Meraih Angan di Hutan Sengon
07.31 | Author: Urip SR
Menanam Sengon Untuk Menambah Penghasilan Sampingan

Pekalongan (27/11/2008) Tanaman sengon (Albazia = Paraserianthes faltacataria orang Sunda menyebut jeunjing laut, di tanah Ternate disebut Tawa (ga nyambung kan?) Tapi ”What its name?” , apalah arti sebuah nama, yang jelas dari tanaman ini akan dikupas dari sisi bisnisnya yang cukup menjanjikan, banyak orang kaya baru (OKB) di wilayah Kajen, Pekalongan , Jawa Tengah gara-gara menanam sengon ini. Ini merupakan catatan tercecer saya selama ekspedisi pest list, dibuang sayang lebih baik didokumentasi aja di web blog tentu akan bermanfaat bagi orang lain minimal untuk diri sendiri.
Sengon dalam bahasa latin disebut Albazia = Paraserianthes falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut :
a. Jawa :jeunjing, jeunjing laut (sunda), kalbi, sengon landi, sengon laut, atau sengon sabrang (jawa).
b. Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore)
Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman sengon adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter dengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV - V.
Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan lain-lainnya.
Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.
Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon, maka banyak pohon sengon ditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHUTBUN untuk menggalakan ‘Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.

Selepas sholat dzuhur matahari siang itu begitu teriknya, namun karena dibawah lebatnya ponon durian sehingga rasa panas terhalang oleh kanopi daun yang lebat. Pemandu kami Pak Haji Badri mengajak istirahat sejenak di saung (gubuk kecil ditengah tegalan/kebun). Sekitar 200 meteran dari saung/gubuk terlihat sawah terassering sedang menguning, tak jauh dari sawah tersebut sederetan pepohonan sengon berjejer rapi dengan jarak tanam 3x3 m tumbuh subur menjulang tinggi. Ada sekitar 200 pohon sengon sengaja di tanam di tanah sawah, wah..., telah terjadi alih fungsi lahan disini rupanya, aku menggerutu sendirian. Sawah produktif telah disulap menjadi kebun sengon. Rasa penasaran akhirnya membawaku ke diskusi kecil bersama Pak Haji.
”Kenapa terjadi alih fungsi lahan Pak?”
”Apa motivasi mereka Pak?”
Sederetan pertanyaan saya luncurkan ke Pak Haji yang tahu banyak masalah bisnis sengon di wilayah ini. Berikut penuturannya.
”Semua terjadi karena faktor ekonomi, tanam sengon lebih menguntungkan, tanam tanpa perawatan paling lama 7 tahun memetik hasil”. Demikian kata Pak Haji.
Angin berhembus perlahan, aku termenung...dalam hati aku membenarkan semua kata-kata Pak Haji. Bagaimana tidak tergiur sederetan pohon sengon yang berumur tujuh tahunan dengan diameter batang 70 – 80 cm laku dijual Rp.200.000,- per glondong, di kebun yang luasnya kurang lebih 0,5 hektar itu populasi pohon sengon 200 batang.
Dari hasil penjualan kayu sengon glondongan itu petani mampu menghasilkan 40 juta sekali panen. Sedangkan bonggol sengon sisa penebangan masih bisa tumbuh (trubus) lagi sekitar 2-3 tahun bisa panen, ditebang untuk keperluan industri kertas dan kayu lapis.
Pertumbuhannya yang cepat dan tanpa perawatan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak menyebabkan beberapa petani disini merelakan sawahnya ditanami sengon.
Jelas faktor ekonomi bermain disini, betapa menggiurkan berusaha tani sengon, banyak orang-orang disini meraih angan dengan menanam sengon. Dengan batang sengon ini banyak yang naik haji, membeli mobil, motor atau bahkan meluaskan usaha kebunnya dengan menyewa lahan lainnya.
Kebun sengon yang paling luas adalah di Kec. Doro, berdasarkan hasil wawancara dengan petani dan keliling selama perjalanan ternyata dari budidaya sengon ini juga saling terkait dengan bisnis lainnya seperti bisnis penjualan bibit sengon, usaha penggergajian kayu dan jasa pengepul kayu glondongan.
Geliat roda ekonomi di kecamatan ini begitu pesatnya, seiring kemajuan jaman yang terus berjalan tanpa berhenti.
Dari usaha bibit sengon ini saja produksi lokal tidak mencukupi permintaan pasar yang semakin tinggi sampai didatangkan dari daerah lain (Weleri, Kendal). Harga bibit sengon berkisar antara Rp.500 – 1000,- perbatang tergantung panjang bibitnya.
Usaha penggergajian pun tidak kalah sibuknya, setiap hari mesin-mesin penggergajian memotong-motong glondongan kayu sengon sesuai permintaan. Pemilik usaha ini pun menangguk rezeki dari booming kayu sengon. Dari 1 meter kubik ongkos gergaji dipatok harga Rp. 75.000,- (1 meter kubik berisi 20 glondong kayu berdiameter 20 cm).
Untuk membuka usaha ini tidak gampang karena setiap pengusaha harus mengikuti pendidikan dan latihan (Diklat) selama 16 hari yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah. Seperti hasil penuturan Sudiharto (34) salah satu pengusaha yang ditemui penulis. Bahwa untuk mengikuti diklat ini mereka harus mengeluarkan kocek sekitar Rp. 7 juta dengan meteri pelajaran antara lain: 1) Pengenalan jenis kayu, 2) Pengenanalan kualitas kayu, 3) Cara menghitung kubikasi kayu olahan, dan 4) Mendapat sertifikat sebagai usaha penggergajian yang legal (karena bisa memproses/mengeluarkan surat semacam SAKO*) untuk petani yang menggunakan jasa ini. Karena menebang pohon sengonpun tidak sembarangan harus ada ijin dan produk kayu olahannya harus mendapatkan legalitas dari pengusaha penggergaji yang telah ditunjuk oleh Dinas Kehutanan (Perizinan mengolah kayu dari hutan rakyat).
Walaupun tumbuh dipekarangan sendiri apabila mau ditebang wajib lapor ke Dinas terkait, dan Rumah penggergajian akan mengeluarkan surat yang menjelaskan asal usul kayu (hal ini diterapkan untuk menghindari ilegal logging).
Angin kembali bertiup, langit cerah berawan menutupi sinar matahari yang mulai redup, tak terasa waktu menunjukkan pk.15.30 WIB, obrolan menjelang sore itu ditutup dengan sebatang jie sam soe yang mulai mengepul ke awan terbang membawa sejuta angan di hutan sengon. Ah,..betapa manisnya meraih angan.(USR)

Ket: SAKO = Surat Angkut Kayu Olahan
FotoSengon diunduh dari Indonetwork

Ucapan terima kasih kepada Bpk H. A Badri, Mas Sudiharto di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Pekalongan. Sekali lagi trima kasih banyak atas segala informasinya. Lain kali saya akan datang lagi. Mungkin mau hunting foto
This entry was posted on 07.31 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 komentar:

On 21 Mei 2009 10.25 , Riyanto mengatakan...

Mau tanya harga tanahnya perhektar berapa?

 
On 30 April 2010 05.42 , Abdul mengatakan...

"Dari 1 meter kubik ongkos gergaji dipatok harga Rp. 75.000,- (1 meter kubik berisi 20 glondong kayu berdiameter 20 cm). " bisa nanya, dari kutipan diatas, 1 glondong panjang berapa meter ya?

 
On 6 Juli 2010 03.38 , John mengatakan...

Pak, stock pohon sengonya masih ada ?
Hub John 081938057898 (serius)