Di Ujung Penantian....
15.01 | Author: Urip SR
R emunerasi ibarat puisi yg tak pernah selesai, bait-bait yang menggantung, dengan makna yang terbengkalai, sayup2 terbang bersama angin lalu...
E ntah sampai kapan penantian asa ini
M ungkinkah semua ini hanya sebagai angin surga penyejuk hati yang semu?
U ntuk sebagian orang barangkali ini terlalu naif, tapi bagi si kecil hal ini adalah asa yang selalu dinanti...

N asib si kecil selalu menjadi permainan dalam penantian yang tak kunjung datang, akankah mereka akan menjilat ludahnya sendiri manakala kata sudah terucap..???
E ngkau yang disana yang duduk di singgasana kemewahan, tidakkah memikirkan bahwa ribuan orang menanti dalam harap2 cemas disetiap detak waktu....
R asanya sebagian sudah tumbang dalam angan2...
A ku masih terpaku dalam permainan ini, sebegitu mudahkah mempermainkan perasaan orang dengan seribu satu dalih yang mencari pembenaran diri.
S eringkali kita terjebak oleh problema yang mempersulit diri, kenapa hal yang mudah selalu dibikin sulit???
I ngin sebenarnya aku lari dari kenyataan ini, aku terlalu bosan menunggu yang tak pasti, dengan embel2 reformasi birokrasi semua harus tunduk pada aturan,...kita terlanjur diiming-imingi yang akhirnya menjadi bumerang....:-(
Kotabaru 15/10/2012 (USR)***
(Sumber Foto: Puspita Sari expresi-smansatu.blogspot.com)***

Pah..., Mbok PNS dikasih THR....!
11.09 | Author: Urip SR
Saya tahu bahwa foto ini hasil rekaan yang mangsudnya notabene hanya sekedar guyonan, memang ada kekuatan kelucuan difoto rekayasa ini. Disaat melaksanakan ibadah puasa melihat image yang menggambarkan Ibu negara sedang membisikkan ditelinga Sang Presiden dengan kata2 seperti ini :"Pah, mbok PNS dikasih THR!"
Ada kekuatan humor disini, kelucuannya terletak pada ketidakmungkinannya hal tersebut terlaksana, barangkali itu hanya kegelisahan (baca: Galau) sebagian besar para PNS kita yang belum menikmati tunjangan Remunerasi (ada 21 Kementerian/Lembaga yang belum memperoleh Remunerasi) tolong dikoreksi apabila salah. Hehehehehehe :-)
Perekayasa foto tersebut jeli memotret kegelisahan para PNS golongan kecil yang mengharapkan THR seperti layaknya orang pabrikan. Secara dejure di Kementerian/Lembaga tidak mengenal istilah THR, walaupun kenyataannya ada yang memberikan tetapi dengan istilah lain. Tetapi di institusi pemerintah dikenal dengan Gaji ke 13 (bonus 1 bulan gaji yang biasanya diberikan menjelang tahun ajaran baru bulan Juli setiap tahunnya). Yang ini hak prerogatif abdi negara (PNS) yang tidak dipunyai oleh Buruh Pabrik.
Lalu kenapa PNS minta THR? Adilkah..???
Secara kelakar mantan boss saya dikantor pernah nyeletuk terkait persoalan THR.
"PNS kok minta THR, kayak buruh pabrik aja..?" hahahahha :-D ,walaupun dalam konteks guyon tetapi memang seperti itulah aturan undang2nya (ada yang tahu PP yang mengatur masalah ini?). Kalau boleh berharap memang seperti itu, segera DPR membuat undang2 biar ada payung hukumnya agar Kemenkeu mengeluarkan THR yang dianggarkan setiap tahunnya.
Hehehehe ngarep.com daripada bermain kucing2an dengan anggaran yang ada.
Jujur saja bahwa penghasilan PNS ditingkat bawah itu masih dibawah UMR, karena setiap tanggal 20 sudah megap2 harus cari pinjaman apalagi kalau semua anak2 pada sekolah/kuliah, belum lagi iuran air PAM, listrik dan urusan dapur yang harus ngebul setiap harinya.
Duh pusingnya...!!!
Sementara ditayangan televisi kita disuguhkan oleh berita korupsi yang milyaran rupiah yang diembat oleh pejabat eksekutif maupun legislatif. Lalu dimana letak keadilan dinegeri ini???
Lho kok serius begini sih, yang jelas ilustrasi seperti itu secara karikatural sangat lucu dan lucu sekali, entah dari segimana lucunya, barangkali kita lagi menertawakan tingkah lucu para pemimpin negeri ini yang suka "ndagel".
Secara nalar, saya kepinginnya bahwa Ibu Negara benar2 membisikkan kalimat seperti itu: "Pah, mbok PNS dikasih THR...!"
atau bahkan lebih briliyan lagi, "Pah.., mbok Anas suruh ngaku aja..!?"
Ha ha ha ha ha saya benar2 ketawa ngakak kalau hal seperti itu benar2 terjadi. Sopo Ngiro???
Salam Humor dari Blogger Galau....!***
Sumber Foto: Asdy Praddana diunggah dari Facebook.
.

Opiniku Diujung Ramadhan
10.22 | Author: Urip SR
Ini adalah catatan pertama di bulan Agustus, karena kesibukan melaksanakan ritual ibadah shaum tetapi sesungguhnya lebih banyak memikirkan duniawi ketimbang khusyu beritikaf di masjid padahal kata pak ustadz tanggal2 ganjil menjelang berakhir ramadhan itulah Lailatul Qadar banyak dinanti. Justru pada saat seperti inilah semakin disibukkan urusan dunia, memikirkan baju lebaran anak plus uang sangunya dan persiapan mudik ke kampung. Lalu kapan kita akan khussyu menyambut Laitul Qadar kalau setiap tahun diujung ramadhan selalu disibukkan hal2 remeh temeh seperti itu.
Keresahan hati atau biasa disebut ke-galau-an kata anak jaman sekarang ini selalu menghinggapi orang kebanyakan seperti saya ini.
Kenapa sih kita dibuat larut dalam ritme seperti ini setiap tahunnya? bekerja selama setahun receh demi receh dikumpulkan hanya untuk dihabiskan dalam waktu 2 hari saat mudik lebaran ke kampung halaman. Apakah kita mau pamer harta? atau menunjukkan keberhasilan kita kaum perantau? Saya tak habis pikir kenapa saya harus latah mengikuti orang2 kaum urban yang selalu hilir mudik pulang kampung menjelang lebaran. Inilah hebatnya Indonesia tradisi seperti ini (baca: mudik lebaran) hanya ada di negeri ini, karena di negeri jiran tetangga yang paling dekat dengan kita tidak ada tradisi seperti ini. Boleh jadi pembangunan di negeri jiran lebih merata sehingga tidak ada urbanisasi seperti halnya di Indonesia. Di negeri yang katanya makmur ini (gemah ripah loh jinawi) putaran uang terkonsentrasi dikota2 besar saja sehingga memicu arus urbanisasi besar2an bahkan lintas negara menjadi buruh migran. Dan pada saat menjelang lebaran mereka berduyun2 bagai gelombang air bah pulang kampung bersamaan seperti yang biasa disebut sebagai "arus mudik" yang selalu menyisakan kemacetan yang luar biasa. Merubah paradigma kebiasaan masyarakat kita sungguh tidaklah gampang, himbauan agar tidak mudik menggunakan sepeda motor lebih dari 3 orang pun hanya sebatas himbauan yang tidak pernah ditaati. Terkadang keselamatan dijalan dianggap angin lalu padahal angka kecelakaan setiap tahunnya meningkat pada saat arus mudik maupun balik.
Bagaimana menyikapi permasalahan ini dengan arif dan bijaksana sehingga mampu menghasilkan solusi yang cerdas. Bagaimana dengan anda, apakah seperti saya selalu galau setiap menjelang lebaran????
Taqobllahu minna waminkum minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.(USR)***
.
Ada Apa dengan Kedelai..???
17.00 | Author: Urip SR
Gonjang-ganjing masalah kedelai kembali menghantui para perajin tempe dengan harga yang meroket dari Rp.5.500,- naik menjadi Rp.8.000,- hal ini dipicu karena langkanya komoditas tersebut, akibat Amerika Serikat sedang dilanda kekeringan ekstrem maka pasokan impor pun berkurang. Kita memang sangat bergantung kepada AS karena setiap tahun kita impor, berdasarkan ARAM I produksi kedelai kita tahun 2012 sebanyak 779 ribu ton sementara jumlah impor kedelai tahun 2011 berdasarkan angka BPS th. 2012 sebanyak 2,1 juta ton. Praktis, setiap tahun negara kita kehilangan devisa triliyunan rupiah akibat impor kedelai yang tiap tahunnya mengalami kenaikan pasokan akibat produksi dalam negeri jeblog.
Pertanyaan yang sering terlontar adalah "Kenapa sih petani kita gak tanam kedelai?"
"Bukankah negeri kita agraris?"
Fakta saat ini, tanaman kedelai hanyalah 'sampingan' bukan sebagai komoditas utama yang diusahakan petani.
Selama ini produksi kedelai ditumpukan pada lahan sawah yang biasanya digunakan pada saat jeda musim tanam padi. Lahan sawah sendiri saat ini terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan. Setiap tahun rata-rata konversi sawah mencapai 110 ribu hektare. Sementara lahan yang menjadi sawah baru setiap tahun tidak lebih dari setengahnya. Hilangnya sawah berarti hilang pula lahan untuk tanaman kedelai.
Dapatkah kita mewujudkan swasembada Kedelai pada 2014 ?

Pemerintah perlu menambah lahan untuk meningkatkan produksi kedelai. Penambahan ini menjadi syarat wajib yang harus dilakukan agar terlepas dari ketergantungan impor kedelai. Namun jika melihat lahan yang ada sekarang, keberhasilan target sulit tercapai. Lahan produksi yang ada sekarang sangat terbatas. Untuk bisa meningkatkan produksi kedelai dibutuhkan tambahan lahan minimal 500 ribu hektare. Sementara, saat ini petani kedelai rata-rata hanya menggarap lahan seluas 0,3 hektare.
.
SPOT STOP (Gerakan melawan Hama Wereng)
11.50 | Author: Urip SR
Sejak dicanangkan Program "Spot Stop" oleh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Ir. Udhoro Kasih Anggoro, MS) di Kabupaten Lamongan tahun 2011, gaungnya sampai saat ini masih terasa, sebuah gerakan untuk melawan hama Wereng Batang Coklat (WBC). Pada waktu itu Dirjen TP menyampaikan disela-sela acara Workshop Penanganan WBC di Kab. Lamongan, Jawa Timur.
Spot Stop sendiri mempunyai arti upaya memberhentikan laju populasi WBC agar tidak eksplosif (meledak) sehingga tidak menimbulkan titik spot (hopper burn). Gerakan itu dari hari kehari terus dikampanyekan melalui berbagai kesempatan baik melalui pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Sasarannya jelas meningkatkan produktifitas hasil panen padi.

Bagaimana meningkatkan hasil panen?

Sebuah tantangan bersama bahwa upaya peningkatan produkktifitas menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat (Ditjen TP Kementerian Pertanian), Pemerintah daerah dan masyarakat tani yang tergabung dalam Gapoktan. Selain melalui upaya2 penyuluhan, pengawalan, juga melalui input bantuan sosial berupa benih unggul berkualitas, bantuan pupuk dan sarana penunjang produksi lainnya. Bantuan sosial digulirkan sebagai stimulan kepada petani sebagai pelaku utama agribisnis padi agar selalu bergairah menanam padi dan terjadi peningkatan produksi tiap tahunnya. Program seperti itu terus dan terus bergulir melalui kelompok tani maupun gabungan kelompok tani sebagai wadah yang memenejemen SDM petani di pedesaan. Selain itu juga dilakukan pengawalan melalui surveylance OPT padi untuk membantu petani dalam rangka pengendalian OPT, surveylance ini bertujuan untuk memonitoring perkembangan hama dan penyakit di tingkat lapang. Hasil akhirnya adalah memberikan rekomendasi pengendalian kepada petani melalui petugas di daerah (PPL, POPT dan Mantri Tani).

Namun dari berbagai sumber tentang semboyan Spot Stop, salah satu strateginya adalah "menurunkan serangan OPT". Pemahaman umum terhadap strategi tersebut adalah pengendalian dengan Pestisida, karena itu yang mudah diaplikasikan dilapangan serta terbukti hasilnya. Lha kalau ini terjadi seperti pada era 70an, maka racunlah yang akan mengisi tanah air kita. Jadi sia-sialah program perlindungan ramah lingkungan yang telah dibangun selama ini. Lagi pula kelihatannya pejabat di pusat dan daerah menerapkan semboyan spot stop tersebut untuk semua opt dan komoditi. Bahkan ada pejabat perlindungan yang menargetkan intensitas serangan maksimal 5 %. Bisakah semua tanpa pestisida ? Mampukah agensia hayati dan sejenisnya menjawab keinginan pejabat yang sedang mempertahankan kedudukannya ? Kegalauan seorang pembaca dari blog ini sengaja saya repost, sebagai bahan renungan bagi kita bersama. Bagaimana menurut anda???
(USR)***
.
"Jangan mudah terprovokasi, kita ini saudara serumpun, kita ini sama-sama muslim, selesaikan konflik dengan dialog “ demikian pesan orang bijak menasihati. Saya sangat setuju dengan pendapat itu karena itu lebih rasional dan terpelajar. Apalagi sama-sama anggota ASEAN yang notabene harus bisa menjadi contoh mampu menciptakan kedamaian di kawasan Asia Tenggara. Lalu kenapa terjadi gejolak gelombang demonstrasi besar-besaran anti Malaysia, bahkan kedutaan besar Malaysia sampai dilempari kotoran dan bendera dibakar.???

Bukan tanpa alasan sebagian besar penduduk Indonesia marah karena ‘sudah sering’ bangsa Indonesia di lecehkan, bukan satu-dua kali tetapi berkali-kali. Masih segar di ingatan kita bagaimana arogansi Malaysia dipertontonkan. Kasus Ambalat dimana kapal patroli milik TNI AL ditabrak oleh AL Diraja Malaysia, pencaplokan Pulau Sipadan-Ligitan, Klaim atas beberapa budaya milik kita, pemukulan terhadap wasit nasiona Karate-do Indonesia (Donald Luther), tindakan semena-mena terhadap TKI/TKW, melanggar batas wilayah (yang ini paling sering) bahkan dianggap sepele karena sering dilanggar, dan yang terakhir penangkapan sewenang-wenang terhadap petugas patroli KKP di perairan P. Bintan (yang kemudian dilepas setelah di “barter” dengan “maling ikan” asal Malaysia). Tetapi kemudian statement tersebut dengan “santun” disanggah oleh Menlu Marty Natalegawa. Hebat bukan.!??

Sementara se-antero Nusantara berbagai element bangsa yang jiwa patriotik dan harga dirinya terusik melancarkan aksi unjuk rasa anti Malaysia sebagai ungkapan rasa kecewa karena martabat bangsa dilecehkan. Rupanya kalangan parlemen pun bersuara keras ikut mengecam tindakan Malaysia yang arogan. Ibarat pepatah “Anjing menggonggong kafilah berlalu” maka pihak pemerintah RI pun demikian hanya mengajukan “nota protes” dan pendekatan “soft diplomasi”.

Indonesia menuntut Malaysia untuk meminta maaf atas insiden penangkapan 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (13/08/2010). Dengan entengnya pihak Malaysia menanggapi bahwa “tidak akan minta maaf” bahkan Menlu Malaysia sempat mengancam akan mengeluarkan imbauan kepada warga Malaysia untuk tak bepergian ke Indonesia (Travel Advisory) terkait dengan aksi protes ekstrim. Seperti sudah menjadi kebiasaan apabila terjadi gesekan antara kedua negara, Malaysia pun memulangkan paksa para TKI.

Duh, betapa menyakitkan….!!!

Kata seorang teman dalam sebuah SMS lewat facebook “Kita diposisi dilematis sekarang ini......jika hanya mengingat hargadiri dan nasionalisme maka sekarang juga ingin perang dgn Malaysia sialan itu......INI DADAKU MANA DADAMU!!! Tapi ketika menoleh melihat saudara-saudaraku yg mengais ringgit disana .....jiwa ini kembali tertunduk sesak rasanya dada ini melihat nasib mereka......kita harus betul-betul cepat,tepat,cerdas dan ikhlas dlm mengambil keputusan sengketa dgn Malaysia ini.

Kita memang mengutuk peperangan karena hanya akan mendatangkan kerugian bagi kedua negara apalagi antara kedua negara tersebut memiliki latar belakang sejarah, budaya, sosial dan agama yang secara umum adalah sama.

Lantas timbul pertanyaan besar, “sampai kapan kita menjadi bangsa pema’af?”

Kata seorang pakar, pemerintah Indonesia masih melakukan diplomasi setengah hati dalam penyelesaian konflik dengan Malaysia. Pemerintah terkesan ragu dalam mengambil langkah diplomasi yang lebih tegas.Tindakan tegas tidak harus perang, panggil duta besar atau putus hubungan diplomatik merupakan bukti “ketegasan” yang ditunggu 235 juta rakyat Indonesia. Kalau mengedepankan soft diplomasi terus dan selalu mengalah maka konflik akan selalu kembali terulang. Capai deh…!!!

Maka jangan salahkan rakyat Indonesia apabila mengambil caranya sendiri dalam melihat konflik tersebut. Generasi muda Indonesia mari bangkit membela kedaulatan dan harga diri bangsa.

