Dahulu sebelum Pasar Petarukan dibangun, di sebelah barat pasar adalah koplak dokar (terminal delman) bersebelahan dengan Ruko (rumah toko) milik Ibu Baedah (saudaranya Rini Pangestuti), nah pintu masuk pasar yang terletak ditengah, deret sebelah timur kira-kira 3 petak ruko terdapat penjual es dawet yang cukup terkenal saat itu, tepat di depan Ruko milik Ibunya Aminah (Kapangsari-Petarukan).

Seorang Ibu penjual es dawet, minuman khas rakyat. Begitu hapalnya sang Ibu karena setiap pulang sekolah selalu melewati pasar dan menikmati segelas es dawet dengan harga relatif murah, Rp.25,- per gelas. Kira-kira itu terjadi tahun 1980, masih duduk dibangku kelas satu SMP.

Minuman yang manis legit khas Jawa Tengah. Gabungan rasa manis gula jawa (gula aren) dan buah nangka ditambah dawet beras sebagai minuman penunda lapar yang sehat.

Dulu minuman dawet tidak begitu populer banget, tidak seperti sekarang terdapat merek dawet ayu yang sudah diklaim minuman khas Banjarnengara, sebenarnya sebelum dawet ayu go-publik, di daerah di Jawa Tengah minuman khas ini mudah dijumpai di pasar tradisional. Di pasar Petarukan sendiri hanya satu penjual es dawet yang cukup terkenal kala itu. Doeloe hanya menggunakan campuran tepung tapioka sebagai bahan dasar hinggá rasanya sangat kenyal. Dipadu dengan aroma pandan, buah nangka, dan gula aren langsung tercium saat saya mengaduknya. Waktu itu bekal sekolah cuma Rp.100,- namun selalu menyisakan Rp.25,- untuk membeli segelas es dawet, maklum lokasi SMPN terletak di Kebonsari Petarukan menuju ke rumah di Kecapang Petarukan Barat cukup jauh sekitar kurang lebih 5 km, biasanya kami berjalan kaki rombongan bersama teman-teman yang dari Kauman (Nurfalak, Rohman Aji, Akhirudin Jufri), persinggahan terakhir adalah saya di dukuh Kecapang. Nah, kalau sudah diganjal dengan segelas es dawet tidak terlalu capai, jalan selalu semangat, bau aroma sari daun pandan yang digunakan untuk memberikan warna hijau segar pada butiran dawet memberikan aroma wangi yang khas.

Menurut penuturan sang penjual, pemanisnya harus menggunakan gula aren, karena selain lebih manis , gula aren memiliki aroma lebih wangi.

Kini setelah 25 tahun dan pasar pun telah berpindah kearah utara, yang terletak di jalan Kartini menuju ke Desa Klareyan, masihkah ada kedai penjual es dawet kesukaanku?

Ah..., hari ini aku kangen dengan segelas es dawet sebagai pelepas dahaga dan penunda lapar. Juga canda riang sahabat-sahabatku waktu itu....!!!***

Salam manis semanis es dawet untuk sahabatku Nurfalak, Rohman Aji, Akhirudin Jufri dan satu yang hampir terlupa Slamet Budi Raharjo.


This entry was posted on 01.56 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 komentar:

On 25 April 2009 08.29 , vin mengatakan...

Tahukah kamu, minuman apa di dunia ini yang paling mahal? White 1958 wine? capuccino latte? ato bahkan cola zero? Temukan jawabannya di sini, kamu bakal ga nyangka, minuman termahal di dunia ternyata adalah http://healthy-drink.vinensia.com/2009/04/most-expensive-drink-in-world.html

 
On 6 Mei 2009 22.21 , mileniansa2009 mengatakan...

Mungkin yang dimaksud Soleh Udin Jupri, bukan Akhirudin Jufri.
Mas Udin kakak saya, Bang Urip.

 
On 17 Desember 2009 16.19 , Anonim mengatakan...

Trima kasih kawan atas komennya
Betul udin ada 2 (kebetulan ke 2 nya sahabatku semua)Salam