Hawar Daun Bakteri/Kresek
11.14 | Author: Urip SR
Hawar Daun Bakteri (HDB) dikenal sebagai penyakit kresek, umumnya serangan berkembang pada musim hujan maupun musim kemarau yang basah. Hawar daun bakteri telah menjadi penyakit padi penting, dan tersebar di seluruh Indonesia. Akibat serangan penyakit kresek dapat menurunkan produksi secara nyata. Penyakit ini menyebar terbawa air, angin, benih, dan infeksi terjadi melalui stomata.
Perkembangan penyakit HDB sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu relatif tinggi. Pada musim hujan yang hari-harinya berawan, penyakit berkembang sangat baik. Penanaman varietas rentan dengan jarak tanam yang rapat, penggunaan pupuk nitrogen (N) berlebihan, rendahnya pemupukan yang mengandung Kalium (K) dan fosfor (P) akan mendorong perkembangan patogen tersebut.
Gejala
Penyakit HDB menghasilkan dua gejala yang khas yaitu kresek dan hawar. Kedua gejala tersebut dapat dibedakan sebagai berikut:
Kresek
Gejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari setelah tanam (persemaian atau tanaman muda).
Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat dan menggulung.
Dalam keadaan parah seluruh daun menggulung, layu dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerekbatang padi atau terkena air panas.
Hawar
Merupakan gejala yang paling umum yang dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai perkembangananakan sampai fase pemasakan.
Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu-abu (kekuning-kuningan) umumnya pada tepi daun.Dalam perkembangannya gejala akan meluas membentuk hawar (blight) dan akhirnya daun mengering.
Dalam keadaan lembab terutama di pagi hari, koloni bakteri berupa butiran berwarna kuning keemasan dapatdengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar.
Faktor yang mempegaruhi perkembangan HDB
Kondisi kelembaban tinggi, dan suhu relatif tinggi,
Penanaman varietas rentan,
Jarak tanam terlalu rapat,
Penggunaan pupuk Nitrogen (N) berlebihan (≥ 300 kg urea/ha).
Pengendalian
Penanaman varietas tahan antara lain varietas Conde, Angke, Mekongga, Inpari 5, Inpari 10, dan Merawu,
Persemaian di tempat yang drainasenya baik,
Pemakaian pupuk nitrogen tidak terlalu tinggi,
Tandur jajar dengan sistem legowo 2:1,
Menggunakan agens antagonis Corynebacterium,
Penggunaan pestisida efektif yang terdaftar.
Cara Aplikasi Corynebacterium
Perlakuan pada benih (perendaman benih) sebelum sebar selama ± 15 menit, atau penyemprotan bibit di persemaian,
Penyemprotan pada tanaman padi dilakukan pada umur 14, 28, dan 42 hari setelah tanam,
Aplikasi Corynebacterium dapat dicampur perekat, baik perekat yang membuat sendiri (kanji/tepung ubi kayu)
atau perekat yang telah tersedia di kios saprotan,
Sprayer dibersihkan dari sisa-sisa pestisida,
Jangan mencampur agens antagonis dengan pestisida.
Dosis
Dosis agens antagonis Corynebacterium: 2,5 liter/ha. Konsentrasi larutan 5 cc/liter air, dengan volume semprot 500 liter/ha.
Waktu Aplikasi
Aplikasi dilakukan pada sore hari, mulai pkl. 15.00 atau hindari aplikasi saat matahari terik, untuk mencegahrusaknya bakteri karena pengaruh sinar matahari.
.
|
This entry was posted on 11.14 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: