FAITH makes all things possible,
HOPE makes all things work,
LOVE makes all things beautiful.
May you have all three in this New Year 2013.....
(Bersambung,,,pesan lapak dulu....!)
Siapa mau berguru pada kupu-kupu? Kalau kita punya halaman sedikit saja, tentu bisa mendatangkan kupu2.
Kupu-kupu adalah fase puncak dari kehidupan serangga. Sebelum itu ia hanya sebuah kepompong. Sebelumnya lagi ia ulat yang buruk dan rakus. Sebelumnya lagi telur yang diam. Pernahkah mendengar tentang makhluk rakus, makan banyak, merusak tanaman, dan harus dihukum? ia harus bertobat, berdoa, berpuasa bahkan bertpa di dalam ruang yang sempit. Ia berdoa sepenuh hatinya, sampai tubuhnya yang buruk menjelma menjadi indah, bersayap warna-warni dan terbang mengelilingi bumi.
(Eka Budianta, Aktifis Lingkungan dan Kebudayaan, Pengelola Jababeka Botanik Garden di Cikarang, Bekasi)
Kalimat tersebut diatas adalah penggalan dari tulisan Pak Eka Budianta dalam "Ilmu Kupu-kupu" yang dimuat di Trubus 474/Mei 2009 hal. 122. Saya sangat mengagumi beliau lewat tulisan-tulisannya yang cerdas dan memberikan motivasi. Saya pribadi 2 kali bertemu beliau pada saat acara "Amprokan Blogger Bekasi" pada tahun 2010 dan 2011. Seperti biasa beliau memberikan sambutan hijaunya, sesuai dengan tugas beliau sebagai pengelola "Jababeka Botanic Garden".
Ada ucapan yang begitu menyentuh pada saat acara penanaman pohon oleh para blogger pada waktu itu.
Seperti apa ucapan beliau yang menyentuh itu?
Tunggu sambungannya.....!
.
Kupu-kupu adalah fase puncak dari kehidupan serangga. Sebelum itu ia hanya sebuah kepompong. Sebelumnya lagi ia ulat yang buruk dan rakus. Sebelumnya lagi telur yang diam. Pernahkah mendengar tentang makhluk rakus, makan banyak, merusak tanaman, dan harus dihukum? ia harus bertobat, berdoa, berpuasa bahkan bertpa di dalam ruang yang sempit. Ia berdoa sepenuh hatinya, sampai tubuhnya yang buruk menjelma menjadi indah, bersayap warna-warni dan terbang mengelilingi bumi.
(Eka Budianta, Aktifis Lingkungan dan Kebudayaan, Pengelola Jababeka Botanik Garden di Cikarang, Bekasi)
Kalimat tersebut diatas adalah penggalan dari tulisan Pak Eka Budianta dalam "Ilmu Kupu-kupu" yang dimuat di Trubus 474/Mei 2009 hal. 122. Saya sangat mengagumi beliau lewat tulisan-tulisannya yang cerdas dan memberikan motivasi. Saya pribadi 2 kali bertemu beliau pada saat acara "Amprokan Blogger Bekasi" pada tahun 2010 dan 2011. Seperti biasa beliau memberikan sambutan hijaunya, sesuai dengan tugas beliau sebagai pengelola "Jababeka Botanic Garden".
Ada ucapan yang begitu menyentuh pada saat acara penanaman pohon oleh para blogger pada waktu itu.
Seperti apa ucapan beliau yang menyentuh itu?
Tunggu sambungannya.....!
.
Jakarta (21/06/2011) Hari Krida Pertanian ke - 39 diperingati di lapangan Kementerian Pertanian, Jl. Harsono RM 3 Ragunan, Jakarta Selatan dengan Inspektur Upacara Wamentan Bayu Krisnamurthi. Peringatan kali ini agak berbeda dari biasanya, ya biasanya Menteri sendiri sebagai Irup-nya tapi kali ini Pak Wamentan berbagi tugas dengan Menteri Pertanian yang mungkin lagi sibuk di acara Penas XIII di Tenggarong. Barangkali lebih penting di acara Penas maklum bos besarnya (Presiden) sedang berkunjung kesana. Sama-sama seremonial tapi bobotnya barangkali lebih maklum di Tenggarong dihadiri 30.000 manusia. Begitulah kira-kira..!
Ada satu kalimat yang perlu digaris bawahi pada saat Wamentan memberikan sambutan, bahwa Acara seperti ini bukan hanya sebagai seremonial belaka tetapi ada semangat untuk memajukan masyarakat pertanian kita, yang harus selalu diapresiasi dan dimotivasi.
Siapakah dia? .....berlanjut makan siang dulu yach...perut dah mau diisi nih.
.
Ada satu kalimat yang perlu digaris bawahi pada saat Wamentan memberikan sambutan, bahwa Acara seperti ini bukan hanya sebagai seremonial belaka tetapi ada semangat untuk memajukan masyarakat pertanian kita, yang harus selalu diapresiasi dan dimotivasi.
Siapakah dia? .....berlanjut makan siang dulu yach...perut dah mau diisi nih.
.
Alkisah, dalam sebuah perjalanan, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya berpergian naik pesawat ke Jakarta, disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itumenyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di
Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??Bagaimana dengan kakak adik-adik
nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat
baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri
yang tidak terlalu lebar.”
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di
pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “
….Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani." kata si Ibu mantap.
Sumber: Triwibowo Yuwono (Faperta GAMA)***
.





