HST. Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan bahkan yang paling ekstrim sekalipun ia lakukan menggunakan solar dan oli bekas. Tiga hari setelah aplikasi, datang lagi WBC menyerang.
“ Kalau malam hari pakai obor, jumlahnya ribuan Mas” tuturnya meyakinkan.
“Saya habis modal, saya pasrah mungkin ini musibah, karena baru kali ini gagal panen karena wereng, biasanya sih tidak seperti ini,” katanya lagi dengan nada pasrah.
Keluh kesah Nemin (55) mewakili suara petani lain yang bernasib sama di kecamatan Patokbeusi. Maklum wilayah ini merupakan sumber serangan sehingga pada hamparan yang luas terdapat beberapa spot hopper burn hampir merata, sebagian hamparan masih bias dipanen namun terjadi penurunan hasil yang sangat drastis.
Lain lagi yang dialami oleh Aban (57) petani dari desa Tanjung Rasa Kaler, kecamatan Patok Beusi berbatasan dengan kecamatan Pabuaran, ia masih bias panen 3 ton/ha dari sawahnya. Penurunan hasil panen sekitar 50%, biasanya ia panen 6 ton/ha. Itupun ia sudah menggunakan beberapa jenis pestisida. Lain Nemin lain pula Aban yang secara ekonomi lebih mapan sehingga dalam usaha pengendalian terjadwal tidak terputus setiap 3 hari ia menyuruh kuli untuk menyemprot menggunakan pestisida berbahan aktif buprofezin yang dikombinasi dengan pestisida lain berbahan aktif BPMC.
“Lumayan Mas, daripada puso, karena petak lain juga ada yang puso,” katanya lirih sambil mempermainkan asap rokok.
Menurut Aban (57) selama ini di desanya jarang ada kegiatan penyuluhan, ia sedih jadi petani seperti anak tiri tidak diperhatikan sama sekali, seharusnya ada penyuluhan sehingga tidak kecolongan seperti ini.

Upaya Pengendalian

Tujuan usaha pertanian dari segi mikro (produsen) ialah mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dalam bentuk uang. Ini akan dicapai bila dapat direncanakan perbandingan antara keuntungan dan ongkos produksi (benefit/cost ratio) yang sebesar-besarnya.
Namun dihadapkan pada kondisi yang sangat ekstrim dimana populasi WBC sudah mencapai ribuan tentu menimbulkan kepanikan yang luar biasa di kalangan petani. Alternatif terakhir adalah menggunakan pestisida apa saja yang terdapat di kios saprotan. Pestisida sedemikian melekatnya pada usaha pengendalian dapat kita lihat apabila petani menghadapi serangan hama WBC pada pertanaman secara langsung timbul pertanyaan pestisida apa yang yang tepat digunakan?
Berbagai insektisida yang efektif antara lain yang berbahan aktif amitraz, buprofezin, Beauveria bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml, BPMC, Fipronil, amidakloprid, karbofuran, karbosulfan, metolkarb, MIPCI, propoksur, atau dapat juga dengan menanam varietas tahan.
Daerah-daerah endemik WBC biotipe1, dapat menanam antara lain varietas Memberamo, widas, dan cimelati, untuk biotipe2 dan 3, Memberamo, cigeulis, dan ciapus.
Penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas dan menggunakan tanam pola padi-padi-palawija untuk memustuskan siklus hidup hama tanaman padi.
Dalam agrosistem padi tidak dibenarkan menanam padi terus menerus sepanjang tahun apalagi tanpa pola. Praktek ini akan member kesempatan bagi hama-hama untuk terus berkembang. Untuk mencegahnya sebaiknya penanaman padi digilir dengan palawija. Konsep ini disarankan Oka (1979a) terutama untuk mengatasi masalah hama WBC. Bila air pengairan memungkinkan untuk menanam padi dua kali setahun pola tanamnya adalah padi-padi-palawija yang pergilirannya sebagai berikut: Padi musim hujan ditanam sekitar bulan Desember, dipanen bulan April. Selama April masa pengolahan tanah.
Pada musim kemarau ditanam dalam bulan April dan dipanen sekitar pertengahan Agustus, disusul dengan penanaman palawija yang dipanen sekitar pertengahan November. Pola yang demikian banyak diterapkan petani di Jalur Pantura Jawa Barat.
Bila pola tanamnya adalah padi-palawija-padi, pergiliran tanamnya adalah sebagai berikut: padi musim hujan ditanam sekitar bulan Desember, dipanen sekitar April, segera disusul dengan palawija umur pendek (jagung, kedelai, kacang tanah) yang ditanam akhir Juni.
Kemudian tanah segera diolah untuk ditanami pada musim kemarau sekita Juli dan dipanen November. Pola demikian banyak diterapkan di daerah Jawa Timur yang mengikuti pembagian air irigasi.
Dalam kedua pola tersebut ada masa tanpa tanaman padi yaitu ketika mengolah tanah dan tanaman palawija yang akan menurunkan populasi hama-hama padi serendah-rendahnya. Agar konsep pola tanam dan pergiliran tanam ini berhasil harus dilakukan dalam hamparan yang seluas-luasnya.
Pengolahan tanah dan pengaturan air irigasi lebih menekankan pada membinasakan hama-hama tertentu. Misalnya bila tunggul-tunggul tanaman padi sehabis panen dapat dimasukkan ke dalam tanah ketika sedang mengolah tanah dengan diairi akan membinasakan hama-hama penggerek batang padi (PBP), WBC, dan virus-virus penyakit padi.(uripsr@ymail.com)***
.
MENYUSURI BUMI RUWA JURAI
05.38 | Author: Urip SR
Episode Surveilans OPT Padi di Lampung Tengah dan Lampung Timur pertengahan Februari
(10 - 12 Februari 2010)
Trimurjo 10/2/2010. Seharusnya pk. 05.30 WIB sudah sampai di Lab. Trimurjo, namun karena ada bencana longsor di Bakauhuni (menurut info para sopir) maka rute perjalanan diarahkan melalui trans Lampung Timur, jalan yang sempit dengan kondisi yang rusak menyebabkan macet dan antrian panjang di daerah Ketapang. Jalan yang tidak layak itu dilalui truk-truk besar pengangkut hasil bumi menyebabkan macet total tak terhindarkan, hampir 3,5 jam mobil merayap di sepanjang jalan wilayah Kec. Ketapang.

