Sumber OPT di Internet
14.47 | Author: Urip SR
Info OPT dari pestnet
Mencari informasi OPT – siklus hidup dan ciri untuk identifikasi OPT – yang telah ada di suatu negara akan lebih mudah karena telah ada ahli lokal atau dari luar negeri (entomologis, fitopatologis, ahli karantina, serta ahli kesehatan tanaman) tentang OPT tersebut.  Informasi tentang OPT eksotik dapat diperoleh dari Negara dimana OPT tersebut ada.  Hal ini dapat dilakukan dengan menghubungi departemen pertanian Negara yang bersangkutan (termasuk NPPO) dan mencari publikasi atau mencari informasi melalui internet.  Saat ini telah tersedia berbagai daftar dan database yang dapat diakses untuk memperoleh deskripsi berbagai macam OPT, misalnya CABI Crop Protection Compendium (Kompendium Perlindungan Tanaman CABI).  Dibawah berikut alamat yang bisa diakses;

PestNet (Jaring OPT)
Alamat : www.pestnet.org

PestNet menyediakan jejaring surat elektronik sama dengan ISSG tetapi lebih menekankan pada OPT pertanian.  Tujuan utamanya adalah untuk membantu petugas perlindungan tanaman di Asia Tenggara dan Pasifik.  Topik yang sering didiskusikan adalah identifikasi OPT, permintaan specimen, dan metode pengendalian OPT.
PestNet juga mempunyai situs jejaring yang memuat informasi tentang bagaimana bergabung dalam surat elektronik listserver.b  Ikuti petunjuk pada situs ‘Join PestNet’ pada alamat .  Situs ini juga mempunyai galeri foto berbagai macam OPT.

CAB International (CABI)
Alamat : www.cabi.org

CABI bertujuan untuk menghasilkan, mendeseminasi, dan mendorong penggunaan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu biologi terapan, termasuk didalamnya kesejahteraan umat manusia dan lingkungan.  CABI telah mempublikasikan berbagai buku dan bahan referensi lain yang dapat diakses secara elektronik pada .  CABI mempublikasikan secara komprehensif kumpulan abstrak dari berbagai publikasi ilmiah.  Publikasi tersebut tersedia untuk berlangganan baik melalui CD atau  secara elektronik.

CABI Crop Protection Compedium (Kompedium Perlindungan Tanaman CABI)
Alamat : www.cabicompedium.org/cpc


Kompedium ini memuat fakta tentang berbagai macam OPT.  Pengguna compendium baik CD maupun online harus member ijin penggunaan (lisensi) sebelum program (software) dimasukkan (installed) dalam computer.  Apabila anda menginginkan informasi lebih lanjut atau ingin mencoba secara gratis dapat menghubungi pada alamat .

American Phytopathological Society (APS, Perhimpunan Fitopatologi Amerika)
Alamat : www.apsnet.org

APSNet berisi hasil diskusi tentang pathogen tumbuhan melalui surat berita (newsletters), dan koleksi gambar yang terbatas.  Disamping itu, database tentang daftar OPT pada berbagai macam tanaman dan komoditas juga ada (lihat ‘Common names of plant diseases’ di bawah ‘Online sources’ dan ketik sebuah nama tanaman inang atau OPT).  Perhimpunan juga memproduksi empat jurnal yaitu Phythopathology, Plant disease, Molecular Plant-Microbe Interactions, dan Plant Health Progress.

Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS, Pelayanan Inspeksi Kesehatan Tanaman dan Hewan), USDA (Departemen Pertanian Amerika Serikat)
Alamat : www.aphis.usda.gov/ppq/index.html

Jejaring ini terhubungkan dengan standar North American Plant Protection Organization, (NAPPO, Organisasi Perlindungan Tanaman Amerika Utara) juga dengan International Standards for Phythosanitary Measures (Standar Internasional untuk tindakan Fitosanitasi).  Situs tersebut mempunyai beberapa manual untuk spesies OPT invertebrate, dengan informasi penting tentang identifikasi, metode survey dan pengendalian OPT.  Penentuan besaran resiko berbagai OPT untuk komoditas yang akan diimpor ke Amerika Serikat juga tersedia, dan informasi tersebut langsung dapat digunakan untuk memperoleh data kisaran tanaman inang dan metode survey serta informasi yang bermanfaat lainnya.  APHIS juga mempunyai jejaring lain yang sangat bermanfaat, yaitu : yang terhubungkan dengan jejaring lain yang memuat berbagai macam informasi database; misalnya database yang terdaftar dalam kotak ini ada di HEAR dan ISSG, database artikel jurnal, dan beberapa yang terkait dengan serangga air.

Hawaiian Ecosystem At Risk (HEAR, Ekosistem Hawaii Berisiko)
Alamat : www.hear.org


Proyek HEAR bertujuan untuk memberikan informasi dan sumber daya untuk membantu dalam manajemen spesies eksotik invasive di Hawaii dan Pacifik.
Jejaring ini dihubungkan dengan kompedium global tentang gulma dengan alamat .  Kompedium ini mempunyai data tanpa gambar.  Data yang ada menunjukkan betapa sedikitnya informasi yang telah dikumpulkan sampai saat ini.  Data yang dimuat termasuk nama alternative, status OPT, asal-usul, lingkungan ekstrim yang dapat ditoleransi, dan apakah tumbuhan tersebut dibudidayakan atau tidak.

Invasive Species Specialist Group (ISSG, Grup Spesialis Spesies Invasif)
Alamat : www.issg.org

Situs ini mempunyai dua produk penting: daftar spesialis dan database spesies invasive global.
ALIEN-L adalah server untuk surat elektronik (e-mail) dari Komisi Kelestarian Spesies Perserikatan Konservasi Dunia ISSG (ISSG of the world Conservation Union (UICN) Species Survival Commission) yang dikelola oleh SPC.  Ini merupakan forum diskusi tentang semua jenis spesies invasive dengan topic yang sangat luas.  Forum ini juga menjadi media yang mudah untuk dapat menanyakan berbagai hal pada kelompok ahli.
Untuk bergabung dengan kelompok tersebut kirimkan surat elektronik ke   dengan mengisi kata ’join’ pada kotak subjek surat.
Database Spesies Invasif Global (Global Invasive Species Database) memuat informasi tentang spesies tumbuhan dan hewan yang mengancam diversitas.
Database dapat ditemukan pada www.issg.org/database/welcome.

Semoga bermanfaat...

Sumber:
Pedoman surveilensi OPT di Asia dan Pasifik
Australian Centre for International Agricultural Research

.
Kumbang Tomcat Sahabat Lama Petani
16.28 | Author: Urip SR
Jakarta - Kumbang tomcat sebenarnya telah lama menjadi sahabat petani dalam menjaga sawah dari serangan hama. Namun karena beberapa faktor, serangga ini malah betah bercokol di rumah-rumah penduduk.

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian, Sarsito Wahono Gaib Subroto, dalam acara konferensi pers “Fenomena Serangga Tomcat”, di Jakarta, Senin (26/3), menjelaskan, kumbang bernama latin Paederus Fuscipes ini, sangat potensial untuk digunakan dalam pengendalian hama wereng batang (coklat dan punggung putih), serta wereng daun hijau.

Sarsito menjelaskan, dalam satu hari seekor kumbang tomcat dapat memangsa 3,58 ekor wereng batang. Hal ini tentu sangat membantu petani dalam menjaga area persawahan. Pelepasan predator ini pada tanaman kedelai juga secara nyata dapat menekan hama perusak daun/polong kedelai.

Sarsito menduga, musim panen adalah pemicu perkembangan pesat tomcat. Hal ini dikarenakan persediaan bahan makannnya yang tinggi, yakni wereng batang coklat dan hama lainnya. Sehingga perkembangan predatornya (dalam hal ini, tomcat) juga meningkat pesat.

Selain itu, banyaknya rumah penduduk, disertai pembangunan perumahan dan apartemen, di sekitar sawah atau bahkan di bekas lahan saswah, menjadi pemicu kumbang tomcat ini untuk “mampir”, karena mereka tertarik dengan cahaya.

Untuk itu, Sarsito mengimbau agar masyarakat secara berhati-hati menanggulangi tomcat, mengingat jasanya yang begitu besar bagi petani. “Mari kita bantu petani dengan melestarikan keberadaan kumbang tomcat. Boleh dibunuh, tapi jangan dimusnahkan populasinya,” ujar Sarsito. [WS]

Sumber: http://www.gatra.com/kesehatan/73-kesehatan/10550-kumbang-tomcat-sahabat-lama-petani

Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video.

Kompasiana menampung beragam konten yang menarik, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan dari semua lapisan masyarakat dengan beragam latar belakang budaya, hobi, profesi dan kompetensi. Keterlibatan warga secara masif ini diharapkan dapat mempercepat arus informasi dan memperkuat pondasi demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kompasiana juga melibatkan kalangan jurnalis Kompas Gramedia dan para tokoh masyarakat, pengamat serta pakar dari berbagai bidang, keahlian dan disiplin ilmu untuk ikut berbagi informasi, pendapat dan gagasan.

Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di sekitarnya. Tren Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) seperti ini sudah mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.

Kompasianer (sebutan orang-orang yang beraktifitas di Kompasiana) juga diberi kebebasan menyampaikan gagasan, pendapat, ulasan maupun tanggapan sepanjang tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Setiap konten yang tayang di Kompasiana menjadi tanggungjawab Kompasianer yang menempatkannya.

Selain itu, Kompasiana menyediakan ruang interaksi dan komunikasi antar-anggota. Setiap Kompasianer bisa menjalin pertemanan dengan Kompasianer lain. Mereka juga dapat berkomunikasi lewat email, komentar dan fitur interaktif lainnya.

Fasilitas dan fitur Kompasiana hanya bisa digunakan oleh pengguna internet yang telah melakukan registrasi di www.kompasiana.com/registrasi. Begitu proses registrasi selesai, pengguna akan mendapatkan blog pribadi dengan alamat http://kompasiana.com/namapengguna. Tanpa registrasi, pengguna hanya bisa membaca konten Kompasiana.

Dengan beragam fitur dan fasilitas interaktif tersebut, Kompasiana yang mengusung semangat berbagi dan saling terhubung (sharing. connecting.) telah berwujud menjadi sebuah Social Media yang informatif, interaktif, komunikatif dan mencerahkan bagi setiap orang.

Kompasiana dalam Sejarah

Nama Kompasiana diusulkan oleh Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas yang biasa menulis kolom “Politika”. Nama ini pernah digunakan untuk kolom khusus yang dibuat pendiri Harian Kompas, PK Ojong, berisi tulisan tajam mengenai situasi mutahir pada masanya. Kumpulan rubrik Kompasiana yang ditulis PK Ojong itu sendiri sudah dibukukan.

Ide pendirian Kompasiana berangkat dari dari fakta tidak semua jurnalis akrab dengan blog. Jangankan punya, membaca blog orang barangkali belum pernah. Jadi, merupakan langkah maju dan terobosan tak terduga manakala sejumlah jurnalis Kompas menyatakan diri ingin menjadi bagian dari Kompasiana dan bahkan sudah langsung mencurahkan pandangan dan gagasannya.

Pada tanggal 1 September 2008, Kompasiana mulai online sebagai blog jurnalis. Pada perjalanannya, Kompasiana berkembang menjadi Social Blog atau blog terbuka bersama para jurnalis harian Kompas dan Kompas Gramedia (KG) serta beberapa orang penulis tamu dan artis. Antusiasme para blogger dan netizen untuk ikut ngeblog di Kompasiana sangat besar sehingga dibuatkan satu menu khusus bernama Public. Pada 22 Oktober 2008, Kompasiana sebagai Social Blog resmi diluncurkan.

Dan baru satu tahun berjalan, Kompasiana telah mengalami perubahan besar—baik dari segi tampilan maupun format dan konsep keseluruhan. Dari sebatas jaringan blog jurnalis menjadi sebuah bentuk Social Media baru yang bisa diakses dan dikelola oleh semua orang. Termasuk Anda.

