Menyusuri Priangan Selatan
09.37 | Author: Urip SR
Episode: Pengamatan, Peramalan OPT Serealia dan Dampak Fenomena Iklim di Bandung, Garut dan Sumedang. Tanggal 2-4 Desember 2009.

Dalam rangka program peningkatan ketahanan pangan melalui kegiatan Pengamatan, Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak fenomena Iklim (DFI), melaksanakan surveilans ke daerah Priangan Selatan meliputi Kab. Bandung, Garut, dan Sumedang. Berikut pengalaman di lapang dan sekilas mengenal daerah tatar Pasundan yang terkenal elok pemandangannya. Kata Bimbo: "Tanah Pasundan tercipta tatkala Tuhan tersenyum" wajar saja apabila pemandangan alam yang sungguh indah banyak terhampar di wilayah ini.
Surveilans OPT berdasarkan pengamatan keliling yang daerah sasarannya sumber informasinya berasal dari petugas POPT, pengamatan keliling ini untuk mengetahui kondisi tanaman pada saat survey, tanaman terserang dan terancam, luas pengendalian, bencana alam, serta mencari informasi tentang penggunaan, peredaran dan penyimpanan pestisida.

Penentuan daerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadap OPT utama di daerah tersebut, stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknya terhadap sumber serangan.

Di kabupaten Bandung daerah yang disurvey adalah kecamatan Baleendah Pameupeuk, dan kec. Arjasari. Kondisi pertanaman dari panen s/d pengolahan tanah (persiapan tanam). Varietas yang ditanam bervariasi dari varietas ciherang sampai dengan varietas lokal yakni varietas sarinah dan varietas jembar.

Prospek OPT yang berkembang pada MH.2009/2010

Kemungkinan harapan OPT yang berkembang pada MH. 2009/2010 di Laboratorium PHPTPH wilayah Bandung adalah WBC, Tikus dan penyakit kresek mengingat didaerah ini masih banyak tanam padi terus menerus dan masih terjadi hujan sehingga dapat memicu perkembangan OPT tersebut.

Rekomendasi Pengendalian OPT:


1. Wereng Batang Coklat :

Pengendalian secara kultural dan penanaman varietas yang tahan sangat dianjurkan (Widas, Cisantana, Ciherang, dll). Pemberian pupuk K untuk mengurangi kerusakan. Aplikasi pestisida bila diperlukan (alternatif terakhir).


2. Penggerek Batang Padi (PBP)

Ambang ekonomi PBP adalah 10% rumpun terserang, 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting). Perlu diketahui bahwa bila kerusakan sudah terlihat maka tindakan pengendalian sudah terlambat atau tidak efektif lagi.

Aplikasi insektisida dilakukan bila keadaan serangan melebihi ambang ekonomi atau jika populasi ngengat meningkat pada saat tanaman fase generatif. Gunakan insektisida yang berbahan aktif: karbofuran, bensultap, bisultap, karbosulfan, dimehipo, amitraz atau fipronil.

3. Tikus:
Pemantauan dini populasi tikus disekitar tanggul irigasi, pematang, jalan desa, dan batas kampung.

Lakukan sanitasi dan buru tikus ditempat ditemukannya gejala tersebut.

Perburuan dibantu anjing, jala perangkap dan emposan belerang.

Gropyokan massal, di berbagai habitat tikus dengan cara menggali lubang, memompa lubang dengan lumpur atau air, emposan belerang.

Pemagaran pesemaian dengan lembaran plastik dilengkapi bubu perangkap tikus (terutama daerah endemis).

4. Penyakit Kresek/BLB:
Penggunaan varietas tahan seperti code dan angke.

Sanitasi seperti membersihkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi/sakit.

Jika menggunakan kompos jerami, pastikan jerami dari tanaman sakit sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam pindah.

Gunakan benih atau bibit yang bebas dari penyakit kresek/BLB.

Gunakan pupuk nitrogen sesuai takaran anjuran.

Jarak tanam jangan terlalu rapat.

Pencegahan gunakan agens hayati corynebacterium dengan aplikasi sebanyak 4 kali ( rendam benih 15 menit, semprot pada umur tanaman 2 MST, 4 MST, dan 6 MST).


This entry was posted on 09.37 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: