Liputan6.com, Jakarta - Komisi I DPR memanggil RRI karena turut melakukan hitung cepat (quick count) pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu. Hasil hitung cepat RRI mencatat pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan 52,49% suara. Sementara Prabowo-Hatta mendapatkan 47,51% suara.
Panggilan DPR ini dinilai lumrah namun RRI diharapkan tak sampai terintervensi. Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola mengatakan, DPR boleh saja memanggil RRI. Tetapi RRI diminta hanya memberitahukan metodologi hitung cepatnya saja. Dan menolak semua permintaan di luar itu.
"RRI itu kan lembaga publik, kalau diminta Komisi I soal isi, substansi, tolak. Kalau soal dana oke-oke saja. Substansi wilayah kita (akademisi), tidak ada kompromi akan hal itu," ungkap Tamrin di UI Salemba, Jakarta, Selasa (15/7/2014).
Selain itu, Dosen Kebijakan Publik dari Universitas Gadjah Mada Muhadjir Darwin mengatakan, saat ini ilmu statistik untuk hitung cepat sedang dipertaruhkan. Kredibilitas lembaga survei yang saat pilpres lalu mengeluarkan hasil hitung cepat berbeda kini tengah di ujung tanduk.
"‎Kami sedang membela ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan sedang dinodai dengan adanya quick count yang berbeda. Karena kalau menggunakan sampel secara random seharusnya hasilnya tetap sama," imbuhnya.
Muhadjir menambahkan hitung cepat berguna untuk mengetahui lebih dulu siapa yang akan menang dalam Pilpres. Selain itu, hitung cepat juga dapat digunakan untuk menjaga objektivitas KPU.
"Ini bisa menjadi penjaga objektivitas KPU kalau dilakukan secara benar. Tapi kalau tidak dilakukan dengan benar maka membuat maka fungsi kontrol hilang. Sehingga membuat kepercayaan kepada statistik dapat hilang," tandas Muhadjir.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, Komisi I DPR berencana memanggil jajaran direksi RRI setelah hasil hitung cepat lembaga itu disiarkan oleh media massa. Menurut Mahfud, RRI bukanlah lembaga survei resmi yang dapat melakukan hitung cepat dan harus dapat menjaga netralitas sebagai lembaga penyiaran publik.
(Nadya Isnaeni )***
Liputan6.com, Jakarta - Komisi I DPR memanggil RRI karena turut melakukan hitung cepat (quick count) pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu. Hasil hitung cepat RRI mencatat pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan 52,49% suara. Sementara Prabowo-Hatta mendapatkan 47,51% suara.

Panggilan DPR ini dinilai lumrah namun RRI diharapkan tak sampai terintervensi. Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola mengatakan, DPR boleh saja memanggil RRI. Tetapi RRI diminta hanya memberitahukan metodologi hitung cepatnya saja. Dan menolak semua permintaan di luar itu.

"RRI itu kan lembaga publik, kalau diminta Komisi I soal isi, substansi, tolak. Kalau soal dana oke-oke saja. Substansi wilayah kita (akademisi), tidak ada kompromi akan hal itu," ungkap Tamrin di UI Salemba, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Selain itu, Dosen Kebijakan Publik dari Universitas Gadjah Mada Muhadjir Darwin mengatakan, saat ini ilmu statistik untuk hitung cepat sedang dipertaruhkan. Kredibilitas lembaga survei yang saat pilpres lalu mengeluarkan hasil hitung cepat berbeda kini tengah di ujung tanduk.

"‎Kami sedang membela ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan sedang dinodai dengan adanya quick count yang berbeda. Karena kalau menggunakan sampel secara random seharusnya hasilnya tetap sama," imbuhnya.

Muhadjir menambahkan hitung cepat berguna untuk mengetahui lebih dulu siapa yang akan menang dalam Pilpres. Selain itu, hitung cepat juga dapat digunakan untuk menjaga objektivitas KPU.

"Ini bisa menjadi penjaga objektivitas KPU kalau dilakukan secara benar. Tapi kalau tidak dilakukan dengan benar maka membuat maka fungsi kontrol hilang. Sehingga membuat kepercayaan kepada statistik dapat hilang," tandas Muhadjir.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, Komisi I DPR berencana memanggil jajaran direksi RRI setelah hasil hitung cepat lembaga itu disiarkan oleh media massa. Menurut Mahfud, RRI bukanlah lembaga survei resmi yang dapat melakukan hitung cepat dan harus dapat menjaga netralitas sebagai lembaga penyiaran publik.
(Nadya Isnaeni )
- See more at: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2078191/rri-diminta-tak-buka-substansi-quick-count-ke-dpr#sthash.V5AKWOUo.dpuf
Saudara Prabowo dan Hatta,
Tanah air kita membutuhkan anda berdua. Dalam posisi apapun, dalam menang atau dalam kalah.
Kemenangan politik penting, tapi kehidupan bangsa yang saling mempercayai jauh lebih penting.
Kemenangan politik bersifat sementara, tapi cita-cita untuk kebaikan Indonesia akan terus menggerakkan hidup anak cucu kita.
Kemenangan politik selalu untuk "aku" atau "dia", tapi Indonesia untuk "kita".
Saudara Joko Widodo menyebut anda berdua "patriot dan negarawan". Berjuta-juta rakyat Indonesia berharap demikian.
Mari kita hormati hasil pilihan rakyat 2014.
Goenawan Mohamad.

(Sumber: https://www.facebook.com/notes/kenapa-jokowi/sepucuk-surat-terbuka-oleh-goenawan-mohamad-
Tentang Politik yang Baik
11.11 | Author: Urip SR
Oleh: Goenawan Mohamad
Sumber: https://www.facebook.com/KenapaJokowi?

Di sebuah rumah di Jalan Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta, ada sebuah papan dengan deretan tulisan, "REVOLUSI. ORANG BAIK MASUK POLITIK." Saya tertegun sejenak. Huruf-huruf "EVOL" dalam kata "REVOLUSI" itu ditulis dengan warna lain hingga bisa dibaca terbalik: "LOVE". Kalimat berikutnya seakan menegaskan sesuatu yang mengejutkan, yang baru: menghubungkan "politik" dengan "yang baik".

Sungguh, saya tertegun. Mungkin banyak orang akan begitu pula. Kalimat itu terasa mengemukakan sesuatu yang tak lazim, sebab kini betapa jauh sudah jarak antara "politik" dan "kebaikan". Sudah bertahun-tahun politik tumbuh sama dan sebangun dengan "yang tidak baik". Dengan nafsu berkuasa. Dengan ikhtiar habis-habisan untuk menang. Dengan segala jalan yang dihalalkan untuk mencapai itu -- dengan akhir yang tak kalah buruknya: ketika kekuasaan dicapai, orang yang menang, yang duduk di atas tahta, hanya merayakan diri sendiri.

Mungkinkah orang yang "baik" masuk ke arena yang busuk itu? Mungkinkah ia tak akan tercemar?

Dalam perjalanan pulang dari rumah itu, saya mencoba menjawab: Tidak mudah. Ada ucapan seorang pemikir religius yang selalu saya ingat: "Politik adalah sebuah tugas sedih, tugas menegakkan keadilan di duna yang berdosa".

Tugas sedih. Tugas tak mudah. Tapi bukan tak mungkin. Dalam sejarah, juga sejarah Republik kita, tak sedikit orang yang masuk ke kancah politik dengan niat yang teguh untuk bekerja bagi kebaikan negeri mereka dan bangsa mereka. Tanpa disadari, mereka berpegang pada arti "politik" berdasarkan akar katanya, "polis", yang berarti "kota", "negeri", tempat manusia hidup bersama sebagai manusia.

Hidup bersama sebagai manusia berarti hidup bukan untuk diri sendiri.

Dari sana tampak, politik sebenarnya sebuah arena yang tepat buat orang-orang baik.

Tapi apa gerangan yang disebut "orang baik"?

Orang baik" adalah orang yang merasakan ada yang salah dalam masyarakatnya bila masih ada mereka yang menderita: kelaparan, ketakutan, kesakitan, mungkin putus asa. Tapi "orang baik" bukanlah orang yang bebas penuh dari dosa. "Orang baik" adalah orang yang sadar: dalam bekerja ia (seperti siapa saja) bisa tergelincir ke dalam egoisme -- dan sebab itu ia berusaha benar untuk tidak.

Dan bersama dengan itu, seorang yang "baik" menyadari bahwa ia tak sendirian.

Ia membuka diri untuk dibantu, untuk diingatkan bila salah, untuk mendengar bila ia tak tahu. Ia bekerja keras dengan rendah hati. Ia tidak sibuk dengan "aku tahu, aku perkasa, aku penyelamat bangsa".

Hari-hari ini tenyata kita bisa berhimpun -- berjuta-juta, dari tempat yang berbeda-beda -- untuk menjadi "orang baik" seperti itu. Kita sudah kenyang dengan politik yang kotor. Kita sudah muak dengan poiitisi yang tak pernah menoleh, apalagi menyentuh tanah dan merasakan nasib orang lain yang di bawah. Kita berhimpun; kita ingin perubahan.

Itu sebabnya kita memilih Jokowi. Jangan salah: ia bukan tauladan kesempurnaan.

Ia seseorang yang tak bisa berpidato berapi-api di podium tetapi selalu siap mendekat kepada orang-orang yang harus dilayaninya: rakyat. Ia tak hidup berjarak dari orang banyak. Ia tak tinggal di rumah mewah di puncak bukit. Ia tak biasa dibesarkan dalam keluarga yang gemerlapan. Ya, ia seperti kebanyakan orang Indonesia: bukan tokoh yang gagah perkasa, tapi seorang saudara yang dengan hati ringan akan bekerja membantu kita, bersama kita.

KIta membutuhkan pemimpin seperti itu. Bukan orang besar.

Ada sebuah kalimat yang arif yang lahir dari sejarah Tiongkok yang panjang: "Malanglah sebuah bangsa yang dipimpin oranng besar". Sebab, sebagaimana dialami sejarah Tiongkok dengan pahit, "orang besar" hanya terbiasa dengan ide-ide besar, rencana-rencana besar, dan membutuhkan ruang kekuasaan yang besar -- dan dengan segera mengabaikan nasib mereka yang kecil, yang sehari-hari..

Pemimpin yang kita harapkan adalah pemimpin yang menganggap hidup sehari-hari sangat berarti justru untuk mencapai cita-cita yang tinggi. Dengan kata lain, pemimpin yang menunjukkan bahwa orang biasa-biasa saja bisa hidup dalam politik -- dan tetap menjaga diri jadi "orang baik".

Rasanya tulisan di papan di depan rumah di Jalan Ciasem itu bukan tentang "revolusi" yang mustahil. Saya melihat di dalamnya: para relawan yang bekerja bersama Anies Baswedan, siang malam, yang seperti beribu-ribu relawan lain, bekerja untuk perubahan.

Politik lama harus pergi. Politik baru harus lahir.
(Sumber:  https://www.facebook.com/notes/kenapa-jokowi/tentang-politik-dan-yang-baik-oleh-goenawan-mohamad/317962275035171)
Pernyataan Jokowi
15.24 | Author: Urip SR

Foto : Suara.com/Adrian Mahakam
Saya Jokowi, bagian dari Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan,
Semua orang boleh ragu dengan agama saya, tapi saya tidak ragu dengan iman dan imam saya dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agama saya.
Saya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam. Dia pun menyatakan bukan bagian dari yang mengaku Islam, tetapi suka menebar teror dan kebencian.
Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri.
Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang di tangan dan di mulut. Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustun-nya. Saya juga bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam.
Saya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban; juga bukan bagian dari Islam yang membawa ayat-ayat Tuhan untuk menipu rakyat.
(Sumber:  Http://opajappy.com)***

Gara2 Jokowi
09.57 | Author: Urip SR
Karena Jokowi jujur, merakyat, sederhana dan tidak mementingkan kepentingan dirinya sendiri atau golongan, bekerja untuk rakyatnya,disiplin,sabar,tegas tapi lembut,tegas tidak dengan kekerasan,bersih, dan yang utama Jokowi tidak haus kekuasaan ia dicalonkan partainya atas permintaan rakyat banyak,....rakyatlah yang memilih beliau......itulah "Kenapa Jokowi"
Pandai adalah belajar dari pengalaman diri sendiri. Bijak adalah belajar dari pengalaman orang lain. Semoga kita bisa menjadi pemilih yang bijak karena pemilih yang bijak adalah memilih sosok  yang berguna bagi sebanyak-banyaknya manusia, dan lingkungan kehidupan. Sudahkah anda menentukan pilihan?
. (Bersambung)***
10 Alasan Kenapa Pilih Jokowi
09.42 | Author: Urip SR
Oleh: 
Abdillah Toha
Pendiri dan mantan ketua Partai Amanat Nasional(PAN)

Jokowi adalah Kita (Foto: Google)
Sebagai salah seorang pendiri Partai AmanatNasional (PAN), bersama beberapa pendiri lain serta beberapa anggota dan exanggota PAN, saya memutuskan akan memilih calon presiden yang tidak didukungPAN pada pemilihan presiden mendatang. Paling sedikit ada 10 alasan kelebihan Jokowiyang mendasari keputusan saya tersebut.

Pertama, Jokowi tidaktercela. Jelas dia bukan manusia sempurna, tetapi setidaknya dia tidak punyabeban masa lalu yang berpotensi mengganggu tugasnya sebagai presiden. Sejauhini dia telah terbukti jujur dan bersih, serta tulus, dan terbuka. Ditanganorang bersih seperti inilah kita seharusnya lebih memercayakan programpemberantasan korupsi yang telah menggerogoti negeri ini selama berpuluh tahun.

Kedua, Jokowi berprestasi.Tidak diragukan lagi bahwa Jokowi telah menunjukkan prestasi kerja masa lalu (track record) yang meyakinkan. Sebagaiwali kota Solo, dia adalah salah satu kepala daerah terbaik di negeri ini,bahkan mungkin di dunia. Kepentingan rakyat didahulukan sehingga ketikaterpilih kembali sebagai wali kota untuk periode kedua, dia mendapatkandukungan tidak kurang dari 90% pemilih. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, walaubelum sampai 2 tahun, dia telah menununjukkan hasil kerja yang bagus denganmerancang dan sekaligus mengimplementasikan beberapa program  pro rakyat dengan cepat dan tanpa ragu (kartusehat, kartu pintar, BPMKS di Solo, MRT dsb).

Ketiga, Jokowi bukanpengurus partai. Walau dia anggota partai dan dicalonkan oleh partai, dia bukanpengurus partai< apalagi ketua umumnya. Sebagai presiden RI dia tidak akandisibukkan dengan rapat-rapat dan persoalan partai sehingga perhatiannya tidakakan terbelah dan dapat memusatkan pikirannya kepada kerja negara. Permintaanketua umum PDIP kepadanya untuk menjadi “petugas partai” harus diartikansebagai imbauan untuk menjalankan ideologi partai.

Keempat, Jokowi pengambilkeputusan. Gayanya yang lemah lembut mengelabui kita seakan dia seorangpemimpin yang tidak tegas. Ketegasan dalam mengambil keputusan telah seringdibuktikannya dalam possinya sebagai wali kota Solo (menolak usul pembangunanmal oleh gubernur Jawa Tengah saat itu), memberhentikan pejabat tinggi DKI yangtidak berprestasi (walikota Jakarta Selatan) dan banyak lagi. Ketegasanseseorang tidak dicerminkan oleh cara bicaranya yang keras dan meledak-ledak. 

Kelima, Jokowi pluralis.Sangatlah berbahaya bila di negeri yang sangat majemuk seperti Indonesia, kitadipimpin oleh seorang presiden yang berwatak ekslusif. Jokowi seorang Muslimyang taat dan telah menunaikan ibadah haji serta empat kali umroh dengan biayasendiri, tetapi juga sangat toleran terhadap mereka yang beragama danberkeyakinan lain. Dia telah membuktikan sebagai pemimpin pluralis yang membeladan melindungi hak minoritas (kasus lurah Susan), dan berkomitmen menjagakebinekaan bangsa demi keutuhan NKRI. Jokowi tidak punya program “pemurnianagama” dalam visi misinya yang berbahaya bagi persatuan bangsa.

Keenam, Jokowi bukanpedagang politik. Walaupun dia berlatar belakang seorang  pengusaha, tapi urusan kursi pemerintahantidak diperdagangkannya. Sejak awal dia telah mengatakan bahwa prinsipkoalisinya non-transaksional. Artinya, dia tidak akan membagi-bagikan posisikabinet hanya atas dasar garis partai tetapi mencari dan menempatkan the right man in the rght place. Inisudah dibuktikannya ketika dia menjabat sebagai gubernur DKI dengan melelangberbagai jabatan penting di DKI.