Sumber: http://www.kompasiana.com/about

AYO....MEMBUAT PATOGEN SERANGGA...!!!
15.19 | Author: Urip SR
Cendawan Beauveria bassiana ini ditemukan di pertanaman padi dapat menyerang hama-hama diantara lain wereng btang coklat (WBC), wereng daun hijau (WDH), wereng punggung putih (WPP), Penggerek Batang Padi, Penggulung daun, kepinding tanah, walang sangit, dll. Spora cendawan B. bassiana pada serangga inang nampak seperti kapur putih menutupi tubuh inangnya seperti pada tubuh WBC atau kepinding tanah.

Cendawan Metarrhizium anisopliae pada tanaman padi ditemukan dapat menginfeksi WBC, kepinding, dan kumbang. Perkembangan cendawan pada awalnya akan tumbuh berwarna putih pada segmen tubuh inang. Bila spora terbentuk, cendawan akan berubah warna menjadi hijau gelap apabila cendawan yang menyerang M. anisopliae atau berubah menjadi hijau muda bila cendawan yang menyerang M. flavovridae.

Nah, begini cara membuatnya:

Perbanyakan pada Media Padat (Jagung/Beras):

1.Sterilkan kotak pemindah, alat-alat, dan

tangan dengan NaOCL 1 %/alkohol 70%.

2.Masukkan media padat jagung/beras, tabung

isolat B. bassiana atau M. anisopliae, dan alat-alat

dalam kotak pemindahan (in case), kemudian

nyalakan lampu bunsen (bahan bakar spiritus).

3.Ambil tabung, cabut sumbat tabung dengan men-

jepit sumbat dengan jari tengah dan telunjuk

tangan kanan dekatkan ke lampu bunsen;

4.Potong isolat B. bassiana atau M. anisopliae

± 0,5 cm persegi dengan jarum ose yang telah

disterilkan di sekitar lampu bunsen.

5.Panaskan mulut tabung isolat dan tutup dengan

segera di sekitar lampu bunsen;

6.Buka kantong media jagung/beras, masukkan

potongan isolat ke dalam kantong dan bungkus

kantong dengan segera di sekitar lampu bunsen,

kemudian tutup/ikatlah yang rapi dengan karet

atau di staples;

7.Tulis nama petugas, nama cendawan, dan tanggal

perbanyakan pada kantong media, letakkan pada

wadah, dan simpan di tempat yang bersih.

Selamat mencoba...!!!!

.

Bagaimana Mengendalikan WBC ???
08.27 | Author: Urip SR
Rencana Tindak Lanjut:
1. Menurunkan populasi WBC pada tingkat tidak membahayakan (dibawah ambang pengendalian).
2. Pembentukan posko-posko pengendalian WBC mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat pusat.
3. Penataan pola tanam (tanam serentak dalam satu hamparan).
4. Koordinasi dan sinkronisasi di setiap lini.
5. Pengawalan ketat khusus bagi pertanaman yang tidak mempunyai gen ketahanan.
6. Penyediaan sarana pengendalian yang tepat.

Dalam Keadaan Darurat

1. Tindakan pengendalian:

a) Persemaian
Dengan pestisida racun kontak, dilanjutkan insektistatik pada populasi migran tinggi.
Seedbed Treatment dengan karbofuran
Apabila populasi dibawah ambang pengendalian selanjutnya gunakan agensia hayati, musuh alami WBC.
b) Pertanaman Vegetatif
Dengan racun kontak dan diikuti dengan insektistatik pada populasi migran tinggi
Pengeringan sawah terserang
Apabila populasi dibawah ambang pengendalian selanjutnya gunakan agensia hayati, musuh alami WBC.
c) Pertanaman generatif
Populasi migrasi dengan racun kontak, diulangi bila populasi diatas ambang pengendalian.

2. Eradikasi Pertanaman :

Ringan – Berat : eradikasi selektif
Puso : eradikasi total – pemusnahan – pembakaran.
Apabila ada gejala serangan virus kerdil rumput/kerdil hampa dieradikasi selektif dan dimusnahkan.

3. Bantuan dan Gerakan Pengendalian

Gerakan pengendalian secara terkoordinasi melalui dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten dengan melibatkan seluruh masyarakat dan petugas
Bantuan benih pada areal pertanaman yang puso.
Bantuan pestisida.