Bangkit itu…marah…

Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu… aku

Aku..untuk Indonesiaku.

(cuplikan puisi dari Deddy Mizwar)

Semoga Gusti Allah memberikan petunjuk.....amin…!!!

(USR)***

Melihat tayangan secara langsung kinerja Pansus Bank Century dengan mantan petinggi BI yang disiarkan Metro TV pada malam hari (6/01/2010) sungguh luar biasa, diluar dugaan ternyata terjadi adu argumen antara Gayus Lumbuun dan Ruhut Sitompul tidak patut untuk dilihat, kata-kata kasar keluar tanpa tedeng aling-aling padahal jam tayang masih belum terlalu malam sehingga banyak ditonton oleh anak-anak (kebetulan pada saat kejadian saya pun menonton bareng anak-anak). Patut disayangkan wakil rakyat yang terhormat mengumbar emosi di depan forum yang katanya terhormat, sungguh suatu pelajaran yang tidak elok apabila wakil rakyat yang terhormat mengeluarkan kata-kata yang kurang patut. Lha kok malah ribut sendiri, ada apa sesungguhnya didalam Panitia Khusus DPR mengenai Bank Century..???
Tanda tanya besar bagi rakyat yang menyaksikan, seharusnya mereka kompak bersatu mengurai benang kusut Bank Century yang dananya diduga mengalir bak aliran sungai yang tiada berujung dan ini sungguh menyakiti hati rakyat banyak. Akhirnya saya teringat Gus Dur yang pada waktu itu beliau mengatakan bahwa anggota Dewan tidak ubahnya seperti anak-anak kecil. Ternyata ucapan itu terbukti adanya, bagaimana mereka dengan sikap gagah berani saling menghujat, saling menantang, saling menyerang dengan kata-kata yang tidak elok. Seyogyanya mereka bersatu bahu membahu menuntaskan kasus Bank Century yang telah melukai hati rakyat Indonesia. Bagaimana mau menuntaskan kasus apabila didalam Pansus sendiri gontok-gontokan? Rakyat Indonesia butuh penjelasan dan berharap banyak kasus tersebut bisa dituntaskan dengan menyeret dan mengadili yang salah sesuai prosedur hukum yang berlaku di republik ini. Siapapun dia apakah pejabat tinggi atau Presiden sekalipun kalau memang terlibat harus diselesaikan secara hukum, sehingga hukum benar-benar adil untuk semuanya.
Saya tidak mau berpanjang lebar (karena UU ITE bisa mengancam kebebasan bersuara) biar rakyat menilai sendiri para wakil-wakilnya yang telah mereka pilih. Biarlah insiden di gedung DPR itu sebagai pembelajaran bahwa kita memang belum bisa berbeda pendapat atau belum bisa mengalah untuk kemenangan. Mengalah untuk menang adalah strategi.
Beruntung saya tidak menjadi anggota DPR (kalau hanya kerjanya cuma bisa interupsi dan menyerang sesama anggota). Kayaknya menjadi blogger lebih baik daripada menjadi politisi kutu loncat. Aktifitas blogging justru lebih menarik, unik dan menyenangkan daripada menjadi politisi yang bergaya cowboy mabuk. Menulis di blog (termasuk yang saya tulis ini) sebagai penghibur sepi sekaligus menjadi nutrisi hati dan pikiranku untuk terus belajar dan insya Allah berbagi ilmu. Semoga coretan gundah ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.
(uripsr@ymail.com)***
ANJING MENGGONGGONG NGEBLOG TETAP JALAN
01.46 | Author: Urip SR
Catatan ringan dari seorang PNS yang Go-Blog
Sebuah refleksi atas tanggapan beberapa orang bahwa kegiatan nge-blog sudah mulai kendor.