Ketujuh, Jokowi penyelesaikonflik. Hal ini telah dibuktikannya berkali-kali baik di Solo maupun di DKIseperti dengan menyelesaikan masalah PKL di Solo serta masalah Tanah Abang danrumah-rumah liar di DKI. Konflik kraton Surakarta yang gagal diselesaikan olehpemerintah pusat, berhasil diselesaikannya dalam waktu beberapa bulan. Keunggulannyaterletak pada cara penyelesaian yang damai tanpa menimbulkan kerusuhan dankeresahan, karena rakyat kecil “korban” penyelesaian tidak diabaikan begitusaja tetapi ditampung atas tanggungan pemerintah. Kemampuannya di bidang iniakan dilipat gandakan dengan bantuan cawapres Jusuf Kalla yang berprestasi besarmenyelesaikan masalah Aceh dan Poso.

Kedelapan, Jokowi reformis.Sangatlah menonjol ketika belum sampai 2 tahun menjabat gubernur DKI dia telahberhasil membobol kebiasaan-kebiasaan lama birokrasi yang cenderung koruptifdan tidak efisien. Membuat KTP di DKI sekarang hanya memerlukan waktu sehari,bukan sebulan seperti sebelumnya. Sebagai wira usahawan, cara berpikirnya segardengan selalu mencari terobosan dan pemikiran out of the box. Bertahap tapi konsisten, rasionalisasi pegawai negeriDKI terus dilaksanakan dan disiplin ditingkatkan. Dia juga memberi suritauladan dengan menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras. Jokowi seorangdemokrat tulen yang tidak percaya kepada keuatan uang untuk memenangkanpemilihan.

Kesembilan, Jokowi sederhanadan hemat. Kesederhanaan dan wajah kerakyatan Jokowi tak terbantahkan dan kasatmata. Beberapa anggaran DKI yang mubazir dipotongnya sedangkan penerimaan APBDDKI melonjak drastis berkat tarnsparansi pengelolaan pajak.  Dia bukan orang yang gila hormat, lebih sukabersepeda dan jalan kaki dan menolak selalu dikawal dengan vorijder. Tidak pandaiberbicara tetapi santun. Bukan pendendam dan tidak pernah melayani berbagaikampanye hitam terhadapnya. . Menolak menerima gaji sebagai walikota Solo dan GubernurDKI karena sudah merasa cukup dari penghasilannya sendiri sebagai pengusaha.

Kesepuluh, Jokowi kepalakeluarga sakinah. Memimpin negara atau institusi apapun harus dimulai dengankemampuan memimpin keluarga. Keluarga Jokowi dikenal sebagai keluarga yangbahagia. Istrinya,  Iriana, seorangwanita yang sederhana dan tidak banyak menuntut serta lebih senang mengurusiurusan rumah tangga daripada ikut campur dalam urusan politik suami. Ketigaanaknya adalah anak-anak idaman setiap orang tua. Berpendidikan cukup dan yangsulung seorang pengusaha catering yang tidak mau menggantungkan sumberpermodalannya dari orang tuanya.
(Sumber :  https://www.facebook.com/KenapaJokowi?ref=stream)***
.

