Anda Termasuk yang Mana?
10.53 | Author: Urip SR
Ilustrasi (Urip SR)
5 Tipe Karyawan
Di kantor kita
Sebuah renungan bagi kita semua
Oleh: KH Abdullah Gymnastiar
(Ide dasar ini diambil dari pendapat Emha Ainun Najib “Budayawan Muslim”)

Pejabat/karyawan “Wajib”
Tipe ini memiliki ciri:
•    Keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan.
•    Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiakan siapapun yang berjumpa dengannya.
•    Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang sesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bangga untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan.
•    Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang merasakan bahagia dan senang dengan kehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat rang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya.
Pejabat/karyawan “Sunah”
Tipe ini memiliki ciri:
•    Kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan.
•    Berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan, hanya saja ketika tiada lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.
•    Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.
Pejabat/karyawan “Mubah”
Tipe ini memiliki ciri:
•    Ada dan tiadanya sama saja.
•    Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini, kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan kepergiannyapun tak terasa kehilangan.
•    Pejabat/karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan saja, asal kerja, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan, perbaikan dan hal produktif lainnya.  Sehingga kehidupannya pun tidak menarik datar-datar saja.
•    Sungguh menyedihkan memang jika hidup sekali-kalinya ini tidak bermakna. Harus segera dipelajari latar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya.
Pejabat/karyawan “Makruh”
Tipe ini memiliki  ciri:
•    Adanya menimbulkan masalah tiadanya tidak menjadi masalah.
•    Bila di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman dan kenyamanan kerja serta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak ada.
•    Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaannya selain tidak tuntas, tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.
Pejabat/karyawan “Haram”
Tipe ini memiliki  ciri:
•    Kehadirannya sangat merugikan dan ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan.
•    Orang tipe ini adalah orang termalang dan terhina karena sangat dirindukan “ketiadaannya”.  Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya sendiri, tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri.
•    Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar.  Sering memfitnah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, sangat tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek kata dia adalah “trouble maker”.
Penutup :
Silahkan anda renungkan , kita termasuk kategori yang mana???Semoga semua ini menjadi bahan renungan agar hidup yang hanya sekali ini kita bisa merobah diri dan mempersembahkan yang terbaik dan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat nanti. Jadilah manusia “Wajib Ada”.

.
Selasa, 31 Maret 2015.  Persiapan pameran (Memasang back drop, menata materi) petugas : Urip SR, Eri, B, Masalah (Driver).
Rabu, 1 April 2015 (Pembukaan Pameran) Info Guide : Memed Jamhari, Suci Niscahya Bhakti.
Kamis, 2 April 2015 : Cahyadi Irwan, Dedi Darmadi
Jum'at, 3 April 2015 : Yadi Kusmayadi, Yoyok Kusprayogie
Sabtu, 4 April 2015 : Urip SR, Anton Yustiano, Suwandi Irawan
Minggu, 5 April 2015 : Doel, Turyadi
Senin, 6 April 2015 : Dianto MS, Busyaeri LA
Selasa, 7 April 2015 : Eri B, Urip SR, RTP (Driver)
Selamat Bertugas....!!!!
.


Tema : GAPURA WUJUD NYATA NGAWANGUN KAMANDIRIAN SANGKAN KATARA
TURKARASA KU RAHAYAT SUBANG
Momentum : Hari Jadi ke-67 Kabupaten Subang
Pelaksanaan Pameran :Tanggal 1 April s/d 7 April 2015
Pukul : 09.00 s/d 22.00 WIB (acara harian)
Tempat : Lapangan Bintang Cidongkol Subang
Pendaftaran Peserta : Tanggal : 10 s/d 17 Maret 2015
Pukul : 09.00 s/d 15.00 WIB
Tempat : Ruang Bidang Yankom Diskominfo
Agenda : Pekan Seni Budaya dan Parawisata
·   Pagelaran seni / Budaya Kab. Subang 
·   Kontes Burung Berkicau
·   Kontes Domba HPDKI
·  Dll
Segment  : Pejabat / Dinas Pemerintah dan Profesi, Kelompok Informasi Masyarakat,
Pengunjung Pelaku Bisnis dan Wirausaha Daerah / Nasional, Buyer, Investor, eksportir, 
unsur pendidikan dan kelembagaan, insan pers dan multimedia, insan seni, budayawan, masyarakat 
umum.
                                         
Paitan (Tithonia tagetiflora Desf)
Pestisida cenderung digunakan karena praktis dan mudah didapat.  Padahal dari segi biaya dan efek sampingnya sering dipertanyakan.  Alternatif lain sebagai solusinya adalah tanaman Paitan
(Tithonia tagetiflora Desf) dapat dijadikan sebagai pengganti pengendali hama dan penyakit.
Ada dua cara membuat larutan paitan, yang pertama, paitan direndam dalam air sampai busuk (sekitar 2 minggu) kemudian diambil larutannya.  Perbandingan air dan paitan kira-kira 1:2.  Selanjutnya laruan paitan dicampur garam sampai terasa asin sebelum siap disemprotkan.
Kedua, paitan dijemur di panas matahari sampai kering lalu dibakar. Hasil pembakaran dilarutkan dalam 1 liter air, kemudian di tambahkan pula ¼ kg garam. Larutan dibiarkan agak lama sebelum diencerkan kembali dengan 10 liter dan sesendok kecil deterjen.  Dikocok sebentar kemudian siap untuk diaplikasikan.
Untuk aplikasi dilapangan larutan paitan disemprotkan pada daun tanaman yang terserang, bisa dengan kompresor atau sprayer.  Untuk hasil yang lebih memuaskan sebaiknya penyemprotan diulang dua kali.  Untuk tindakan pencegahan, maka penyemprotan dilakukan 15 hari sekali. Jumlah paitan yang dibutuhkan per luas lahan sangat tergantung pada tingkat serangan, disamping musim serta jenis komoditas yang juga turut menentukan.
Biaya memanfaatkan paitan jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan menggunakan pestisida sintetis yang tersedia di toko saprotan.  Jadi mengapa tidak mencoba pengendalian ala tradisional ini?  Di masa mendatang mungkin tumbuhan yang tidak bernilai ekonomis ini akan diperebutkan karena bisa juga digunakan sebagai pupuk penyubur tanaman sebagai pupuk hijau.
Biologi tumbuhan
Tanaman tahunan yang berbentuk perdu tegak, berkayu dengan tinggi antara 1 – 2 meter.  Bunga cakram berbentuk tabung dan bunga tepi berbentuk pita.  Dikenal sebagai tanaman pagar atau tanaman hias.  Manfaat sebagai insektisida dan fungisida.  Senyawa aktif mengandung sesquiterpenlakton, tagitin A, tagitin C, hispidulin dan (z) beta ocimene.
Cara kerjanya mempengaruhi reproduksi, menghambat perkembangan serangga dan jamur (cendawan) dan antifeedant (penolak makan).
Sasaran OPT selain tersebut di atas adalah Helopeltis sp, Empoasca sp, Ulat jengkal (Hyposidra talaca), Tribolium castaneum, dan Pestalotia sp. (Dari berbagai sumber)***
.
Membuat Wolkaponik
10.34 | Author: Urip SR
Salah satu contoh Wolkaponik (Foto: Urip SR)
Agenda acara pendukung pada JFSS-3 antara lain "Demo Pembuatan Wolkaponik" yang diselenggarakan pada hari kamis (12/02) bertempat di stand KRPL - BPTP Jakarta, Kementerian Pertanian.
Pertanian perkotaan identik dengan lahan yang sempit, untuk itu dibutuhkan inovasi agar lahan yang sempit tersebut dapat menjadi produktif.
Wolkaponik, merupakan gabungan teknologi antara wallgardening dan aquaponik dalam budidaya sayuran dan pemeliharaan ikan.  Dengan luasan lahan yang sama dapat diperoleh dua komoditas sekaligus, yaitu sayuran dan ikan.  Bentuknya didesain secara vertikal sehingga menghemat tempat dan dapat menghasilkan sayuran dengan jumlah yang besar.
Pada sistem wolkaponik, tanaman ditanam di dalam pot-pot sedang kemudian diletakkan dalam paralon ataupun talang yang berisi aliran air dari kolam ikan.  Dalam budidaya sayuran, sisa pakan dan kotoran ikan yang mengandung hara konsentrasi tinggi dimanfaatkan oleh tanaman yang berada diatasnya sebagai pupuk.
Sementara itu, media tanam dan tanaman yang berada diatas kolam ikan akan menyaring air.
Air yang kembali ke kolam ikan memiliki kualitas yang baik, karena bebas dari sisa pakan dan kotoran ikan, sehingga akan mendorong pertumbuhan ikan menjadi baik.
Jenis tanaman sayuran yang cocok dengan teknologi wolkaponik adalah seledri, pakchoy, bayam, sawi, kailan, kangkung, selada, dan lain-lain.
Jenis ikan yang cocok dengan teknologi wolkaponik adalah ikan lele, patin, dan nila.  Dengan teknologi wolkaponik, produk pertanian organik yang sehat dapat dihasilkan di pekarangan sendiri.
(Sumber: Brosur Demo Pembuatan Wolkaponik, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jakarta)
.
Pangan Lestari untuk Masyarakat
10.04 | Author: Urip SR
Pameran Pangan Nasional(12-14/02/15)
Jakarta (12/02).  Judul tersebut diatas merupakan sebuah tema pada acara Pameran Pangan Nasional (Jakarta Food Security Summit-3) yang diselenggarakan dari tanggal 12-14 Februari 2015 bertempat di Assembly Hall, JCC - Jakarta.  JFSS dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo pada hari kamis (12/02).
Berbagai produk pangan dan teknologi pangan dipamerkan, kegiatan selama tiga hari yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia tersebut bertujuan mendorong tingkat produktifitas pangan nasional untuk mencapai swasembada pangan.
Melalui penyelenggaraan JFSS-3 diharapkan dapat memberikan terobosan di era pemerintahan baru untuk lebih fokus memprioritaskan sektor pertanian sebagai kunci utama berkembangnya pembangunan sektor lainnya. JFSS-3 bertujuan mengkoordinasikan dan mensinkronkan upaya-upaya sinergistik para pemangku kepentingan dalam rangka mewujudkan program nyata peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing komoditas pangan strategis dengan prinsip berkelanjutan.
Merumuskan masukan dan rekomendasi kepada pemerintah serta para pihak berkenaan dengan kebijakan yang perlu ditempuh agar lebih fokus memajukan dan mengembangkan sektor pertanian sebagai pendukung berkembangnya sektor lainnya.
Acara dihadiri sekitar 1000 tamu undangan, dari luar negeri dan dalam negeri.
(USR)***
.
Hama Belalang
15.33 | Author: Urip SR
Serangan belalang pada ubikayu (Foto: C. Irwan)
Belalang yang jumlahnya sedikit tidak masalah, malah senang untuk dilihat ketika mereka terbang kesana kemari. Namun, jika jumlah belalang tersebut banyak, khususnya jenis walang pemakan daun yang umum menyerang tanaman padi membuat petani klabakan.  Di daerah saya di Lampung Tengah, pernah terjadi ledakan populasi belalang yang mengakibatkan tidak sedikit petani yang gagal panen.
Pertanyaan saya adalah: “Bagaimana cara mengantisipasi agar tidak terjadi ledakan populasi belalang?” Mohon penjelasan. Terima kasih..!!!
(Parjono, Trimurjo - Lampung Tengah)


Belalang Kembara Lampung (Foto: Cahyadi Irwan)
Jawab:
Meningkatnya serangan hama belalang secara umum dipengaruhi oleh adanya beberapa faktor, antara lain:
Pengaturan/penerapan pola tanam dan strategi budi    daya tanamn yang belum sesuai dengan rekomendasi;
Pergiliran varietas belum berjalan sebagaimana mestinya;
Terjadinya fenomena iklim yang kondusif;
Penurunan aktivitas petani dalam mengawal pertanaman yang belum sejalan dengan prinsip budi daya tanaman sehat;
Terkendalanya tanaman sehat oleh karena kelangkaan sarana produksi; dan
Belum tercapainya kesamaan persepsi dalam menerapkan prinsip dan strategi PHT.
Mengenai tanaman inangnya, bila dilihat per komoditas, hama belalang banyak menyerang tanaman padi (baik padi sawah maupun padi gogo) dan tanaman jagung. Belalang kembara cenderung memilih makanan yang disukainya, yaitu spesies tumbuhan dari family Graminae (padi, jagung, sorgum, tebu, gelaga, alang-alang, dan rerumputan).    Disamping tumbuhan dari familiGraminae, belalang ini juga sering menyerang daun kelapa, bambu, kacang tanah, petsai, sawi, dan kubis daun.Sedangkan tanaman kacang hijau, kedelai, kacang panjang, ubi kayu, tomat, ubi jalar, dan kapas tidak disukai oleh belalang.
Jika populasi belalang dilapangan masih tinggi dan keadaan curah hujan sangat rendah, hama belalang tetap berpotensi menyerang pertanaman terutama padi dan jagung yang masih ada di sekitar kelompok belalang dan daerah lain yang masih dalam jangkauan migrasinya. Oleh karena itu, perlu segera melakukkan usaha-usaha pengendalian untuk menurunkan ledakan populasi belalang secara cepat dan tuntas untuk mengamankan pertanaman yang masih ada dilapangan. Usaha-usaha pengendalian belalang antara lain sebagai berikut:Pelatihan, bimbingan, dan koordinasi sebagai bekal operasional: Petugas (POPT-PHP) dan petani/kelompok tani perlu diberi bekal melalui pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis serta organisasinya.     Dengan demikian, mereka mampu memantau perkembangan populasi belalang  sekaligus dapat mengantisipasi pengendaliannya. Selain itu, mereka harus melakukan koordinasi dengan semua Dinas, Instansi terkait (kehutanan, perkebunan dan perusahaan perkebunan), dan masyarakat pada umumnya.  Pengamatan dan pelaporan: Pengamatan bertujuan untuk memantau/memonitor terjadinya penerbangan belalang dewasa, tempat dan konsentrasi belalang dewasa hinggap, terjadinya penetasan telur dan ditemukannya nimpha. Dengan pengamatan tersebut, maka dengan mudah dapat dilakukan pengendalian. Tindakan pengendalian yang telah dilakukan ini kemudian dilaporkan kepada aparat yang lebih tinggi dan berwenang.
Pengendalian secara fisik dan mekanik: pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan menggunakan lampu/obor pada malam hari untuk menangkap dan mengumpulkan belalang dewasa untuk dimusnahkan. Sedangkan pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan memasang perangkap dari jarring ikan atau sapu lidi.
Pengendalian secara kimiawi: Belalang instar 1-3 dan dewasa 4-5 menggunakan hand sprayer, mist blower, dan swing fog. Untuk instar 4-5 menggunakan jarring dan pengusiran dengan menggunakan asap belerang.
Jangka panjang: Beberapa program kegiatan dan strategi jangka panjang yang dapat diterapkan adalah identifikasi terjadinya eksplosi dan studi lapangan, pemantauan berkelanjutan dan pengendalian, dan mengurangi areal padang alang-alang.
(Sumber : Majalah Peramalan OPT Vol.13/2/Nop/2014)***
.