4. Sosialisasi dan Penyuluhan pada petani tentang Pengenalan dan Pengendalian WBC melalui:

Peningkatan kelembagaan penyuluhan dan peran PPL.
Peningkatan kelembagaan pengamatan dengan menambah tenaga SDM Pengamat Hama dan kelembagaan tani/kelompok tani/alumni SLPHT.
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilannya
Peningkatan kelembagaan penyuluhan dan peran PPL

5. Pertemuan koordinasi dan Konsolidasi pengamanan produksi dengan Kepala Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten.

6. Pelatihan teknik aplikasi pestisida yang memenuhi 6 tepat pada petugas Brigade Proteksi Tanaman, PHP, PPL, Seksi Perlintan Kabupaten dan Petugas Lapang lainnya di lokasi serangan.

UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN DALAM PENGELOLAAN WERENG BATANG COKLAT

Jangka pendek:

a) Menanam varietas yang mempunyai gen ketahanan yang berbeda, pengawalan ketat dilakukan apabila varietas yang ditanam tidak punya gen ketahanan (hibrida).
b) Peningkatan pengamatan populasi di lapang sejak awal persemaian.
c) Pemusnahan singgang/sisa tanaman yang terserang dengan eradikasi selektif/total.
d) Diutamakan penggunaan agens hayati, musuh alami dari WBC.
e) Penggunaan insektisida anjuran yang diijinkan dengan memenuhi syarat 6 tepat, dan penggunaannya semaksimal mungkin (spot treatment).

Jangka Menengah:

Penyelenggaraan SLPTT dan SLPHT tindak lanjut bagi petugas maupun petani.
Penanaman varietas yang tahan terhadap biotipe-3/biotipe-4 dengan tetua yang berlaianan, dengan pengawalan yang ketat dan monitoring yang intensif.
Pergiliran varietas dan pergiliran tanam (padi-padi-palawija)
Sistem tanam legowo.
Pemupukan berimbang sesuai dengan kondisi hara tanah setempat.
Menggerakkan alumni SLPHT
Pembentukan Posko Pengendalian yang berkelanjutan.
Mengaktifkan peran PPL.
Koordinasi antar instansi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten

Jangka Panjang:

Pembentukan varietas yang memiliki ketahanan vertikal dan horisontal (memiliki gen tahan biotipe-3, biotipe-4).
Peningkatan kemampuan SDM dalam penerapan PHT melalui pola SLPHT, dan SLPHT tindak lanjut, serta penerapan SLPTT.
Penguatan kelembagaan perlindungan tanaman, khususnya Brigade Proteksi Tanaman dan Regu Pengendalian Hama.
Penguatan sistem Perlindungan Tanaman melalui:
Mengaktifkan kelembagaan penyuluhan (PPL sebagai mitra petani)
Koordinasi dengan instansi terkait (pemerintah pusat, daerah), swasta dan stake holder lainnya.


Sumber:
Rencana Tindak Lanjut Dalam Upaya Pengendalian WBC
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2010
(Makalah Presentasi pada Workshop Nasional WBC di jakarta).
Sijampang Memantau Hujan
08.28 | Author: Urip SR
Kompas, Rabu, 9 Juni 2010 | 04:29 WIB

Hujan kerap kali berdampak banjir di Jabodetabek. Kondisi ini lebih lanjut juga sering menimbulkan kemacetan lalu lintas. Penyampaian informasi tentang hujan secara langsung kepada masyarakat melalui layanan pesan pendek diharapkan dapat membantu pengambilan langkah antisipatif.

Sistem layanan informasi itu dikembangkan tim peneliti dari Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Mereka menjulukinya Sijampang, yaitu akronim bebas dari Sistem Informasi Hujan dan Genangan Berbasis Keruangan.