Liputan6.com, Jakarta - Dukungan pada pasangan Jokowi-JK terus mengalir. Salah satu yang mengejutkan adalah dukungan terbuka Muhammad Harris Indra, salah satu pendiri Partai Gerindra sekaligus mantan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bidang Pertahanan.
Harris masih terbilang muda. Pria ini kelahiran Jakarta, 22 Maret 1985. Harris yang saat ini tinggal di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara, adalah lulusan Universitas Prof Moestopo Beragama. Mengapa dia mendukung Jokowi, berikut alasannya yang dia tulis sendiri:
Kenapa harus Jokowi? Sederhana menjawabnya. Dia sudah berbuat hal kecil ketika orang lain masih bermimpi besar. You can't beat something with nothing. Sekecil apapun yang dibuat, betapapun kurangnya, akan selalu lebih baik dari yang tidak melakukan apa-apa.
Jokowi adalah jawaban dari doa kita setiap hari tentang 'pemimpin'. Dia jujur, sederhana dan simpatik. Saya kira tidak banyak orang yang merasa cemas jika berdekatan dengannya.
Kebanyakan dari kita kecewa dengan pemerintahan hari ini. Presiden SBY dianggap lamban dan lemah, walau saya memahami kehati-hatian presiden merupakan hal mutlak dalam mengelola bangsa Indonesia yang majemuk ini.
Oleh sebab itu, sulit membayangkan kita memilih Presiden berikutnya yang grusa-grusu. Berpikir setelah berbicara dan bermimpi ketika orang lain sudah terjaga dan bekerja.
Jokowi adalah masa depan, dia tidak melihat bayangan hebat pemimpin masa lalu untuk mendongkrak dirinya. Dia menjadi dirinya sendiri di hadapan rakyat Indonesia. Saya kira itu yang menyebabkan dia menarik. Dia menjadi dirinya sendiri ketika orang lain meniru tokoh besar bangsanya.
Kewajiban kita untuk mengawal dan memastikan terpilihnya pemimpin rakyat. Dia lahir dari tengah rakyat, obyek besar yang justru selama ini dipinggirkan. Saya melihat dia ingin memperkuat peran rakyat di tengah kuatnya peran negara. Suatu hal yang sulit terjadi dengan koalisi besar yang berisi politisi-politisi pemerintah hari ini.
Kesederhanaan Jokowi memikat nurani. Dia tidak perlu iklan bertahun-tahun lamanya untuk membuat kita memilihnya. Kita hanya perlu sepersekian detik dan tidak berhari-hari untuk memutuskan dia terbaik.
Rekam jejaknya terang, tidak gelap dan kontroversial. Periode pertama Solo sampai dengan periode kedua, Jokowi mendapatkan 36 dan 90 persen pemilih. Ukuran sederhana mana lagi yang dapat kita bandingkan dalam menilai kepuasan masyarakat kecuali hal di atas?
Demikian dengan Jusuf Kalla. Siapa yang dapat membantah tentang perannya dalam perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon? Berpadunya integritas dan kapabilitas keduanya saya kira cukup untuk menilai bahwa mereka layak menjadi pemimpin Republik yang sama sama kita cintai.
(Sumber: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2063916/mengapa-pendiri-gerindra-ini-mendukung-jokowi-jk)

Liputan6.com, Jakarta - Dukungan pada pasangan Jokowi-JK terus mengalir. Salah satu yang mengejutkan adalah dukungan terbuka Muhammad Harris Indra, salah satu pendiri Partai Gerindra sekaligus mantan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bidang Pertahanan.

Harris masih terbilang muda. Pria ini kelahiran Jakarta, 22 Maret 1985. Harris yang saat ini tinggal di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara, adalah lulusan Universitas Prof Moestopo Beragama. Mengapa dia mendukung Jokowi, berikut alasannya yang dia tulis sendiri:

Kenapa harus Jokowi? Sederhana menjawabnya. Dia sudah berbuat hal kecil ketika orang lain masih bermimpi besar. You can't beat something with nothing. Sekecil apapun yang dibuat, betapapun kurangnya, akan selalu lebih baik dari yang tidak melakukan apa-apa.

Jokowi adalah jawaban dari doa kita setiap hari tentang 'pemimpin'. Dia jujur, sederhana dan simpatik. Saya kira tidak banyak orang yang merasa cemas jika berdekatan dengannya.

Kebanyakan dari kita kecewa dengan pemerintahan hari ini. Presiden SBY dianggap lamban dan lemah, walau saya memahami kehati-hatian presiden merupakan hal mutlak dalam mengelola bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Oleh sebab itu, sulit membayangkan kita memilih Presiden berikutnya yang grusa-grusu. Berpikir setelah berbicara dan bermimpi ketika orang lain sudah terjaga dan bekerja.

Jokowi adalah masa depan, dia tidak melihat bayangan hebat pemimpin masa lalu untuk mendongkrak dirinya. Dia menjadi dirinya sendiri di hadapan rakyat Indonesia. Saya kira itu yang menyebabkan dia menarik. Dia menjadi dirinya sendiri ketika orang lain meniru tokoh besar bangsanya.

Kewajiban kita untuk mengawal dan memastikan terpilihnya pemimpin rakyat. Dia lahir dari tengah rakyat, obyek besar yang justru selama ini dipinggirkan. Saya melihat dia ingin memperkuat peran rakyat di tengah kuatnya peran negara. Suatu hal yang sulit terjadi dengan koalisi besar yang berisi politisi-politisi pemerintah hari ini.