Ada yang bilang bahwa blog adalah tren sesaat (Kata Roy Suryo) karena sebagian blogger berasik-asik di facebook dan Twitter. Para blogger berekspansi ke wahana jaring pertemanan tersebut sehingga kandangnya sendiri ga keurus (ga nulis, ga da postingan). Kalau begini terus bisa berabe nih, padahal bermula dari blog lah suatu saat muncul penulis-penulis handal Indonesia yang didominasi kaum muda akan bermunculan.
Kalau yang tuek macam gue sih cuman sekedar hobi des menuruti kata hati sehingga unek-unek yang tercetus bisa dikeluarkan lewat kertas digital ini. Serasa mak..plong..begitu semua unek-unek tersalurkan minimal tidak tersumbat (bisa jadi penyakit stroke he2...:-)). Tetapi kebebasan berekspresi ini justru mulai rada gamang setelah terbit Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE). Sejak diundangkan pada April 2008, UU ITE setidaknya telah memakan lima orang korban. Semuanya dijerat pasal 27 ayat 3 tentang pencemaran nama baik. Tak tanggung-tanggung sanksinya hukuman di bui 6 tahun dan denda Rp. 1 milyar. Ck...ck..ckk menakutkan ya???
Takutkah dengan ancaman itu.??? Lantas kegiatan blogging apakah mau berhenti hanya karena pasal karet dalam UU ITE???
Siapa takut?! Blogging tetap jalan dan tiada hari tanpa posting, pokoknya selagi mood menulis muncul kenapa tidak?!
Tentu pakai jurus-jurus yang aman agar tidak terjerat dalih pencemaran nama baik yang berpotensi mengekang kebebasan berekspresi.

Tips agar aman dari jeratan seperti kata Bung Erwin (Koran Tempo Minggu 27 desember 2009) adalah sbb:

1. Hindari judul yang terlalu provokatif.
2. Fokus terhadap masalah, bukan terhadap orangnya.
3. Berikan solusi, jangan hanya mengkritik.
4. Jangan segan minta maaf ketika melakukan kesalahan.
5. Harus siap menerima kritik dan saran dari pembaca.
6. Jangan membuat tulisan yang justru mempermalukan diri sendiri.
7. Jangan bohong atau menyajikan data palsu.

Gimana? Apa masih duduk termenung saja atau mulai menulis lagi. Rasanya kalau 7 poin tersebut diatas di hayati bakal aman2 saja kegiatan Nge-Blog kita. Tetapi saya pesan bahwa Pasal karet dalam UU ITE harus direvisi agar tidak terjadi lagi kasus Prita maupun Luna Maya.
Akhirnya...Anjing Menggonggong Nge-Blog Tetap Jalan.(uripsr@ymail.com)***

Kotabaru Selasa Dinihari, 29 Desember 2009.
.
Malaysia Krisis Identitas....
12.53 | Author: Urip SR
Kembali Malaysia mempertontonkan ketololannya sebagai sebuah bangsa dengan mengklaim Tari pendet sebagai tari tradisionalnya. Mereka (baca Malingsia) tidak berpikir bahwa negara kerajaan yang dipertuan agung adalah berbasis ajaran Islam yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Sangat gegabah berani mengklaim kesenian dari khasanah budaya Hindu yang wanita penarinya menonjolkan aurat.
Sungguh ironis memang, Malaysia telah kehilangan jatidiri, telah kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan bangsanya sendiri. Tari Pendet adalah klaim kesekian kali setelah Reog Ponorogo, kain batik, wayang kulit, keris, angklung dan masih banyak lagi.
Kalau semua bentuk seni budaya di klaim oleh Malaysia, bagaimana kalau kita gantian mengklaim bahwa malaysia adalah bagian dari Profinsi di Indonesia..? Seperti halnya Irak yang mengklaim Kuwait sebagai profinsi yang terakhir dari Irak.
Kita umumkan saja bahwa malaysia adalah bagian dari Profinsi Indonesia yang ke 34.
dengan begitu adil toh...., mantap toh....enak toh....(Bagaimana reaksinya Malingsia...ha2).
Hayooo...siapa berani mendukung...!!! (Emang enak main klaim)
Nanti lama-lama bisa jadi SBY di klaim sebagai Presidennya. (USR)***

Sumber: http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=1115806463&v=app_2347471856&ref=profile
Indonesia yang sebenarnya...
12.46 | Author: Urip SR
Jangan malu mengatakan bahwa kita sebenarnya masih tertinggal daripada negeri jiran Malaysia. Beginilah potret Indonesia sebenarnya, belum semuanya menikmati kue pembangunan. Coba tengoklah Saudara-saudara kita yang tinggal di pedesaan masih sangat sulit mendapatkan pekerjaan, mereka harus membanting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi. Seperti nampak dalam foto seorang ibu rumah tangga harus ekstra kerja keras di tengah sawah dengan ditemani si buah hatinya hanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup, pekerjaan yang selayaknya dilakukan oleh lelaki tetapi demi sesuap nasi maka rela berpeluh keringat diteriknya matahari yang membakar.
Kemiskinan dan pengangguran masih terjadi dimana-mana, sementara korupsi masih merajalela. Pemandangan orang antri minyak tanah belum bisa terhapus dari negeri ini, apalagi menghapus korupsi yang semakin mengakar. Dalam keterbatasan apakah kita malu mengakui segala kekurangan ini.
Di tengah kegusaran kita sebagai bangsa yang katanya negara demokrasi nomor tiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Mestinya kita bercermin kenapa kita ketinggalan dari Malaysia padahal kita merdeka lebih dulu. Sebagai sebuah bangsa kita bangga karena kita merdeka dengan tetesan keringat dan darah. Sementara saudara serumpun Malaysia merdeka karena pemberian Inggris. Malaysia juga bukan negara demokratis. Mari renungkan bersama bahwa nafsu menimbun, memperkaya diri, dan kekuasaan tidak pernah ada puasnya. Para pemimpin seyogyanya lebih peduli kepada sesama terutama yang tengah menderita, berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain.
Inilah kepedulian sosial, apabila dilaksanakan secara simultan niscaya akan terwujud keharmonisan di negeri ini atau di kehidupan rakyatnya. Semoga...!(USR)***
.
Namanya juga Saung....
21.36 | Author: Urip SR
Secangkir Kopi panas di SaungURIP...

Saung dalam bahasa daerah (Sunda) berarti rumah/gubug kecil ditengah sawah atau ladang. Fungsi saung sangat strategis sebagai tempat berteduh disaat panas terik maupun dikala hujan. Lebih dari itu saung sebagai tempat transfer ilmu antara Petugas Penyuluh (PPL dan POPT) dengan para petani, biasanya para petani berkumpul disini untuk transformasi ilmu terapan seputar dunia pertanian (lazim disebut saung meeting). Obrolan dan diskusi kecil berlangsung disini, tidak terbatas masalah pertanian terkadang isyu terkini pun menjadi santapan para bapak tani dari masalah politik sampai kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin naik.
Di saung bebas berekspresi menyampaikan unek-unek walaupun sebatas antar teman, belajar menyampaikan pendapat, beradu argumentasi, menghargai perbedaan pendapat dan lain sebagainya.
Tak terkecuali di sini saungURIP sebagai tempat untuk menampung segala ekspresi dari masalah remeh temeh sampai ke hal yang njlimet dan pelik sekalipun, tempat berbagi mencurahkan segala permasalahan hidup yang terkadang rumit. Keberadaan saung hanya di Pedesaan, dimana masyarakatnya masih adem ayem, menikmati hidup apa apa adanya, ora neko-neko. Di saung inilah seseorang bisa berbagi pengalaman seru, menyenangkan, maupun menyedihkan. Namun, acap kali pengalaman itu terbang begitu saja bak angin lalu. Agar masa lalu jadi bermakna perlu dibuat dokumentasi hidup.

Caranya:
  • Selama melakukan kunjungan disini (saungURIP) jangan lupa meninggalkan jejak di shout mix (kesan dan pesan) atau tuker link juga boleh.
  • Biasakan menulis komentar disetiap artikel yang sedang dikunjungi...
  • Bila ada kritik dan saran sekiranya memberikan dampak positif terhadap sesama kirimkan saja.
  • Sumbangan ide-ide kreatif yang bisa membuat motivasi atau pencerahan terhadap sesama akan lebih bermakna apabila saling sharing disini.
Dengan begitu anda telah memberi makna hidup dan selalu bersyukur kepadaNYA atas perjalanan hidup yang selama ini dijalani. Sekaligus memberi inspirasi agar selalu berbuat positif, tidak saja bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan orang lain.
Namanya juga obrolan di saung tentu banyak kekurangannya....!!!***
.
Padi dan Kehidupan...
21.13 | Author: Urip SR
"Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, padi adalah kehidupan. Malai dan bulirnya telah membentuk budaya, pola makan, dan ekonomi berjuta jiwa. bagi mereka, sungguh tak terbayangkan bagaimana menjalani hidup ini tanpa padi."

Sejak berabad-abad yang lalu, padi telah mempengaruhi kehidupan dan budaya jutaan orang Indonesia. Pada suku-suku tertentu, padi mengatur irama hidup yang menjembatani dunia fana dan alam baka. Pada sebagian besar masyarakat, padi telah memberi warna pada pola kebiasaan, kepercayaan, upacara, dan perhelatan.