Ringkasan hasil Surveilans di wilayah

Lampung Tengah:

Kab. Lampung Tengah meliputi areal daratan seluas 4789,82 Km2, terletak pada bagian tengah Propinsi Lampung, yang berbatasan dengan: sebelah utara dengan Kab. Tulang Bawang dan Lampung Utara, sebelah selatan dengan Kab. Lampung Selatan, sebelah timur dengan Kab. Lampung Timur dan Kota Metro, sebelah barat dengan Kab. Tanggamus dan Lampung Barat. Secara geografis Kab. Lampung Tengah terletak pada kedudukan: Timur – Barat pada koordinat 1040 , 35 ‘ s/d 1050 , 50’ Bujur Timur dan Utara – Selatan pada koordinat 40, 30’ – 40, 15’ Lintang Selatan.
Ibukota Lampung Tengah adalah Gunung Sugih.

Rencana areal tanam di Kabupaten Lampung Tengah MT. 2009/2010 seluas 99.099 hektar (Ha), sedangkan pada MT. 2010 seluas 135.362 Ha. Varietas yang dominan ditanam adalah varietas Ciherang, kemudian berturut-turut varietas hibrida dan varietas unggul yang lainnya. Namun secara rinci luas masing-masing verietas tidak tercatat di bagian data di Laboratorium PHPT Trimurjo maupun di Dinas Pertanian Kab. Lampung Tengah.
Keadaan serangan OPT periode laporan 16-31 Januari 2010, berdasarkan laporan POPT terdapat 4 jenis OPT yang menyerang pertanaman padi yaitu Penggerek Batang Padi (PBP), Tikus, Blas dan Keong mas. Luas serangan oleh PBP seluas 153 ha kategori serangan ringan, yang menyebar di 13 kecamatan serangan kategori berat seluas 4 ha di Kec. Seputih Surabaya dan Kec. Bandar Surabaya.