Kesederhanaan Jokowi memikat nurani. Dia tidak perlu iklan bertahun-tahun lamanya untuk membuat kita memilihnya. Kita hanya perlu sepersekian detik dan tidak berhari-hari untuk memutuskan dia terbaik.

Rekam jejaknya terang, tidak gelap dan kontroversial. Periode pertama Solo sampai dengan periode kedua, Jokowi mendapatkan 36 dan 90 persen pemilih. Ukuran sederhana mana lagi yang dapat kita bandingkan dalam menilai kepuasan masyarakat kecuali hal di atas?

Demikian dengan Jusuf Kalla. Siapa yang dapat membantah tentang perannya dalam perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon? Berpadunya integritas dan kapabilitas keduanya saya kira cukup untuk menilai bahwa mereka layak menjadi pemimpin Republik yang sama sama kita cintai. - See more at: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2063916/mengapa-pendiri-gerindra-ini-mendukung-jokowi-jk#sthash.jMmLeWHY.dKE8cDJV.dpuf
Liputan6.com, Jakarta - Dukungan pada pasangan Jokowi-JK terus mengalir. Salah satu yang mengejutkan adalah dukungan terbuka Muhammad Harris Indra, salah satu pendiri Partai Gerindra sekaligus mantan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bidang Pertahanan.

Harris masih terbilang muda. Pria ini kelahiran Jakarta, 22 Maret 1985. Harris yang saat ini tinggal di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara, adalah lulusan Universitas Prof Moestopo Beragama. Mengapa dia mendukung Jokowi, berikut alasannya yang dia tulis sendiri:

Kenapa harus Jokowi? Sederhana menjawabnya. Dia sudah berbuat hal kecil ketika orang lain masih bermimpi besar. You can't beat something with nothing. Sekecil apapun yang dibuat, betapapun kurangnya, akan selalu lebih baik dari yang tidak melakukan apa-apa.

Jokowi adalah jawaban dari doa kita setiap hari tentang 'pemimpin'. Dia jujur, sederhana dan simpatik. Saya kira tidak banyak orang yang merasa cemas jika berdekatan dengannya.

Kebanyakan dari kita kecewa dengan pemerintahan hari ini. Presiden SBY dianggap lamban dan lemah, walau saya memahami kehati-hatian presiden merupakan hal mutlak dalam mengelola bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Oleh sebab itu, sulit membayangkan kita memilih Presiden berikutnya yang grusa-grusu. Berpikir setelah berbicara dan bermimpi ketika orang lain sudah terjaga dan bekerja.

Jokowi adalah masa depan, dia tidak melihat bayangan hebat pemimpin masa lalu untuk mendongkrak dirinya. Dia menjadi dirinya sendiri di hadapan rakyat Indonesia. Saya kira itu yang menyebabkan dia menarik. Dia menjadi dirinya sendiri ketika orang lain meniru tokoh besar bangsanya.

Kewajiban kita untuk mengawal dan memastikan terpilihnya pemimpin rakyat. Dia lahir dari tengah rakyat, obyek besar yang justru selama ini dipinggirkan. Saya melihat dia ingin memperkuat peran rakyat di tengah kuatnya peran negara. Suatu hal yang sulit terjadi dengan koalisi besar yang berisi politisi-politisi pemerintah hari ini.

Kesederhanaan Jokowi memikat nurani. Dia tidak perlu iklan bertahun-tahun lamanya untuk membuat kita memilihnya. Kita hanya perlu sepersekian detik dan tidak berhari-hari untuk memutuskan dia terbaik.

Rekam jejaknya terang, tidak gelap dan kontroversial. Periode pertama Solo sampai dengan periode kedua, Jokowi mendapatkan 36 dan 90 persen pemilih. Ukuran sederhana mana lagi yang dapat kita bandingkan dalam menilai kepuasan masyarakat kecuali hal di atas?

Demikian dengan Jusuf Kalla. Siapa yang dapat membantah tentang perannya dalam perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon? Berpadunya integritas dan kapabilitas keduanya saya kira cukup untuk menilai bahwa mereka layak menjadi pemimpin Republik yang sama sama kita cintai. - See more at: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2063916/mengapa-pendiri-gerindra-ini-mendukung-jokowi-jk#sthash.jMmLeWHY.dKE8cDJV.dpuf