Di sebagian besar wilayah di Indonesia, padi adalah penentu ketahanan pangan. Penduduk miskin di kota maupun di desa, bisa jadi membelanjakan separuh sampai tiga perempat penghasilannya untuk beras (hanya untuk beras).
Pada 25 tahun mendatang, penduduk negeri ini diperkirakan akan mencapai 275 juta orang karena setiap hari hampir 8000 wajah baru muncul menambah rona kehidupan yang beragam.
Memberi makan jumlah penduduk yang demikian besar akan memerlukan usaha yang tidak ringan, karena produksi padi harus ditingkatkan dari 50 juta ton saat ini menjadi 70 juta ton gabah kering. Sementara luas lahan sawah terus menyusut dan kesuburan tanah semakin terkuras, ketahanan pangan nasional seakan ditantang oleh keburaman yang tak lagi samar.
Di saat krisis global yang melanda ekonomi bangsa, kebijaksanaan terhadap "perpadian" pun menuntut perhatian khusus. Menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen memerlukan ketelitian prima agar nasib petani tak lagi ditelantarkan.
Semoga!!!(Yapadi/USR)***
NGEBLOG ITU ADA PESANNYA...
17.40 | Author: Urip SR
Jurnal Nasional (25/1/2009)
Blogger tak sekadar membuat tulisan kepada masyarakat tapi menyuarakan pesan yang mendidik.

"Jadi, orang-orang yang menulis tetap melakukan tindakan nyata bagi orang lain yang membacanya, sehingga tulisan kita mampu membawa pesan yang lebih baik."
Sebuah pesan dari Anandita Puspita sari.
Blognya http://nonadita.dagdigdug.com menang dalam Kompetisi Microsoft Bloggership 2008 yang diselenggarakan Microsoft Indonesia.

Kalimat tersebut diatas adalah cuplikan dari harian Jurnal Nasional (25/1/2009) yang ditulis oleh Wartawati Musdalifah Fachri (musdalifah@jurnas.com).
Semua yang membaca tentu sepakat dengan yang diutarakan oleh Anandita, karena saya sendiri sejak mulai go - blog (mulai beraktifitas blogging) selalu menulis apa yang ada dalam benakku, disetiap perjalanan dinas ke luar daerah ataupun dalam kesendirian dirumah tak lupa dari secarik kertas dan pena, untuk sekedar corat-coret agar tidak lupa, kemudian malam harinya dituangkan dalam kertas digital ini. kalau selama ini masih banyak blogger yang hanya isinya curhat, tetapi tak apalah kalau bisa mengelola dengan baik "curhat-curhat" itu bisa sebagai modal awal dalam menulis sebuah cerita pendek, tentang dirimu, kawanmu atau lingkunganmu.
"Menulis surat adalah awal dari sebuah cerita pendek" jadi, jangan menganggap sepele arti sebuah surat (apa itu surat cinta, surat curhat ataupun surat gadai sekalipun ..he..he..he)isi surat biasanya berisi refleksi dari si pembuatnya, kalau kita kumpulkan kemudian kita dalami, lalu improvisasi sedikit, kita poles agar menjadi sebuah cerita menarik, Sebut saja "Laskar Pelangi" karangan Andrea Hirata, yang best seller itu adalah hasil perenungannya semasa kecil, bagaimana memunguti kenangan manis masa kecil kemudian merekam kembali untuk ditulis menjadi karya sastra yang segar dan enak dibaca. Dalam perenungan identik dengan melamun, tetapi dalam hal ini bukan melamun yang "kosong" tetapi melamun yang bermakna artinya dalam lamunannya kita bermain-main dengan topik bahasan, apa yang mesti ditulis.
Bagiku melamun itu bukan pekerjaan sia-sia, karena dari lamunannya itu akhirnya lahir sebuah karya tulis ataupun kreasi yang lainnya.
Saya pribadi selalu melamun membayangkan apa yang mesti saya perbuat, kebetulan saya bekerja berhubungan dengan jurnalistik (sebagai Tim Kreatif di Sebuah Instansi Pemerintah) bagaimana membuat buletin/majalah yang menarik, bagaimana mendisain sebuah poster yang komunikatif, lalu apa yang mesti dibuat dalam brosur atau leaflet, melalui proses pelamunan akhirnya muncul gagasan-gagasan yang berisi. Semuanya bermuara kepada olah pikir kita yang produktif untuk melahirkan ide-ide yang inovatif.
Menulis apapun itu merupakan hobi yang cerdas, karena dengan hobi ini kita menuangkan ide kreatif untuk disuguhkan kepada masyarakat.
Sebagai penutup tulisan ringan ini "Mari jadikan hari-hari kita dengan tulisan" warnai blog kita dengan tulisan-tulisan yang berbobot yang bisa menjadi pencerahan bagi kita semua. Ngeblog itu ada pesannya. Ngeblog..., baik ya.!!?