Lampung Timur:

Kab. Lampung Timur meliputi areal daratan seluas 5.325,03 Km2 atau lebih kurang 15 % dari total wilayah Propinsi Lampung (35.378 Km2) dan lautan yang berbatasan dalam jarak 4 mil laut dari garis pantai kea rah laut lepas. Secara geografis Kab Lampung Timur terletak pada koordinat 1050, 15’ BT sampai dengan 1060, 20’ BT dan 40 37’ sampai 50 37’ LS. Secara administrasi Kab. Lampung Timur berbatasan dengan:
Sebelah utara berbatasan dengan Kab. Lampung Tengah dan Kab. Tulang Bawang.
Sebelah Timur berbatasan dengan laut Jawa, Propinsi Banten, dan DKI Jakarta.
Sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Lampung Selatan.
Sebelah barat berbatasan dengan Kotamadya Metro dan Kab. Lampung tengah.

Sasaran areal tanam padi di Kab. Lampung Timur pada MT. 2009/2010 (Ok-Mar) seluas 48.280 hektar dan MT. 2010 seluas 29.280 hektar, dan total luas tanam pada dua musim tersebut seluas 77.560 hektar.
Dari sasaran tanam seluas 77.560 hektar, hasil panen seluas 73.686 hektar dan rata-rata produktifitas mencapai 51.41 kwintal/ha dengan tingkat produksi mencapai total 378.820 ton GKP. Ini merupakan hasil dari padi lahan sawah belum termasuk lahan kering, kalau lahan kering di Kab. Lampung Timur luas tanam seluas 6926 hektar, luas panen 6580 hektar dengan produksi 21012 ton, produktifitas mencapai 31.93 kwintal/ha. Ini merupakan proyeksi berdasarkan potensi dan kondisi daerah serta kebutuhan pangan masyarakat Lampung Timur.
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Kab. Lampung Timur berdasarkan laporan periode Januari II (16 – 31 Januari 2010) terdapat 6 (enam) jenis OPT yang menyerang tanaman padi seluas 1.091 ha meliputi serangan kompleks hama seluas 849 ha dan kompleks penyakit seluas 242 ha. Hal ini dapat dilihat pada rincian luas serangan OPT yang tertera pada tabel 8. Di tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa OPT utama padi adalah penggerek batang padi (PBP), Tikus,Wereng Coklat dan penyakit Blas. (Pyricularia oryzae).
OPT lainnya yang dapat membatasi produksi padi adalah hama putih palsu, lalat daun dan ulat grayak.
Selain keadaan luas serangan OPT kejadian bencana alam yang menimbulkan kerusakan pada tanaman padi juga diamati, pada MT.2009/2010 di Kab. Lampung Timur terkena banjir seluas 2.679 ha dan yang sampai menimbulkan puso seluas 1.578 ha yang tersebar di 13 kecamatan, dengan luas tanam mencapai 18.043 ha kisaran umur tanaman 7 – 100 hari setelah tanam (hst).
Surveilans atau monitoring lapang di kabupaten Lampung Timur dilakukan di 3 (tiga) kecamatan, masing-masing kecamatan diambil 2 (dua) desa, setiap desa diambil 1 (satu) hamparan sawah, dan masing-masing hamparan diamati 30 rumpun contoh.
Pengamatan dilakukan di kecamatan Batanghari Nuban, Sekampung dan Pekalongan. Keenam lokasi hamparan yang disurvey di kabupaten Lampung Timur diamati pada stadia/umur tanaman dan varietas yang dominan yang ditanam pada masing-masing hamparan. (USR)***

Ucapan terima kasih kepada:
Ibu Endah Kepala Lab. PHPT Trimurjo.
Bpk. Ir. Rismunandar Kabid RPL Dinas Pertanian Lampung Tengah, Bpk. Suparyo SP Kabid Produksi Dinas Pertanian Lampung Timur.
Bpk. Warsito Koordinator POPT Kab. Lampung Tengah, Bpk Suryanto, SP Koordinator POPT Kab. Lampung Timur, seluruh staf Lab. PHPT Lampung Tengah.
Spesial buat keluarga Ibu Toha di Hadimulyo Blok 22A Jl. Kepodang Kotamadya Metro.
Yudi "Dodol" Hendarsyah. (Selamat menempuh Hidup baru).
.