Pengantar:
"Optimalisasi Kearifan Lokal dalam Diversifikasi Pangan"
Sebuah advertorial dari Kementerian Pertanian yang dimuat di harian Kompas (24/8/2010) sangat menarik untuk direnungkan, barangkali ajakan dari Kementerian Pertanian dalam diversifikasi pangan perlu digalakkan dan disosialisasikan lebih gencar lagi agar keaneka-ragaman pangan di Indonesia lebih optimal dimanfaatkan oleh banyak penduduk. Kapan kita bisa mengekspor beras ke manca negara kalau kita sendiri termasuk pengomsumsi beras terbesar di dunia.
Mari beralih pangan alternatif non beras. Mau…???

Masih ingat musibah haji tahun 2006? Kala itu, ribuan jamaah haji asal Indonesia dilaporkan mengalami kelaparan. Peristiwa yang menghebohkan itu terjadi bukan karena tidak ada makanan. Sejatinya, roti dan makanan ringan lain waktu itu cukup tersedia. Jamaah haji kelaparan karena nasi (catering) datang terlambat.
“Yang terjadi sebenarnya lapar psikologis,” ungkap Menteri pertanian Suswono. Sudah makan roti tapi masih terasa lapar karena belum bertemu nasi. Bagi kebanyakan warga Indonesia, makan identik dengan nasi. Yang namanya makan ya makan nasi, bukan lainnya. Meski sudah makan roti beberapa potong, masih saja terasa lapar karena belum makan nasi.
Ke depan, jelas Mentan, persepsi makan = nasi itu perlu diluruskan. Makan tak harus nasi. Di luar nasi, masih banyak sumber pangan lain. Pola makan yang mesti nasi telah menempatkan Indonesia sebagai pemakan beras terbanyak di dunia. Menurut statistik, konsumsi beras per kapita rakyat Indonesia mencapai 139,5 kg per tahun. Ini angka konsumsi tertinggi di Asia. Bahkan mungkin dunia. Bandingkan dengan warga ASEAN lain yang tingkat konsumsinya masih dibawah 90 kg per tahun.
Pola makan yang amat tergantung pada beras tidak baik untuk masa depan. Selain tidak baik untuk kesehatan, beras minded bisa berpotensi membuat ketahanan pangan kita rentan. Bayangkan, jika suatu ketika, produksi padi nasional Indonesia – karena bencana, anomali iklim atau sebab lainnya – tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka, meningkatkan diversifikasi pangan menjadi keharusan. Pangan yang beragam lebih menjamin ketahanan pangan.
Selain beras, Indonesia, sesungguhnya, punya banyak sumber karbohidrat. Mulai dari jagung, sagu, singkong, ubi, talas, gembili, kentang, kana, serta umbi-umbian lainnya. Tanaman pangan itu tumbuh subur di Indonesia. Potensi produksi dan produktivitasnya yang terbuka lebar untuk ditingkatkan. Aneka sumber pangan itu, selama ini, belum banyak disentuh. Padahal, semuanya bisa dan layak jadi sumber pangan alternatif.
Soal rasa dan selera? Mestinya, tidak menjadi masalah. Macam-macam sumber karbohidrat itu bisa diolah demikian rupa menjadi pangan yang mengundang selera. Selain punya cita rasa enak dan lebih variatif, diversitas pangan juga bisa lebih menyehatkan. Aneka pangan alternatif itu juga memiliki nutrisi (nilai gizi) yang tak kalah baiknya. Maka, mulai sekarang, saatnya kita melakukan diversifikasi pangan dengan mengkonsumsi aneka sumber makanan non beras yang ada di sekitar kita.
Bangsa Indonesia yang plural, tambah Mentan Suswono, punya banyak kearifan lokal. Hampir setiap suku punya keunikan yang khas dalam pola dan menu makannya. Realitas ini amat bagus dikembangkan untuk memperkaya diversitas pangan, sekaligus menambah variasi pola makan nusantara kita.
Dengan diversifikasi, sumber pangan kita tambah berlimpah, asupan gizi menjadi lebih lengkap dan menyehatkan. Pada saat yang sama, industri jasa boga dengan nuansa kearifan lokal bisa berkembang dan pastinya membuat ketahan pangan kita semakin kokoh dan mantap.
(Sumber: Advertorial Kompas, 24 Agustus 2010)
.
This entry was posted on 11.55 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 komentar:

On 25 Agustus 2010 11.17 , purno87 mengatakan...

waduh....kalo urusan soal pangan saya ga ngerti kang urip...

 
On 26 Agustus 2010 02.10 , Anonim mengatakan...

@ Kang Purno:..lha kok??? tiap hari kan ketemu nasi, he2...