"Jangan mudah terprovokasi, kita ini saudara serumpun, kita ini sama-sama muslim, selesaikan konflik dengan dialog “ demikian pesan orang bijak menasihati. Saya sangat setuju dengan pendapat itu karena itu lebih rasional dan terpelajar. Apalagi sama-sama anggota ASEAN yang notabene harus bisa menjadi contoh mampu menciptakan kedamaian di kawasan Asia Tenggara. Lalu kenapa terjadi gejolak gelombang demonstrasi besar-besaran anti Malaysia, bahkan kedutaan besar Malaysia sampai dilempari kotoran dan bendera dibakar.???

Bukan tanpa alasan sebagian besar penduduk Indonesia marah karena ‘sudah sering’ bangsa Indonesia di lecehkan, bukan satu-dua kali tetapi berkali-kali. Masih segar di ingatan kita bagaimana arogansi Malaysia dipertontonkan. Kasus Ambalat dimana kapal patroli milik TNI AL ditabrak oleh AL Diraja Malaysia, pencaplokan Pulau Sipadan-Ligitan, Klaim atas beberapa budaya milik kita, pemukulan terhadap wasit nasiona Karate-do Indonesia (Donald Luther), tindakan semena-mena terhadap TKI/TKW, melanggar batas wilayah (yang ini paling sering) bahkan dianggap sepele karena sering dilanggar, dan yang terakhir penangkapan sewenang-wenang terhadap petugas patroli KKP di perairan P. Bintan (yang kemudian dilepas setelah di “barter” dengan “maling ikan” asal Malaysia). Tetapi kemudian statement tersebut dengan “santun” disanggah oleh Menlu Marty Natalegawa. Hebat bukan.!??

Sementara se-antero Nusantara berbagai element bangsa yang jiwa patriotik dan harga dirinya terusik melancarkan aksi unjuk rasa anti Malaysia sebagai ungkapan rasa kecewa karena martabat bangsa dilecehkan. Rupanya kalangan parlemen pun bersuara keras ikut mengecam tindakan Malaysia yang arogan. Ibarat pepatah “Anjing menggonggong kafilah berlalu” maka pihak pemerintah RI pun demikian hanya mengajukan “nota protes” dan pendekatan “soft diplomasi”.

Indonesia menuntut Malaysia untuk meminta maaf atas insiden penangkapan 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (13/08/2010). Dengan entengnya pihak Malaysia menanggapi bahwa “tidak akan minta maaf” bahkan Menlu Malaysia sempat mengancam akan mengeluarkan imbauan kepada warga Malaysia untuk tak bepergian ke Indonesia (Travel Advisory) terkait dengan aksi protes ekstrim. Seperti sudah menjadi kebiasaan apabila terjadi gesekan antara kedua negara, Malaysia pun memulangkan paksa para TKI.

Duh, betapa menyakitkan….!!!

Kata seorang teman dalam sebuah SMS lewat facebook “Kita diposisi dilematis sekarang ini......jika hanya mengingat hargadiri dan nasionalisme maka sekarang juga ingin perang dgn Malaysia sialan itu......INI DADAKU MANA DADAMU!!! Tapi ketika menoleh melihat saudara-saudaraku yg mengais ringgit disana .....jiwa ini kembali tertunduk sesak rasanya dada ini melihat nasib mereka......kita harus betul-betul cepat,tepat,cerdas dan ikhlas dlm mengambil keputusan sengketa dgn Malaysia ini.

Kita memang mengutuk peperangan karena hanya akan mendatangkan kerugian bagi kedua negara apalagi antara kedua negara tersebut memiliki latar belakang sejarah, budaya, sosial dan agama yang secara umum adalah sama.

Lantas timbul pertanyaan besar, “sampai kapan kita menjadi bangsa pema’af?”

Kata seorang pakar, pemerintah Indonesia masih melakukan diplomasi setengah hati dalam penyelesaian konflik dengan Malaysia. Pemerintah terkesan ragu dalam mengambil langkah diplomasi yang lebih tegas.Tindakan tegas tidak harus perang, panggil duta besar atau putus hubungan diplomatik merupakan bukti “ketegasan” yang ditunggu 235 juta rakyat Indonesia. Kalau mengedepankan soft diplomasi terus dan selalu mengalah maka konflik akan selalu kembali terulang. Capai deh…!!!

Maka jangan salahkan rakyat Indonesia apabila mengambil caranya sendiri dalam melihat konflik tersebut. Generasi muda Indonesia mari bangkit membela kedaulatan dan harga diri bangsa.

Bangkit itu…marah…

Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu… aku

Aku..untuk Indonesiaku.

(cuplikan puisi dari Deddy Mizwar)

Semoga Gusti Allah memberikan petunjuk.....amin…!!!

(USR)***

|
This entry was posted on 09.34 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 komentar:

On 2 September 2010 11.14 , ryo syaherdian mengatakan...

ya ,bener sih kita itu negara serumpun dengan malaysia..
tpi klow martabat negara kita terinjak apa kita harus diam...
pembakaran bendera negara malaisia oleh saudara2 kita itu patut di acungi jempol...
tpi segitu blom cukup ,,masih untung indonesia hanya membakar bendera,
dari pd mlaisia,malaysia sudah membakar kehormatan negara kita...

 
On 3 September 2010 05.59 , Anonim mengatakan...

@ Ryo:
Betul bro, setuju..Ganyang Malingsia !!!

 
On 6 April 2012 09.18 , putra fajar mengatakan...

Pemerintah harusnya bisa bikin para TKI males mau kerja di luar negeri,KHUSUSNYA malaysia.kami semua butuh perhatian dan Pengertian kalian para DEWANku.