 |
| Alas Kamojing (Foto: Urip) |
Bila sungai terakhir telah tercemar
bila daun terakhir telah luruh
bila ikan terakhir telah mengambang
manusia akan sadar...
bahwa uang semata
akan menjadi sesuatu yang tiada artinya
~Situ Kamojing 05/10/2014~
.
 |
| Di Ujung Desa (Urip SR) |
Matahari semakin tergelincir di ufuk barat, hawa dingin semakin terasa merasuk.
Kabut tebal mulai menyelimuti suasana perkampungan. Bersamaan kampung beranjak semakin sepi, satu persatu petani meninggalkan persawahan.
Esok pagi satu persatu petani meninggalkan perkampungan mulai bergelut dengan lumpur pekat.
Pematang yang berliku dari sawah terasering terasa sulit untuk ditapaki.
Pagi ini kabut seperti hujan menyergap bumi, menepis segala pandangan menjadi sirna.
Termasuk kampung desa di ujungnya.
Kami baru saja melakukan ritual tanam padi….
Beginilah
cara kami memperlakukan bumi, penghargaan dan penghormatan sebagaimana
ketika “Sang Dewi Sri” memberi berkah kepada kami.
Tanah yang subur, padi yang bernas dan panen yang berlimpah.
Ritual
ini tetap kami lakukan sampai menjelang panen tiba “kenduri petik padi”
mempersembahkan kepada Sang Dewi Sri meski mereka tak pernah berharap.
Inilah bentuk penghormatan…
Sawah itu tak pernah sepi, karena mereka meyakini leluhur mereka masih hadir disana.
Namun
ketika beranjak meninggalkan sawah itu, saya merasa ada nada
kesunyian…dan saya berharap sawah dan kebun menghasilkan padi yang
bernas dan melimpah.
Kabut menyelimuti, …
hawa dingin terus merasuk ke kulit, saya tetap khidmat memandangi hamparan sawah
setiap pagi, sebuah ritual langka di ujung kabut sampai matahari tergelincir di ufuk barat.
(USR)***
.

Aku harus menulis....
menuntaskan bait demi bait agar tidak menggantung...
akankah bermakna? Aku tidak tahu?
biarlah ujung lidahku kelu melafal setiap kalimat...
ujung jemariku menari diatas keypad yang sesekali memecah hening...
Alhamdulilah, ....
ada seuntai resah berlalu dalam urutan, menunggu sayap-sayapmu dikepakkan
padahal senja telah meninggalkan doa
aku bermalam dalam senyap
berselimut gundah dan bermimpi...
mimpiku kini teruntai di sebait doa dibibir sepi namun ku coba semat di indahnya pelangi......
aku harus menulis....
menuntaskan segalanya....entah sampai kapan.!
Kotabaru, Awal Nopember 2012