Pada peluncuran Sijampang, Selasa (8/6), Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Jana Tjahjana Anggadiredja, Selasa, mengatakan, sistem informasi ini dikembangkan berbasis pada data pemantauan massa udara oleh stasiun radar yang dikelola BPPT dan data curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Radar Doppler C-band yang terbangun melalui program Hydrometeorological Array for Intraseasonal variation Monsoon Automonitoring (Harimau)—program kerja sama Indonesia dengan Jepang—dapat memantau kondisi atmosfer hingga radius sekitar 100 kilometer dari stasiunnya yang berada di Puspiptek Serpong. Adapun ketinggian awan hujan yang dapat terpantau radar berada 500 meter hingga 2.000 meter di atas permukaan bumi.

Lewat Twitter

Data analisis kondisi atmosfer itu kemudian dianalisis dan dipadukan dengan data curah hujan dalam peta spasial berbasis Google map, kata Direktur NEONet BPPT, Agus Wibowo.

Informasi itu ditampilkan dalam situs web NEONet (www.neonet.bppt.go.id/sijampang). Selain data spasial, Sijampang juga ditampilkan dalam bentuk teks yang dapat diakses melalui layanan Twitter dan wordpress.

Dalam data spasial itu akan ditampilkan lebih dari 100 titik-titik pantauan hujan, dengan klasifikasi hujan ringan, gerimis, sedang, dan lebat. Data diperbarui setiap enam menit atau near realtime. Sistem peranti lunak bebasis WebGIS digunakan untuk menganalisis data, memadukan, dan kemudian menampilkannya di web.

Kontributor masyarakat

Untuk memverifikasi informasi hujan, pada tahap awal program, pengelola Sijampang melibatkan para kontributor yang berdomisili di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sesuai dengan jangkauan radar, jelas Hartanto Sanjaya, anggota tim pengembang Sijampang.

Saat ini ada lebih dari 100 titik referensi dalam radius jangkauan radar, 105 km. Daerah yang terliput: seluruh Banten kecuali Ujung Kulon, seluruh DKI Jakarta hingga Kepulauan Seribu dan sebagian Jawa Barat, yaitu Karawang timur hingga Pelabuhanratu selatan.

Kini telah ada lebih dari 61 kontributor dari masyarakat. Pihak BPPT akan terus menambah jumlah kontributor melalui aktivitas Sijampang goes to school bulan Juli mendatang. Ada 50 sekolah dilibatkan sebagai kontributor. Mereka akan dikirimi data hujan di wilayahnya lewat SMS dan diharapkan mereka menjawab kondisi riil untuk konfirmasi.

Partisipasi publik bersifat aktif, yaitu kontributor mengirimkan data cuaca di lokasi mereka berada, sesuai titik referensi yang ada. Pada partisipasi pasif, kontributor akan menerima SMS dari operator Sijampang untuk menanyakan kondisi cuaca di titik referensi tertentu.

Pengembangan Sijampang

Dalam verifikasi data itu, jelas Udrekh, selaku Pimpinan Proyek Sijampang, timnya akan terus mengembangkan kemampuan pemantauan sistem tersebut dengan menambah informasi daerah rawan banjir, data pintu air, hingga mampu menampilkan prediksi banjir.

Berbasis data radar tersebut, tambah Hartanto, sejak dua tahun terakhir dikembangkan prediksi sebaran hama padi bacterial leaf blight (BLB) atau kresek yang mengacu pada curah hujan berskala lokal.

Diketahui, BLB merebak dalam dua minggu setelah curah hujan tinggi di daerah tertentu. Penerapan sistem di Karawang, dilakukan bekerja sama dengan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Karawang.

Data radar juga dikembangkan untuk prediksi banjir. Untuk itu dikembangkan model algoritme dengan memasukkan data terkait berupa tinggi muka air sungai yang terpantau oleh alat otomatis yang terpasang di DAS. Sistem ini dikembangkan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian PU.

Sementara itu, untuk program Sijampang, menurut Hartanto, informasi mengenai genangan masih belum memadai karena sebagian besar kontributor yang tidak berada di daerah genangan. Diharapkan, pada akhir tahun ini informasi genangan dapat disajikan lebih optimal.

Menurut Jana, penerapan Sijampang ke sejumlah daerah akan dilakukan bekerja sama dengan BMKG yang memiliki 22 stasiun radar. (YUNI IKAWATI)***