Pembuatan Video Dokumenter Serangan Wereng Batang Coklat dan Pengendaliannya memakan waktu hampir 1 (satu) tahun. Berangkat dari keprihatinan salah seorang peneliti dari Antropologi (FISIP) dan Biologi (FMIPA) Universitas Indonesia bekerja sama dengan antropologi dari The Australian National University, Prof. James J. Fox (salah seorang penggagas Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu di Indonesia) akhir tahun 1980-an tengah melakukan pemantauan hal serangan hama wereng batang coklat dan penyakit yang meledak di berbagai wilayah di P. Jawa selama 2 tahun terakhir. Rasa prihatin akan kondisi ini setelah dua puluh tahun program PHT dilaksanakan di Indonesia. Penelitian dari Ibu Yunita dan tim juga terkait dengan kegiatan tim dalam mendampingi petani untuk mengantisipasi perubahan cuaca/iklim melalui kegiatan pengukuran curah hujan dan pengamatan agroekosistem/agrometeorologi di beberapa lokasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, merupakan bagian dari kerjasama pembuatan film tersebut, karena sebagian lokasi shooting dan narasumber dilaksanakan di Jatisari. Belum lagi didukung dari SDM Jatisari termasuk dari Laboratorium Entomologi, Laboratorium PCR dan pelaksana lapang yang memperagakan langsung (praktek) lapang pendugaan populasi wereng batang coklat (WBC) melalui sweeping dan identifikasi populasi WBC dan musuh alami.
Kehadiran video dokumenter serangan WBC dan pengendaliannya terdiri dari 2 volume, yang menyoroti tentang Wereng Batang Coklat di Sawah Petani (Vol.1) dan Sawah Tangguh di Tangan Petani (Vol.2), sangat membantu petugas dalam penyuluhan tentang pengendalian OPT khususnya WBC. Film Video Dokumenter ini diproduksi oleh:
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia
Academy Professorship Indonesia Bidang Ilmu Sosial & Humaniora
The Research School of Asia the Pacific The Australian National University.
Yang didukung oleh PT. Medco Intidinamika.
(Bersambung...!)
.
This entry was posted on 15.28 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: